Bupati Kaur Genjot Infrastruktur Demi Sentra Durian dan Sawit
KAUR — Upaya mengerek produktivitas perkebunan unggulan di Kabupaten Kaur terus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Bupati Kaur, Gusril Pausi, menempatkan pengembangan infrastruktur se...
KAUR — Upaya mengerek produktivitas perkebunan unggulan di Kabupaten Kaur terus mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Bupati Kaur, Gusril Pausi, menempatkan pengembangan infrastruktur sebagai fondasi utama yang tidak bisa ditawar lagi. Menurutnya, tanpa akses transportasi yang memadai, potensi besar di kawasan sentra durian dan kelapa sawit Cawang Kidau, Desa Manau, hanya akan menjadi mimpi yang tertahan lumpur.
Wilayah Cawang Kidau telah lama dikenal sebagai lumbung durian berkualitas dan kelapa sawit yang menjanjikan. Namun, kondisi jalan yang rusak parah selama musim hujan sering kali memutus rantai distribusi. Petani terpaksa menahan hasil panen lebih lama atau melepasnya dengan harga anjlok karena biaya angkut membengkak. "Keadaan ini tidak boleh dibiarkan berlarut. Kita harus berani membangun, sebab setiap rupiah yang ditanam di infrastruktur akan kembali berlipat melalui kesejahteraan petani," tegas Gusril Pausi dalam sebuah kesempatan.
Potensi Terpendam yang Butuh Jalan Keluar
Data dari Dinas Pertanian setempat menunjukkan bahwa luasan kebun durian di Cawang Kidau mencapai ratusan hektare dengan varietas lokal yang mulai dilirik pasar nasional. Sementara itu, perkebunan kelapa sawit rakyat juga terus bertambah, menunggu sentuhan kebijakan yang memudahkan pengangkutan tandan buah segar ke pabrik pengolahan. Sayangnya, potensi sebesar ini masih terhambat oleh akses jalan desa ke kecamatan yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saat cuaca buruk. Truk pengangkut sawit kerap terperosok, mengakibatkan buah membusuk sebelum sampai tujuan.
Bupati mengungkapkan bahwa pemerintah kabupaten telah menyusun rencana induk pengembangan kawasan agropolitan di Kaur Utara, dengan Cawang Kidau sebagai salah satu titik prioritas. Program itu mencakup pengerasan dan pengaspalan jalan utama, pembangunan jembatan penghubung, serta normalisasi parit-parit yang kerap meluap. "Kami sudah mengalokasikan anggaran khusus tahun ini. Bukan hanya mengandalkan dana pusat, tetapi APBD kita arahkan untuk membongkar isolasi ini," ujarnya.
Dari Jalan Produksi ke Pasar Modern
Lebih dari sekadar membangun badan jalan, Pemkab Kaur juga merancang sistem logistik terpadu. Langkah ini mencakup pembangunan gudang penyimpanan sementara berkapasitas besar di dekat sentra produksi. Gudang tersebut diharapkan mampu menampung durian dan menjaga kesegarannya sebelum diangkut ke kota-kota besar seperti Bengkulu, Palembang, atau bahkan Jakarta. Untuk komoditas sawit, kerja sama dengan koperasi dan perusahaan inti akan diperkuat agar petani bisa langsung menikmati harga tandan yang kompetitif.
Gusril Pausi menambahkan bahwa percepatan infrastruktur bukan semata soal aspal dan beton, tetapi juga menyangkut pembenahan tata kelola air. Saluran irigasi teknis akan dibangun untuk mendukung budi daya durian yang sensitif terhadap kekeringan. "Pohon durian butuh air yang cukup, terutama saat pembungaan. Jika pengairan terkendali, hasil panen bisa naik dua kali lipat," jelasnya. Dengan sistem drainase yang baik, risiko banjir yang selama ini menggenangi kebun pun dapat diminimalkan.
Multiplier Effect yang Dinanti Warga
Pembangunan akses ini diyakini akan mengubah wajah ekonomi Desa Manau dan sekitarnya. Ketika jalur distribusi lancar, pelaku usaha kecil dan menengah akan bermunculan. Pabrik pengolahan durian, misalnya, akan lebih tertarik mendirikan unit di dekat sumber bahan baku. Ini menciptakan lapangan kerja baru bagi warga lokal. Para pemuda desa yang tadinya merantau bisa kembali dan terlibat dalam rantai nilai agribisnis.
"Kami ingin Cawang Kidau bukan hanya dikenal sebagai penghasil durian lezat, tetapi juga sebagai model pengembangan kawasan perkebunan berbasis infrastruktur yang modern," imbuh Bupati. Ia optimistis, dalam dua tahun mendatang, volume dan kualitas durian dari wilayah itu mampu bersaing di pasar ekspor, setidaknya ke negara-negara ASEAN yang menggemari durian asal Sumatera. Sementara itu, produktivitas sawit rakyat diproyeksikan naik 30 persen begitu jalan operasional rampung dikerjakan.
Sejumlah tokoh masyarakat setempat menyambut baik rencana ini. Mereka mengaku sudah puluhan tahun menantikan akses layak yang bisa mengeluarkan mereka dari jerat kemiskinan. "Selama ini kami seperti terpenjara oleh geografis sendiri. Kalau jalan bagus, anak-anak kami tidak perlu susah payah menjual durian ke pasar kecamatan," ujar seorang petani saat diwawancarai.
Kolaborasi Lintas Sektor
Pemerintah Kabupaten Kaur tidak bekerja sendirian. Pihaknya menggandeng Balai Pelaksana Jalan Nasional, Dinas PUPR provinsi, serta mengundang partisipasi perusahaan sawit melalui program tanggung jawab sosial perusahaan. Bupati menegaskan bahwa skema kolaborasi ini penting agar beban anggaran tidak semuanya bertumpu pada APBD yang relatif terbatas. Ia juga mendorong keterlibatan TNI dalam program TNI Manunggal Membangun Desa untuk pengerjaan fisik awal di titik-titik sulit.
"Kita bangun dari ujung ke ujung. Jalan ini bukan untuk segelintir orang, tapi untuk semua rakyat Kaur. Ketika petani sejahtera, ekonomi daerah akan bergerak. Ujungnya, pendapatan asli daerah ikut terdongkrak dan kita bisa membangun lebih banyak lagi fasilitas publik," pungkas Gusril Pausi.
Dengan sinergi semua pihak, sentra durian dan sawit Cawang Kidau diharapkan segera lepas landas. Infrastruktur menjadi kunci yang membuka pintu kemajuan. Kini, warga Desa Manau tinggal menanti suara alat berat yang akan mengawali babak baru bagi tanah kelahiran mereka.
Comments (0)