Bentrokan di Adonara Tewaskan Tiga Warga, Evakuasi Terkendala

Flores Timur, NTT — Suasana mencekam masih menyelimuti Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pascabentrokan antarwarga yang terjadi pada Kamis sore. Peristiwa nahas i...

Jul 19, 2026 - 12:55
0 0
Bentrokan di Adonara Tewaskan Tiga Warga, Evakuasi Terkendala

Flores Timur, NTT — Suasana mencekam masih menyelimuti Kecamatan Adonara Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, pascabentrokan antarwarga yang terjadi pada Kamis sore. Peristiwa nahas itu menewaskan tiga orang dan melukai belasan lainnya. Hingga Jumat pagi, satu jenazah korban masih tergeletak di jalan utama desa karena belum bisa dievakuasi akibat konsentrasi massa yang masih tinggi dan emosional.

Informasi yang dihimpun dari kepolisian setempat menyebutkan, bentrokan dipicu oleh perselisihan lahan yang sudah berlangsung lama antara dua kelompok warga dari desa tetangga. Aksi saling serang menggunakan senjata tajam dan batu terjadi secara sporadis sejak pukul 15.00 WITA. Tiga korban tewas diketahui meninggal akibat luka tusuk dan pukulan benda tumpul di kepala. Satu di antaranya meninggal di tempat, sementara dua lainnya menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan menuju puskesmas.

Kronologi dan Situasi Terkini

Menurut saksi mata di lokasi, pertikaian dimulai ketika sekelompok warga dari Desa Lamahoda berusaha membuka akses jalan yang menurut mereka diblokade oleh warga Desa Woloklibang. Tidak ada mediasi yang cukup, sehingga suasana cepat memanas. Dalam hitungan menit, puluhan orang dari kedua desa saling berhadapan dengan parang, tombak, dan kayu. Polisi yang tiba di lokasi kesulitan membubarkan massa karena jumlahnya yang besar dan suasana yang sangat emosional.

Hingga Jumat siang, aparat gabungan TNI-Polri masih berjaga di titik-titik rawan. Kapolres Flores Timur, AKBP Rudi Hartono, dalam keterangan pers mengatakan bahwa pihaknya terus berupaya melakukan pendinginan situasi. “Kami meminta kedua belah pihak untuk menahan diri. Evakuasi jenazah masih tertunda karena kami khawatir akan memicu gelombang baru jika dilakukan dalam kondisi massa masih berkumpul,” ujarnya.

Satu jenazah yang belum dievakuasi diketahui berada di tengah jalan utama antara kedua desa. Warga setempat mengaku takut mendekati lokasi karena khawatir dianggap sebagai provokator. Tim medis dari Puskesmas Adonara Timur sudah siaga, namun belum bisa menjangkau korban. Sementara itu, dua jenazah lainnya sudah dibawa ke rumah sakit umum daerah untuk diautopsi.

Dampak dan Upaya Pemerintah Daerah

Bentrokan ini menyebabkan puluhan rumah warga rusak, sebagian hangus terbakar. Sebanyak 47 warga dievakuasi ke tempat pengungsian sementara di balai desa dan gereja setempat. Pemerintah Kabupaten Flores Timur langsung menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari. Bupati Flores Timur, Antonius Liwu, meninjau lokasi pada Jumat sore dan berjanji akan memberikan santunan bagi keluarga korban.

“Kami tidak akan tinggal diam. Penyelesaian akar masalah lahan harus segera dilakukan melalui musyawarah adat dan jalur hukum. Saya minta semua pihak untuk tidak mudah terprovokasi,” kata Bupati di sela kunjungannya. Ia juga menginstruksikan Dinas Sosial dan BPBD untuk mendistribusikan bantuan logistik ke lokasi pengungsian.

Konflik agraria di Adonara Timur sebenarnya bukan hal baru. Wilayah ini dikenal dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi di lahan terbatas. Sengketa batas desa dan kepemilikan tanah sering kali berujung pada bentrokan fisik. Tokoh adat setempat, Bapa Kornelis, menyesalkan insiden ini dan mengajak kedua desa untuk kembali ke meja perundingan. “Tanah ini warisan leluhur, bukan untuk diperebutkan dengan darah. Mari kita selesaikan dengan adat,” ujarnya.

Langkah Hukum dan Pengamanan

Polres Flores Timur telah menetapkan 12 orang sebagai tersangka pengeroyokan dan pembakaran. Mereka saat ini ditahan di Mapolres untuk pemeriksaan lebih lanjut. Petugas juga menyita sejumlah senjata tajam dan alat bukti lainnya. Kapolres menambahkan bahwa patroli gabungan akan diperketat selama beberapa hari ke depan untuk mencegah aksi balas dendam.

Di sisi lain, masyarakat diharapkan tetap tenang dan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Hoaks dan ujaran kebencian di media sosial justru dapat memperkeruh suasana. Pemerintah bersama TNI-Polri mengimbau seluruh elemen untuk bersama-sama menjaga kondusifitas wilayah.

Jenazah korban yang masih tergeletak di jalan diharapkan bisa dievakuasi pada Sabtu dini hari setelah situasi benar-benar dingin. Tim SAR dan PMI sudah menyiapkan ambulans dan kantong jenazah. Keluarga korban terus mendesak agar proses evakuasi dipercepat, namun keselamatan semua pihak tetap menjadi prioritas utama.

Peristiwa di Adonara Timur ini menjadi pengingat bahwa konflik sumber daya di daerah pedesaan masih menjadi tantangan serius. Penyelesaian komprehensif melalui pendekatan adat, hukum, dan pembangunan wilayah sangat diperlukan agar tragedi serupa tidak terulang. Hingga berita ini diturunkan, suasana di lokasi mulai berangsur tenang dengan semakin banyaknya tokoh agama dan adat yang turun tangan menjadi jembatan perdamaian.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User