Bandar Lampung — Erupsi Gunung Anak Krakatau Hambat Aktivitas Nelayan
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai memicu dampak berantai terhadap sektor kelautan dan perikanan tangkap di Kota Band
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda mulai memicu dampak berantai terhadap sektor kelautan dan perikanan tangkap di Kota Bandar Lampung. Sebaran material abu vulkanik yang disertai dinamika cuaca maritim yang tidak menentu memaksa ratusan nelayan tradisional membatasi jarak jelajah hingga menyandarkan perahu mereka di dermaga, menyebabkan pasokan komoditas perikanan laut di sejumlah pasar tradisional mengalami penyusutan.
Berdasarkan data pemantauan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Bandar Lampung, sedikitnya 154 unit kapal motor dan perahu nelayan tidak dapat beroperasi secara optimal akibat tingginya risiko keselamatan pelayaran serta penurunan efisiensi tangkapan di perairan Teluk Lampung dan sekitarnya.
Tiga Kecamatan Pesisir Alami Tekanan Terbesar
Kondisi ini memberikan pukulan langsung bagi masyarakat pesisir yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor perikanan skala kecil dan menengah. Penumpukan armada tangkap terlihat di sejumlah pangkalan pendaratan ikan tradisional menyusul rekomendasi keselamatan terkait aktivitas erupsi gunung api bawah laut tersebut.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bandar Lampung, Ricardo BNW, mengonfirmasi bahwa sebaran dampak erupsi ini paling nyata dirasakan oleh komunitas nelayan yang bermukim di wilayah pesisir timur dan selatan kota.
“Wilayah yang paling terdampak langsung berada di tiga kecamatan utama, yaitu Kecamatan Panjang, Telukbetung Timur, dan Bumi Waras. Jumlah nelayan di wilayah Kecamatan Panjang, Telukbetung Timur, dan Bumi Waras tercatat kurang lebih 688 nelayan,” kata Ricardo.
Menurut Ricardo, konsentrasi nelayan di ketiga kawasan tersebut menghadapi kendala operasional berlapis. Selain terbatasnya jarak pandang di laut akibat paparan debu vulkanik, perubahan suhu perairan dan pergerakan arus laut turut mengubah pola migrasi kawanan ikan pelagis, sehingga efisiensi melaut menurun drastis.
Dampak Ekonomi dan Penurunan Pasokan Pasar
Penurunan frekuensi melaut secara langsung menekan volume hasil tangkapan harian yang masuk ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Situasi ini mulai memicu fluktuasi harga ikan konsumsi di tingkat pengecer. Sejumlah komoditas seperti tongkol, kembung, dan selar mengalami kenaikan harga rata-rata akibat terbatasnya pasokan segar dari nelayan lokal.
Beberapa poin utama yang menggambarkan dampak erupsi terhadap sektor perikanan Bandar Lampung meliputi:
- Penurunan Volume Tangkapan: Hasil produksi tangkapan nelayan menyusut drastis karena perahu enggan menembus zona tangkap yang terpapar abu vulkanik.
- Peningkatan Biaya Operasional: Jarak tempuh melaut menjadi lebih jauh untuk menghindari sebaran kabut vulkanik, memicu pembengkakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM).
- Risiko Kerusakan Mesin: Partikel abu vulkanik yang jatuh ke permukaan laut berisiko menyumbat saluran pendingin mesin kapal motor tempel.
- Gangguan Kesejahteraan Keluarga: Sekitar 688 nelayan di tiga kecamatan terdampak menghadapi penurunan pendapatan harian secara signifikan.
Para nelayan kini cenderung memilih aktivitas alternatif, seperti memperbaiki jaring, merawat lambung perahu, atau hanya melakukan penangkapan ikan jarak dekat di area perairan teluk yang relatif terlindung.
Langkah Antisipasi dan Imbauan Keselamatan
Pemerintah Kota Bandar Lampung melalui dinas terkait terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) guna memperbarui status keamanan jalur pelayaran rakyat di Selat Sunda.
Pihak berwenang mengimbau seluruh nakhoda kapal perikanan untuk tidak mendekati radius bahaya yang telah ditetapkan otoritas kebencanaan, selalu melengkapi diri dengan alat keselamatan pelayaran seperti pelampung (life jacket), serta membawa alat komunikasi radio yang berfungsi baik.
DKP Kota Bandar Lampung juga tengah menyiapkan langkah evaluasi untuk memetakan skema bantuan jaring pengaman sosial atau stimulus ekonomi bagi nelayan terdampak, guna menjaga ketahanan ekonomi keluarga pesisir selama masa penurunan aktivitas melaut berlangsung.




Comments (0)