Balita Main Korek Api, Dua Rumah Panggung Parepare Ludes
Kebakaran hebat menghanguskan dua unit rumah panggung di wilayah pesisir Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada Selasa petang (17/10). Api dengan cepat melalap bangunan kayu tersebut dalam waktu singka...
Kebakaran hebat menghanguskan dua unit rumah panggung di wilayah pesisir Kota Parepare, Sulawesi Selatan, pada Selasa petang (17/10). Api dengan cepat melalap bangunan kayu tersebut dalam waktu singkat, menyisakan puing-puing dan kerugian material yang diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah. Peristiwa nahas ini diduga kuat bermula dari kelalaian seorang anak di bawah umur yang tengah asyik bermain korek api di salah satu rumah.
Menurut keterangan sejumlah saksi di lokasi, bocah berusia sekitar lima tahun itu sedang bermain sendiri di lantai atas salah satu rumah saat orang tua sedang sibuk di dapur. Tanpa pengawasan, anak tersebut menyalakan korek api dan mencoba membakar selembar kertas. Dalam hitungan detik, api membesar dan langsung menyambar tirai jendela yang terbuat dari bahan mudah terbakar. Upaya pemadaman oleh penghuni rumah menjadi sia-sia karena kobaran api dengan cepat merambat ke dinding kayu yang sudah berusia puluhan tahun.
Kronologi dan Penyebaran Api
Insiden bermula sekitar pukul 16.30 WITA, saat aktivitas warga di kawasan padat penduduk itu masih ramai. Api pertama kali terlihat dari jendela lantai dua rumah milik keluarga Arifin. Teriakan histeris sang ibu yang menyadari adanya kobaran api dari kamar anaknya sontak mengundang perhatian tetangga sekitar. Sejumlah warga bergegas mengambil ember dan alat seadanya untuk memadamkan api, namun besarnya kobaran dan embusan angin laut yang cukup kencang membuat situasi semakin tidak terkendali.
Material rumah panggung yang didominasi kayu meranti dan bambu menjadi bahan bakar sempurna bagi si jago merah. Hanya dalam tempo 15 menit, api sudah melahap hampir seluruh bagian rumah pertama dan mulai menjalar ke rumah di sebelahnya yang hanya berjarak kurang dari dua meter. Rumah kedua, milik seorang janda bernama Surti (60), turut menjadi korban karena minimnya sekat pemisah dan angin yang terus mengipasi bara. Beberapa warga berusaha menyelamatkan barang-barang berharga seperti televisi, dokumen penting, dan surat berharga lainnya. Dalam proses evakuasi darurat tersebut, pemilik rumah pertama, Arifin (45), mengalami luka bakar ringan di bagian lengan dan kaki saat mencoba masuk kembali ke dalam rumah yang sudah mulai ambruk. Ia dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Respons Pemadam dan Kendala di Lapangan
Tim Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Parepare menerima laporan sekitar pukul 16.45 WITA dan langsung mengerahkan tiga unit mobil pemadam. Namun, akses menuju lokasi kejadian yang berada di gang sempit menjadi kendala utama. Mobil pemadam tidak dapat menjangkau titik api secara optimal dan terpaksa menggunakan selang panjang serta bantuan motor pemadam ringan milik relawan. Petugas berjuang keras menjinakkan api yang sudah telanjur membesar. Setelah berjibaku selama hampir dua jam, api akhirnya berhasil dikuasai sepenuhnya pada pukul 18.30 WITA. Proses pendinginan tetap dilanjutkan hingga malam hari untuk mencegah adanya titik api tersisa yang dapat memicu kebakaran susulan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Parepare, melalui sambungan telepon, menyampaikan keprihatinannya atas kejadian ini. Ia mengimbau para orang tua agar meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak, terutama dalam menyimpan benda-benda berbahaya seperti korek api, cairan kimia, atau perangkat listrik yang mudah memicu percikan. "Kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kelalaian sekecil apa pun, seperti membiarkan anak bermain korek api, bisa berakibat fatal. Rumah yang sudah ditempati puluhan tahun bisa lenyap dalam sekejap," ujar salah satu petugas di lapangan.
Dampak dan Kondisi Korban
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, namun dua keluarga harus kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka. Arifin yang mengalami luka bakar kini menjalani rawat jalan setelah mendapat perawatan di puskesmas. Sementara itu, Surti, sang janda tua, nampak syok dan menangis menyaksikan rumah yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya rata dengan tanah. Para tetangga dan kerabat berdatangan memberikan dukungan moral dan bantuan darurat berupa pakaian, makanan, dan tempat tinggal sementara.
Pemerintah setempat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Sosial telah mendirikan posko bantuan di balai pertemuan warga terdekat. Bantuan logistik dan perlengkapan tidur mulai disalurkan untuk meringankan beban para korban. Sejumlah komunitas sosial dan organisasi kepemudaan di Parepare juga bergerak cepat menggalang donasi. Selain itu, pihak kelurahan berkoordinasi dengan perangkat RT dan RW untuk memastikan keamanan lingkungan dari potensi kebakaran serupa, mengingat kawasan tersebut merupakan permukiman padat dengan puluhan rumah panggung yang saling berdempetan.
Kejadian ini menjadi yang ketiga kalinya di sepanjang tahun ini di mana kebakaran dipicu oleh aktivitas anak-anak yang bermain dengan sumber api. Data dari Dinas Pemadam Kebakaran mencatat bahwa kelalaian orang tua dalam mengawasi anak tercatat sebagai penyebab dominan dalam insiden kebakaran di permukiman padat. Sosialisasi mengenai bahaya kebakaran dan mitigasi risiko telah diagendakan untuk segera dilaksanakan di berbagai kelurahan. Harapannya, musibah serupa tidak lagi terulang dan kesadaran kolektif warga terhadap pentingnya keamanan lingkungan dapat ditingkatkan.
Comments (0)