Ayah Pencuri Ayam Serahkan Uang Sekolah Sebelum Tewas, Makam Diekshumasi
Buleleng, Bali — Warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, diguncang kisah tragis seorang kepala keluarga berinisial KD (45) yang diduga mencuri ayam demi membiayai kebutuhan sekola...
Buleleng, Bali — Warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, diguncang kisah tragis seorang kepala keluarga berinisial KD (45) yang diduga mencuri ayam demi membiayai kebutuhan sekolah anaknya. Pria paruh baya itu ditemukan tewas setelah dilaporkan tidak pulang selama tiga hari. Ironisnya, sebelum menghilang, KD sempat menyisihkan uang sebesar Rp2,7 juta untuk pembayaran iuran gedung sekolah sang buah hati.
Peristiwa ini terkuak saat warga mulai mencurigai hilangnya KD sejak Jumat lalu. Informasi yang dihimpun menyebutkan bahwa KD terakhir kali terlihat di sekitar rumahnya pada sore hari. Saat itu, ia tampak memberikan amplop berisi uang kepada anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Besaran uang tersebut cukup janggal mengingat keseharian KD yang hidup serba kekurangan dan tidak memiliki penghasilan tetap.
Hilang Tiga Hari, Warga Cemas
Keluarga dan tetangga mulai gelisah ketika KD tak kunjung kembali hingga keesokan harinya. Kebiasaannya yang jarang meninggalkan rumah dalam waktu lama memicu kekhawatiran. Beberapa warga mencoba mencari di sekitar desa, namun tidak membuahkan hasil. Laporan orang hilang pun akhirnya disampaikan kepada perangkat desa dan kepolisian setempat.
Selama masa pencarian, terkuak fakta bahwa KD sempat menyerahkan uang dalam jumlah lumayan besar untuk ukuran desa tersebut. Sang anak yang polos menceritakan kepada ibunya bahwa ayahnya memberi uang untuk membayar iuran pembangunan gedung sekolah. Kabar ini segera menyebar dan memantik spekulasi di antara penduduk. Pasalnya, sudah beberapa hari terakhir sejumlah warga kehilangan ayam peliharaan mereka dari kandang.
Dugaan Pencurian Ayam
Spekulasi warga kian menguat saat salah satu tetangga mengaku melihat KD membawa karung pada malam sebelum ia menghilang. Meski tidak ada bukti kuat, dugaan bahwa KD mencuri ayam untuk kemudian dijual dan hasilnya diberikan kepada anaknya menjadi perbincangan hangat. Seorang warga yang enggan disebut namanya mengatakan bahwa harga ayam kampung di pasaran bisa mencapai Rp80 ribu hingga Rp120 ribu per ekor. Jika KD berhasil mengambil sekitar 20-30 ekor ayam dari berbagai kandang, jumlah itu sepadan dengan uang yang ia serahkan.
Namun, belum sempat kebenaran dugaan tersebut terungkap, kabar duka justru datang. Tim pencari menemukan jasad KD di sebuah jurang kecil di pinggiran desa, hanya berjarak sekitar dua kilometer dari rumahnya. Tubuhnya sudah dalam kondisi tidak bernyawa dengan sejumlah luka lebam di beberapa bagian tubuh. Penemuan itu sontak menghentakkan Desa Sidatapa yang biasanya tenang.
Penemuan Jasad dan Teka-teki Kematian
Polisi yang tiba di lokasi segera melakukan olah tempat kejadian perkara. Dari pemeriksaan awal, ditemukan indikasi kekerasan pada tubuh korban. Namun, penyebab pasti kematian masih memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Mengingat adanya keanehan pada luka-luka tersebut dan posisi jenazah yang tidak wajar, pihak kepolisian memutuskan untuk melakukan autopsi.
Keluarga yang shock dengan kejadian ini awalnya menolak autopsi karena alasan adat dan keinginan agar KD segera dimakamkan. Namun setelah diberikan pemahaman tentang pentingnya mengungkap penyebab kematian, pihak keluarga akhirnya merelakan. Setelah dimakamkan secara sederhana di pemakaman umum desa, polisi kemudian mengajukan permohonan ekshumasi atau pembongkaran makam untuk keperluan forensik.
Ekshumasi Makam demi Keadilan
Proses ekshumasi dilakukan dengan disaksikan pihak keluarga, tokoh adat, dan aparat desa. Suasana haru menyelimuti pemakaman saat petugas dengan hati-hati menggali kembali pusara yang belum genap berumur dua hari itu. Tim dokter forensik dari Rumah Sakit Bhayangkara Denpasar diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap jasad KD.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Buleleng yang memimpin langsung proses tersebut mengatakan bahwa langkah ini diambil semata-mata untuk mencari keadilan bagi korban dan keluarganya. “Kami ingin memastikan apakah kematian korban murni akibat kecelakaan atau ada unsur pidana di dalamnya. Luka-luka yang kami temukan perlu dikaji secara ilmiah,” ujarnya.
Kemiskinan dan Dilema Moral
Kasus ini menyorot sisi kelam kemiskinan yang membelit sebagian warga Bali utara. Desa Sidatapa yang berada di ketinggian memang dikenal sebagai wilayah dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Banyak kepala keluarga yang bekerja serabutan dengan penghasilan pas-pasan. Tekanan ekonomi seringkali memicu jalan pintas yang melanggar hukum.
Seorang tokoh masyarakat setempat menyayangkan kejadian ini. Ia mengakui bahwa KD selama ini dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tidak pernah membuat onar. “Mungkin dia kepepet. Tapi ya tetap saja mencuri itu tidak dibenarkan. Ini jadi pelajaran bagi kita semua agar lebih peduli kepada tetangga yang kesulitan,” katanya.
Anak KD kini harus menanggung beban ganda: kehilangan ayah sekaligus stigma dari lingkungan. Pihak sekolah tempat anak tersebut menimba ilmu berjanji akan memberikan pendampingan psikologis. Sementara itu, uang Rp2,7 juta yang sempat diserahkan akhirnya digunakan sesuai peruntukannya, meski dengan rasa pilu yang mendalam.
Penyelidikan Berlanjut
Hingga berita ini diturunkan, pihak kepolisian masih menunggu hasil resmi autopsi untuk menentukan arah penyelidikan. Beberapa saksi telah dimintai keterangan, termasuk warga yang kehilangan ayam dan mereka yang terakhir kali berinteraksi dengan KD. Polisi belum menetapkan tersangka dan belum memberikan pernyataan resmi apakah kematian KD terkait dengan aksi pencurian yang dilakukannya atau ada faktor lain.
Yang pasti, tragedi ini meninggalkan duka mendalam sekaligus pertanyaan besar tentang sejauh mana seorang ayah rela berkorban demi pendidikan anaknya. Di tengah keterbatasan, KD memilih jalan yang salah, namun kepeduliannya terhadap masa depan sang anak tak bisa diabaikan begitu saja. Desa Sidatapa kini berduka, berharap keadilan segera terungkap dan peristiwa serupa tak lagi terulang.
Comments (0)