ARGENTINA — Romina De Luca Soroti Kemunduran Kualitas Pendidikan Sekunder
Dunia pendidikan di Argentina tengah menghadapi refleksi sejarah yang mendalam mengenai kemunduran kualitas sistem pembelajarannya. Krisis yang menyelimuti
Dunia pendidikan di Argentina tengah menghadapi refleksi sejarah yang mendalam mengenai kemunduran kualitas sistem pembelajarannya. Krisis yang menyelimuti sekolah menengah saat ini bukan sekadar persoalan transisi politik jangka pendek, melainkan hasil dari erosi struktural yang berlangsung selama puluhan tahun. Pakar dan spesialis pendidikan terkemuka, Romina De Luca, menyampaikan analisis kritis yang menohok: pencapaian tingkat literasi sekolah dasar pada era 1940-an justru jauh melampaui apa yang mampu dihasilkan oleh sekolah menengah pada masa modern ini.
Kondisi ini memicu perdebatan hangat di tengah evaluasi krisis PISA 2025 dan pembahas Perundang-undangan Kebebasan Pendidikan (Ley de Libertad Educativa). Pertanyaan mendasar pun mengemuka mengenai apakah kejatuhan standar akademik ini merupakan warisan rezim politik tertentu atau akumulasi kegagalan tata kelola pendidikan nasional dalam jangka panjang. De Luca menegaskan bahwa untuk memahami kedalaman krisis hari ini, masyarakat harus melihat kembali rekam jejak historis tatkala institusi sekolah mampu menjalankan fungsinya secara optimal.
Jejak Historis: Kejayaan Literasi dan Kesejahteraan Tenaga Pengajar
Pada kisaran dekade 1960-an dan 1970-an, sekolah dasar di Argentina memiliki fondasi yang sangat kokoh dalam menjamin proses melek huruf atau alfabetisasi di tengah masyarakat. Meskipun pada era tersebut belum tersedia indikator kuantitatif atau ujian terstandarisasi seperti PISA masa kini, tingkat keberhasilan pendidikan dapat diukur melalui indikator sosial-budaya yang nyata. Salah satunya adalah meledaknya pasar industri penerbitan, khususnya maraknya literatur populer dan novel mingguan yang menandakan terbentuknya publik pembaca yang luas dan aktif.
Pencapaian luar biasa ini merupakan buah dari transformasi panjang. Berdasarkan data sensus nasional, angka buta huruf di Argentina berhasil ditekan secara drastis dari 77 persen pada sensus 1870 menjadi hanya 13,4 persen pada sensus 1947. Keberhasilan fondasi pendidikan dasar masal ini tumbuh selaras dengan ekspansi ekonomi dan budaya negara tersebut.
Namun, kontras paling tajam terlihat pada aspek penghargaan terhadap profesi pendidik. Pengikisan nilai ekonomi profesi guru menjadi salah satu pemicu utama merosotnya mutu pendidikan nasional.
| Indikator Evaluasi | Era Keemasan Abad ke-20 | Kondisi Era Modern |
|---|---|---|
| Tingkat Analfabetisme | Turun drastis hingga 13,4% (Sensus 1947) | Krisis literasi pada tingkat sekolah menengah |
| Standar Kesejahteraan Guru | Gaji pemula setara 2,3 kebutuhan pokok (1930-an) | Gaji pemula tidak mencapai 60% kebutuhan pokok |
| Tata Kelola Kurikulum | Terpusat, terencana, dan diatur Negara Nasional | Terfragmentasi dan kehilangan arah strategis |
Pada puncaknya di dekade 1930-an, seorang guru kelas sekolah dasar tanpa masa kerja yang baru pertama kali mengajar mengantongi pendapatan setara dengan 2,3 kali lipat kebutuhan pokok keluarga (canastas familiares) pada masa itu. Bandingkan dengan kondisi saat ini, di mana pendapatan guru baru bahkan tidak mampu menutup 60 persen dari satu pemenuhan kebutuhan pokok dasar keluarga.
Degradasi Kurikulum dan Desentralisasi Peran Negara
Selain faktor kesejahteraan, perubahan mendasar pada metodologi pengajaran dan struktur kurikulum turut menyumbang penurunan kualitas pendidikan. Metode tradisional sekolah dasar pada masa lalu sangat mengandalkan pendekatan sistematis yang mengajarkan anak-anak menghubungkan grafem dan fonem, teknik pemecahan suku kata, serta konstruksi kata secara terstruktur. Pendekatan ini terbukti berhasil membentuk pemahaman literasi yang mendalam dan berakar kuat.
Di samping itu, keberhasilan pendidikan masa lalu ditopang oleh hadirnya Negara Nasional yang berperan aktif dalam meregulasi, merancang, dan merencanakan kurikulum secara terpadu di tingkat nasional. Sayangnya, desain sistemik yang terintegrasi ini mulai runtuh dan mengalami desstrukturisasi sejak paruh kedua abad ke-20. Hilangnya kendali dan perencanaan terpusat membuat standar kualitas pembelajaran di berbagai daerah menjadi tidak merata dan kehilangan fokus utamanya.
Restrukturisasi Kurikulum Menuju Industri Pengetahuan
Menghadapi keterpurukan sekolah menengah saat ini, Romina De Luca menyuarakan pentingnya perombakan total terhadap arah kebijakan kurikulum nasional. Pendidikan sekunder tidak boleh lagi berjalan tanpa arah yang jelas, melainkan harus diorientasikan pada tuntutan zaman modern dan pembangunan ekonomi berbasis sains.
“Untuk sekolah menengah, kita harus memikirkan sebuah restrukturisasi kurikulum: kurikulum ilmiah dengan inti permasalahan yang ditetapkan secara jelas, yang dapat diorientasikan ke arah pengembangan industri pengetahuan.”
Krisis pendidikan yang dihadapi Argentina hari ini menjadi pelajaran berharga bahwa pembaruan hukum seperti Ley de Libertad Educativa maupun debat politik musiman tidak akan menyelesaikan masalah tanpa penanganan akar persoalan. Pembenahan harus mencakup peningkatan kesejahteraan pengajar, pengembalian metode dasar literasi yang teruji, serta penyusunan kurikulum sekunder berorientasi sains guna menyokong masa depan industri berbasis pengetahuan.




Comments (0)