Aktivis Ungkap Karhutla Kalimantan Erat dengan Pembukaan Lahan

Kalimantan kembali menjadi sorotan menyusul kebakaran hutan dan lahan yang meluas dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah kepungan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah, seorang aktivis lingkungan j...

Aug 21, 2026 - 22:04
0 1
Aktivis Ungkap Karhutla Kalimantan Erat dengan Pembukaan Lahan

Kalimantan kembali menjadi sorotan menyusul kebakaran hutan dan lahan yang meluas dalam beberapa pekan terakhir. Di tengah kepungan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah, seorang aktivis lingkungan justru menyampaikan temuan yang lebih dalam: sumber api diduga kuat berasal dari praktik pembukaan lahan, baik untuk perkebunan kelapa sawit maupun aktivitas pertambangan ilegal.

Pengamatan Langsung di Lapangan

Chanee Kalaweit, aktivis konservasi yang sudah lama berkecimpung dalam upaya penyelamatan hutan Kalimantan, mengungkapkan hasil pemantauannya terhadap titik-titik kebakaran di kawasan tersebut. Menurutnya, pola penyebaran api yang diamatinya tidak wajar jika sekadar disebabkan oleh faktor alam seperti cuaca panas atau petir.

Ia menegaskan bahwa sebaran titik panas yang muncul cenderung terkonsentrasi di area-area yang sedang dalam proses penyiapan lahan. Pola semacam ini, kata dia, menjadi indikasi kuat bahwa kebakaran bukanlah peristiwa alamiah melainkan bagian dari metode pembukaan lahan yang murah dan cepat, meskipun berisiko tinggi meluas di musim kemarau.

Sawit dan Tambang Ilegal di Balik Asap

Dalam keterangannya, Chanee menyoroti dua sektor utama yang paling sering dikaitkan dengan praktik pembakaran lahan. Pertama, perkebunan kelapa sawit yang kerap memanfaatkan api untuk membersihkan lahan secara massal sebelum penanaman. Kedua, pertambangan ilegal yang menjadikan pembukaan hutan sebagai langkah awal untuk mengakses mineral di bawah permukaan tanah.

Kedua aktivitas ini, menurut pengamatannya, kerap terjadi di kawasan yang semestinya menjadi wilayah lindung atau area konsesi yang seharusnya dikelola dengan prinsip keberlanjutan. Alih-alih mengikuti prosedur yang berlaku, sebagian pelaku justru mengambil jalur pintas yang pada akhirnya merugikan lingkungan dalam skala besar.

Dampaknya tidak berhenti pada kerusakan ekosistem. Kebakaran yang meluas menghasilkan kabut asap yang menerpa kesehatan warga di beberapa kabupaten, mengganggu aktivitas sekolah, dan memicu gangguan pernapasan di kalangan anak-anak serta lansia. Belum lagi kerugian ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat terhambatnya mobilitas dan produksi.

Peran Aktivis dalam Pemantauan Karhutla

Chanee, yang dikenal konsisten mendokumentasikan kondisi hutan Kalimantan melalui berbagai kanal, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan secara langsung di lapangan. Ia bersama timnya bergerak ke titik-titik yang terindikasi munculnya api, memetakan lokasi, serta mencatat dugaan penyebab dari setiap kejadian.

Dokumentasi semacam ini dinilai penting karena kerap kali menjadi sumber informasi awal bagi masyarakat umum dan aparat penegak hukum. Data dari lapangan juga membantu membedakan antara kebakaran yang terjadi karena kelalaian dan kebakaran yang direncanakan sebagai bagian dari operasi pembukaan lahan.

Meski demikian, aktivis semacam Chanee juga menghadapi sejumlah tantangan. Medan yang sulit dijangkau, minimnya fasilitas pemadaman di lokasi terpencil, hingga risiko keselamatan saat berhadapan dengan pelaku pembakaran menjadi kendala yang tidak bisa diabaikan dalam setiap misi pemantauan.

Mendorong Penegakan Hukum yang Tegas

Temuan di lapangan tersebut mendorong seruan agar aparat bertindak lebih tegas terhadap siapa pun yang terbukti membakar lahan. Chanee menilai, penindakan terhadap pelaku pembukaan lahan dengan cara membakar harus menjadi prioritas, karena dampaknya bersifat lintas wilayah dan bahkan lintas negara ketika asap terbawa angin.

Selain aspek penegakan hukum, ia juga menyoroti perlunya pendampingan terhadap masyarakat agar tidak tergoda menggunakan api sebagai cara termudah dalam menyiapkan lahan. Alternatif pengelolaan lahan tanpa bakar, seperti penggunaan mekanisasi atau pengolahan limbah organik, dinilai perlu disosialisasikan lebih masif.

Harapan untuk Musim Kemarau Mendatang

Dengan musim kemarau yang diprediksi masih berlangsung, risiko perluasan kebakaran tetap terbuka lebar. Chanee berharap seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, perusahaan, hingga masyarakat, dapat bergerak bersama menekan angka karhutla. Menurutnya, pencegahan sejak dini jauh lebih efektif dibandingkan upaya pemadaman ketika api sudah membesar.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa hutan Kalimantan bukan sekadar hamparan pepohonan, melainkan rumah bagi keanekaragaman hayati yang tidak ternilai. Setiap hektare yang terbakar berarti habitat yang hilang bagi satwa endemik, serta masa depan yang semakin suram bagi generasi yang akan datang. Karena itu, penghentian praktik pembakaran lahan, apa pun sektornya, menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User