Aksi Pencurian Lumpuhkan Operasional Dapur MBG di Mojokerto
Sebuah insiden kriminal telah melumpuhkan salah satu unit vital penunjang program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Dapur yang selama ini menjadi pusat pengolahan ...
Sebuah insiden kriminal telah melumpuhkan salah satu unit vital penunjang program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Dapur yang selama ini menjadi pusat pengolahan dan distribusi makanan bergizi bagi ribuan anak sekolah itu terpaksa menghentikan total operasionalnya setelah nyaris seluruh perabotan pendukung kegiatan masak-memasak raib disikat pencuri. Tidak ada aktivitas mengepulnya uap dari rice cooker raksasa, tidak ada deretan wajan besar, dan tidak ada hiruk-pikuk petugas dapur—semuanya lenyap bersama aksi pencurian yang terjadi secara tiba-tiba. Peristiwa ini sontak mengejutkan para pengelola dan memicu kekhawatiran serius mengenai kelangsungan layanan pemenuhan gizi pelajar di daerah tersebut.
Kepolisian Resor Mojokerto bergerak cepat menindaklanjuti laporan yang masuk. Dari hasil penyelidikan intensif, petugas berhasil mengidentifikasi dan meringkus seorang pria berinisial Bambang yang diduga kuat sebagai otak sekaligus eksekutor tunggal aksi pencurian tersebut. Berdasarkan keterangan awal, pelaku nekat menyatroni dapur MBG dengan cara merusak sistem pengunci pintu belakang pada dini hari, saat area sekitar dapur dalam kondisi lengang tanpa pengawasan berarti. Ia kemudian dengan leluasa menguras isi dalam dapur, mulai dari kompor gas industri, tabung elpiji berukuran besar, perangkat pemotong dan penggiling bumbu elektrik, hingga panci-panci berkapasitas ratusan liter.
Kapolres Mojokerto dalam pernyataan resminya menjelaskan bahwa penangkapan Bambang berlangsung di kediamannya di wilayah Mojosari kurang dari 48 jam setelah laporan diterima. "Kami mengamankan pelaku beserta sebagian besar barang bukti yang rencananya akan ia jual ke penadah di luar kota. Kerugian material sementara ditaksir mencapai puluhan juta rupiah, namun dampak terbesarnya adalah terhentinya layanan pemenuhan gizi bagi para siswa," ungkapnya. Saat diinterogasi, Bambang mengakui perbuatannya dengan dalih kesulitan ekonomi dan berharap perabotan dapur itu bisa memberinya keuntungan cepat di pasar loak daring. Kini ia harus mendekam di sel tahanan dan dijerat dengan pasal pencurian dengan pemberatan yang ancaman hukumannya di atas lima tahun penjara.
Kronologi dan Respons Pengelola
Peristiwa nahas itu mulai terkuak pada pagi hari ketika petugas dapur datang untuk memulai rutinitas menyiapkan sarapan. Mereka mendapati pintu dalam keadaan terbuka paksa, laci-laci penyimpanan alat berantakan, dan sejumlah barang utama sudah tidak berada di tempatnya. Saksi mata yang juga merupakan koordinator lapangan MBG setempat, mengaku sempat syok melihat kondisi dapur yang porak-poranda. "Kami langsung melapor ke polisi dan berkoordinasi dengan dinas terkait. Tidak mungkin melanjutkan produksi tanpa peralatan itu. Hari itu jadwal distribusi terpaksa dibatalkan," tuturnya dengan nada getir.
Pembatalan dadakan itu jelas mengecewakan pihak sekolah dan orang tua murid. Sedikitnya 1.200 siswa dari lima sekolah dasar di sekitar Mojosari yang seharusnya menerima sarapan bergizi pagi itu tidak mendapatkan jatahnya. Pihak sekolah terpaksa menyampaikan pemberitahuan melalui grup pesan singkat bahwa layanan MBG dihentikan sementara hingga ada pemberitahuan lebih lanjut. Sejumlah orang tua menyayangkan insiden ini karena selama kehadiran dapur MBG, tingkat kehadiran siswa dan konsentrasi belajar dinilai membaik berkat asupan gizi teratur yang selama ini mereka terima secara cuma-cuma.
Dampak Sosial dan Kekhawatiran Keberlanjutan
Lebih dari sekadar kerugian materi, terhentinya operasional dapur MBG di Mojosari menyisakan persoalan gizi yang berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak-anak penerima manfaat. Program MBG yang digagas pemerintah pusat sejak 2025 memang didesain untuk memutus mata rantai stunting dan malnutrisi di kalangan pelajar dari keluarga kurang mampu. Dengan tidak berfungsinya dapur ini selama masa pemulihan yang diperkirakan memakan waktu satu hingga dua pekan, ribuan siswa terpaksa kembali mengandalkan bekal seadanya dari rumah—atau bahkan tidak sarapan sama sekali.
Seorang guru di salah satu sekolah penerima menyatakan keprihatinannya. "Kami bisa lihat langsung perbedaannya selama ada program ini. Siswa lebih energik, jarang mengantuk, dan lebih mudah memahami pelajaran. Kehilangan akses Makan Bergizi Gratis untuk sementara tentu berdampak, apalagi bagi mereka yang benar-benar bergantung," jelasnya. Sementara itu, pengamat sosial menilai insiden ini menunjukkan kerentanan infrastruktur program yang sangat bergantung pada aset fisik di lapangan. Minimnya pengamanan di titik-titik penyelenggara dinilai menjadi celah yang perlu segera ditutup agar tidak terulang di tempat lain.
Upaya Pemulihan dan Antisipasi
Menanggapi kejadian ini, Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto bersama Badan Gizi Nasional (BGN) langsung menggelar rapat koordinasi darurat. Hasilnya, diputuskan bahwa sebagian besar perabotan akan segera diganti dengan menggunakan anggaran darurat dan bantuan dari pihak ketiga yang selama ini mendukung program MBG. Proses pengadaan kompor, panci, dan alat masak lainnya ditargetkan rampung dalam waktu tujuh hari kerja agar distribusi bisa kembali normal. Di samping itu, mulai pekan depan dua dapur MBG terdekat akan menambah kapasitas produksi untuk sementara memasok makanan ke sekolah di wilayah Mojosari, meskipun waktu distribusi kemungkinan sedikit mundur.
Untuk mencegah kejadian serupa, aparat kepolisian bersama pengelola akan memperketat pengamanan di seluruh dapur MBG di Mojokerto. Pemasangan kunci ganda, penambahan pencahayaan sensor gerak, hingga penjadwalan patroli rutin oleh anggota Bhabinkamtibmas di setiap lokasi dapur menjadi prioritas. Badan Gizi Nasional juga merencanakan pemasangan closed-circuit television (CCTV) di titik-titik rawan sebagai langkah deteksi dini. Masyarakat pun diimbau untuk berperan aktif melaporkan gerak-gerik mencurigakan di sekitar fasilitas-fasilitas publik semacam ini.
Meski sempat terpuruk, semangat para pengelola dapur tidak surut. Mereka optimistis bahwa program ini akan segera pulih dan terus menjadi penopang utama pemenuhan gizi generasi muda. Seorang petugas dapur senior bertekad, "Kami akan kembali memasak lebih cepat dari yang diperkirakan. Anak-anak layak mendapatkan yang terbaik, dan kami tidak akan membiarkan kejadian ini menghentikan tujuan mulia kami." Tertangkapnya Bambang memberi secercah kelegaan, sekaligus menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap aset publik harus selalu menjadi perhatian bersama. Kini seluruh mata tertuju pada langkah percepatan pemulihan agar denting peralatan masak dan aroma sarapan segar kembali membahana di dapur MBG Mojosari.
Comments (0)