11 Saksi Diperiksa Polisi Usai Penemuan Satpam Tewas Terborgol di Waduk Jatiluhur
Purwakarta – Aparat Kepolisian Resor Purwakarta terus mendalami kasus kematian Sumarna, seorang petugas keamanan yang jasadnya ditemukan mengapung di perairan Waduk Jatiluhur dalam kondisi mengenask...
Purwakarta – Aparat Kepolisian Resor Purwakarta terus mendalami kasus kematian Sumarna, seorang petugas keamanan yang jasadnya ditemukan mengapung di perairan Waduk Jatiluhur dalam kondisi mengenaskan. Hingga kemarin, sebanyak 11 saksi telah dimintai keterangan guna mengungkap kronologi peristiwa yang menyisakan tanda tanya besar tersebut. Para saksi berasal dari berbagai latar belakang, termasuk rekan kerja korban, warga sekitar, dan pihak yang diduga memiliki informasi terkait aktivitas terakhir korban sebelum nyawanya melayang.
Penemuan jenazah korban pada akhir pekan lalu sontak menggegerkan warga Desa Kutamanah, Kecamatan Sukasari. Ironisnya, saat dievakuasi oleh tim SAR gabungan, kedua pergelangan tangan korban masih dalam keadaan terborgol dengan besi yang cukup kuat. Fakta ini langsung memunculkan dugaan bahwa kematian Sumarna bukan sekadar musibah biasa, melainkan bagian dari tindak kekerasan yang terencana.
Rekonstruksi dan Olah TKP
Kasat Reskrim Polres Purwakarta AKP Dedi Hermawan melalui keterangan tertulisnya menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan olah tempat kejadian perkara secara berulang. Penyidik mengerahkan anjing pelacak dan melakukan penyisiran di sekitar area waduk untuk mencari barang bukti tambahan. Hasil sementara menunjukkan tidak ditemukan tanda-tanda perlawanan di lokasi penemuan, sehingga kuat dugaan korban dibuang di tempat tersebut dalam kondisi sudah tak berdaya.
Tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara juga telah mengautopsi jenazah. Hasil pemeriksaan mengungkap adanya luka memar di beberapa bagian tubuh, namun belum dapat dipastikan apakah itu terjadi sebelum atau sesudah korban masuk ke dalam air. Penyidik menunggu hasil laboratorium yang lebih rinci untuk memastikan penyebab kematian secara medis. "Kami masih berkoordinasi dengan laboratorium forensik, termasuk uji toksikologi untuk mendeteksi kemungkinan adanya zat berbahaya dalam tubuh korban," ujar Dedi.
Fokus penyelidikan kini tertuju pada borgol yang menjerat tangan Sumarna. Borgol tersebut diduga bukan jenis standar kepolisian, melainkan borgol modifikasi yang banyak dijual bebas. Polisi membandingkan ciri-ciri borgol itu dengan katalog daring dan melakukan penelusuran terhadap sejumlah toko perlengkapan keamanan di Purwakarta dan sekitarnya. Jejak pembelian benda ini diyakini dapat mengarahkan penyidik kepada pelaku.
Profil Korban dan Kesaksian Rekan Kerja
Sumarna, 42 tahun, merupakan warga Plered, Purwakarta, yang telah bekerja sebagai satpam di salah satu instansi dekat bendungan selama lebih dari tiga tahun. Rekan kerjanya menggambarkan korban sebagai sosok pendiam, rajin, dan tidak memiliki konflik pribadi yang mencolok. Namun, salah satu saksi—seorang petugas kebersihan berinisial T—menyebut bahwa beberapa hari sebelum kejadian, Sumarna sempat menerima tamu yang dikenalnya sebagai orang tidak terlalu dekat. Pertemuan itu terjadi di pos jaga pada malam hari saat korban bertugas sendirian.
Saksi lain, M, yang bertugas di shift berikutnya, mengaku melihat sepeda motor korban sudah tidak berada di tempat parkir saat ia tiba pukul 06.00 pagi. "Saya kira dia pulang duluan karena ada urusan mendadak, soalnya biasanya dia pamit lewat grup obrolan kalau begitu. Tapi pagi itu tidak ada pesan apa pun," katanya dalam berita acara pemeriksaan.
Dugaan keterlibatan orang dalam masih diselidiki. Kapolres Purwakarta AKBP Teguh Wibowo menegaskan tidak menutup kemungkinan pelaku adalah orang yang mengenal kebiasaan dan jam kerja korban. "Kami memetakan semua interaksi korban seminggu terakhir, termasuk rekaman panggilan telepon dan percakapan di media sosial. Hasilnya akan dikonfirmasi silang dengan keterangan para saksi," jelas Teguh.
Motif dan Dugaan Sementara
Meski kepolisian belum menetapkan tersangka, sejumlah dugaan motif mulai mengemuka. Pertama, motif ekonomi. Korban diketahui memiliki utang kecil kepada beberapa koperasi di tempat kerjanya, namun nilainya tidak signifikan. Polisi menyelidiki kemungkinan korban terjebak jeratan rentenir atau kelompok pinjaman daring ilegal. Kedua, motif cemburu dan asmara. Istri korban mengakui rumah tangga mereka sempat diwarnai pertengkaran akibat kedekatan korban dengan seorang rekan perempuan di tempat kerja. Namun ia tidak mencurigai pihak tertentu secara spesifik.
Ketiga, motif balas dendam terkait pekerjaan. Sebagai satpam, Sumarna pernah menggagalkan aksi pencurian material proyek di area bendungan dua bulan lalu. Pelaku saat itu sempat melarikan diri dan mengancam akan membalas. Polisi kini menelusuri apakah ancaman itu terealisasi dengan cara yang kejam. "Kami sudah mengantongi identitas terduga pelaku pencurian waktu itu dan sedang memburu keberadaannya," kata Kasat Reskrim.
Dari 11 saksi yang diperiksa, tiga di antaranya diperiksa secara intensif karena memberikan keterangan yang saling bertentangan. Ketiganya masing-masing adalah seorang pedagang kaki lima yang biasa berjualan di dekat pintu masuk waduk, seorang pemancing yang diklaim sempat melihat aktivitas mencurigakan pada malam kejadian, dan satu orang lagi yang tidak disebutkan identitasnya. Polisi juga sedang memeriksa rekaman kamera pengawas di beberapa titik strategis, meski diakui bahwa area waduk cukup gelap dan banyak titik buta.
Respons Masyarakat dan Harapan Keluarga
Keluarga korban berharap polisi segera mengungkap dalang di balik kematian Sumarna. Istri korban, Sumiati, tak kuasa menahan tangis saat mendampingi proses identifikasi. "Anak-anak masih kecil, mereka terus bertanya kenapa bapak tidak pulang. Saya hanya ingin keadilan," ucapnya lirih di depan awak media. Pihak keluarga menolak berspekulasi dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian.
Warga sekitar waduk juga menyuarakan kekhawatiran akan keamanan di kawasan tersebut. Beberapa aktivitas informal kerap terjadi di malam hari tanpa pengawasan memadai. Mereka mendesak pengelola waduk serta pemerintah daerah menambah penerangan dan patroli rutin. "Kejadian ini membuat kami takut. Biasanya anak-anak muda suka nongkrong di pinggir waduk sampai larut, sekarang langsung sepi kalau magrib," ujar seorang tokoh masyarakat setempat.
Kapolres berjanji akan mengusut tuntas perkara ini dan meminta dukungan masyarakat untuk memberikan informasi sekecil apa pun yang dianggap relevan. Posko pengaduan telah dibuka di Mapolsek Sukasari dan hotline khusus disediakan agar warga bisa melapor tanpa rasa takut. "Ini kasus menonjol yang menjadi perhatian publik. Kami pastikan tidak ada yang ditutup-tutupi. Setiap perkembangan akan kami sampaikan secara transparan," tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, jasad Sumarna telah diserahkan kepada pihak keluarga dan dimakamkan di pemakaman umum Plered. Sementara itu, polisi mentargetkan dalam waktu satu pekan ke depan sudah ada titik terang yang dapat mengarah pada penetapan tersangka. Kasus ini menjadi pengingat kelam tentang sisi gelap yang bisa mengintai di balik tenangnya hamparan air Waduk Jatiluhur.
Comments (0)