Warga dan Keluarga Korban Bentrokan Menteng Damai, Percayakan Proses Hukum ke Polisi
JAKARTA, KOMPAS.com — Sepekan setelah bentrokan maut di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, para pihak yang bertikai akhirnya menempuh jalan damai. Pengurus RT 08 RW 04 Kelurahan Menteng bersama perwaki...
JAKARTA, KOMPAS.com — Sepekan setelah bentrokan maut di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, para pihak yang bertikai akhirnya menempuh jalan damai. Pengurus RT 08 RW 04 Kelurahan Menteng bersama perwakilan keluarga korban menggelar mediasi di Aula Polda Metro Jaya, Senin (27/7/2026). Dalam pertemuan yang difasilitasi oleh kepolisian itu, keduanya sepakat menyerahkan penanganan kasus kepada aparat hukum dan saling berkomitmen menghentikan permusuhan.
Bentrokan yang terjadi Rabu (22/7/2026) dini hari itu menewaskan dua orang dan melukai sedikitnya lima lainnya. Perkelahian antar kelompok warga tersebut diduga dipicu sengketa lahan parkir yang berlarut-larut. Insiden berdarah itu sontak mengguncang Menteng yang selama ini dikenal tenang. Massa yang terlibat menggunakan senjata tajam dan kayu, membuat situasi kala itu mencekam.
Mediasi yang dimulai pukul 10.00 WIB itu berlangsung tertutup selama hampir tiga jam. Hadir dalam pertemuan antara lain Ketua RT 08, Sutrisno; perwakilan keluarga korban, Ratih dan Hendra; tokoh agama, Ustaz Syamsul; serta perwakilan Polres Metro Jakarta Pusat dan Polda Metro Jaya. Suasana sempat tegang di awal, namun setelah masing-masing pihak menyampaikan pandangan, terjadi cairnya suasana.
Komitmen Damai dan Penyerahan Proses Hukum
Ketua RT 08, Sutrisno, membuka mediasi dengan permohonan maaf atas nama warga. "Kami hadir di sini bukan untuk mencari siapa yang salah, tapi untuk mencari solusi. Tidak ada yang menginginkan adanya korban," ujarnya dengan suara bergetar. Ia mengajak semua pihak menahan diri dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang beredar di media sosial.
Perwakilan keluarga korban, Ratih, yang kehilangan suaminya dalam bentrokan itu, menyampaikan rasa duka yang mendalam. Namun, ia menegaskan bahwa keluarganya memilih jalur damai. "Kami percaya pada proses hukum. Kami tidak akan melakukan aksi balas dendam. Kami hanya ingin keadilan," kata Ratih sambil menangis. Sementara itu, Hendra, kakak dari korban lainnya, juga menyampaikan hal serupa. Ia berharap pelaku dihukum seberat-beratnya sesuai undang-undang, tetapi tidak ada niat untuk melakukan aksi main hakim sendiri.
Dalam pertemuan itu, kedua pihak menyepakati lima butir kesepakatan. Pertama, menghentikan segala bentuk tindakan kekerasan dan provokasi. Kedua, menyerahkan sepenuhnya penanganan hukum kepada pihak kepolisian. Ketiga, mendukung upaya kepolisian dalam menangkap dan memproses para pelaku. Keempat, membentuk tim komunikasi antar warga yang bertugas meredam potensi konflik. Kelima, menggelar kegiatan sosial dan keagamaan bersama sebagai upaya rekonsiliasi.
Peran Kepolisian dan Pengamanan Kawasan
Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol. Dwi Hartono, mengapresiasi kesediaan kedua belah pihak untuk berdamai. Ia menyatakan bahwa hingga saat ini, polisi telah menangkap empat orang yang diduga kuat terlibat dalam penyerangan. "Kami masih mengejar dua orang lagi yang masuk dalam daftar pencarian orang. Proses penyidikan berjalan transparan dan kami pastikan tidak akan ada yang dilindungi," tegasnya.
Polda Metro Jaya juga menambah personel pengamanan di wilayah Menteng dan sekitarnya untuk mengantisipasi potensi gesekan susulan. Sebanyak 150 personel gabungan ditempatkan di titik-titik rawan, termasuk di pos-pos perbatasan antar-RW. Polisi juga mendirikan posko pengaduan dan pemulihan trauma bagi warga yang terdampak psikologis akibat bentrokan itu.
Ustaz Syamsul yang turut hadir dalam mediasi menyerukan agar masyarakat Menteng menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran berharga. "Ini ujian bagi kita semua. Mari kita perkuat ukhuwah dan jangan biarkan setan menari di atas luka kita," pesannya. Ia juga akan memimpin doa bersama untuk para korban yang rencananya digelar pekan depan di halaman Masjid Al-Ikhlas, Menteng.
Harapan Warga dan Langkah Rekonsiliasi
Warga Menteng yang diwawancarai secara terpisah mengaku lega dengan hasil mediasi tersebut. "Kami khawatir akan terjadi bentrokan susulan. Alhamdulillah sekarang sudah damai. Semoga ke depan Menteng kembali aman seperti dulu," ujar Rudi, warga RT 08. Rekonsiliasi yang dilakukan oleh pengurus RT dianggap sebagai langkah bijak untuk meredam amarah dan dendam.
Untuk memperkuat perdamaian, pengurus RT bersama tokoh masyarakat akan mengadakan serangkaian kegiatan, seperti lomba olahraga antar warga, bakti sosial, dan malam kesenian. "Kami ingin menunjukkan bahwa Menteng adalah rumah bersama yang harus dijaga dengan penuh cinta," pungkas Sutrisno.
Dengan tercapainya kesepakatan ini, diharapkan tidak ada lagi korban jiwa dan luka. Seluruh elemen masyarakat kini menanti hasil penyelidikan kepolisian secara objektif agar keadilan benar-benar ditegakkan.
Comments (0)