Warga Carita Gelar Tradisi Larung Cari Jurnalis Hilang di Selat Sunda
Di bawah naungan langit sore yang meredup di pesisir Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, aroma kemenyan berpadu halus dengan embusan angin laut yang berti
Di bawah naungan langit sore yang meredup di pesisir Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, aroma kemenyan berpadu halus dengan embusan angin laut yang bertiup kencang. Suara ombak Selat Sunda yang bergulung memecah kesunyian, mengiringi derap langkah ratusan warga pesisir yang berkumpul dengan raut wajah penuh keprihatinan. Pada hari itu, masyarakat setempat menggelar upacara tradisi Larung—sebuah ritual adat dan keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun—sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk mengetuk pintu langit. Ritual ini dilaksanakan demi memperlancar proses pencarian lima jurnalis dan tiga anak buah kapal (ABK) yang dilaporkan hilang di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Ketegangan dan kepedihan mendalam menyelimuti keluarga serta rekan-rekan sejawat korban sejak kapal yang ditumpangi delapan orang tersebut hilang kontak pada beberapa hari lalu. Medan perairan Selat Sunda yang dikenal memiliki arus bawah laut yang deras serta cuaca yang sangat dinamis menjadikan operasi pencarian tim gabungan menghadapi tantangan ekstra berat. Di tengah keterbatasan teknis dan ganasnya alam, warga Carita meyakini bahwa pendekatan lahiriah berupa operasi Pencarian dan Pertolongan (SAR) harus diimbangi dengan pendekatan batiniah melalui kearifan lokal.
Perpaduan Doa dan Ikhtiar di Tepi Selat Sunda
Prosesi tradisi Larung diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat di tepi pantai. Setelah doa dipanjatkan, rombongan sesepuh adat dan nelayan membawa pelarungan berupa tumpeng kecil, bunga tujuh rupa, serta perlengkapan ritual ke atas perahu motor. Perahu tersebut kemudian melaju perlahan menembus gelombang ombak menuju tengah perairan Pantai Carita untuk melepas sajen dan doa ke laut lepas.
Tokoh masyarakat pesisir Carita menegaskan bahwa tradisi ini bukanlah bentuk kemusyrikan, melainkan permohonan keselamatan kepada Sang Pencipta alam semesta sekaligus bentuk penghormatan manusia terhadap alam bahari.
"Kami tidak pernah berhenti berharap. Tradisi Larung ini adalah ikhtiar batin kami, memohon kepada Allah SWT agar memberikan petunjuk dan kemudahan bagi tim pencari. Laut ini adalah sumber kehidupan kami, dan kami berdoa agar laut 'mengembalikan' saudara-saudara kita yang sedang hilang," ungkap H. Samani (58), salah satu tokoh nelayan setempat dengan suara bergetar penuh rasa haru.
Para warga yang hadir di tepi pantai tampak menadahkan tangan, mengaminkan setiap bait doa yang dilantunkan. Kehadiran lima awak media di kawasan bahaya Gunung Anak Krakatau sejatinya dalam rangka menjalankan tugas jurnalistik untuk memberikan informasi akurat bagi publik. Kejadian hilang kontak ini menorehkan duka mendalam sekaligus perhatian nasional terhadap risiko tinggi pekerja pers di lapangan.
Sinergi Operasi SAR dan Kearifan Lokal
Di saat warga pesisir mengetuk jalur spiritual melalui Larung, pencarian fisik oleh Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, Polairud Banten, TNI Angkatan Laut, serta sukarelawan terus menggeledah setiap koordinat titik hilang. Penyisiran dilakukan dengan membagi radius pencarian ke dalam beberapa sektor strategis di perairan Gunung Anak Krakatau hingga pulau-pulau kecil sekitarnya.
Berikut adalah ringkasan pemetaan fokus pergerakan dalam operasi pencarian di Selat Sunda:
| Aspek Pencarian | Operasi SAR Modern | Dukungan Masyarakat & Tradisi |
|---|---|---|
| Pelaksana Utama | Basarnas, TNI AL, Polairud, BPBD | Nelayan Lokal, Tokoh Adat, Warga Carita |
| Metode Kerja | Patroli kapal cepat, sonar underwater, penyisiran udara | Ritual Larung, doa bersama, pantauan visual nelayan |
| Fokus Sasaran | Penyisiran koordinat 8 korban hilang | Dukungan moral, ikhtiar spiritual, informasi arus lokal |
Kerja keras tim gabungan di lapangan sering kali terkendala oleh gelombang tinggi yang mencapai 2,5 hingga 4 meter serta pandangan yang terbatas akibat kabut tebal dan debu aktivitas Gunung Anak Krakatau. Kendati demikian, sinergi antara teknologi pencarian modern dan informasi dari para nelayan lokal yang menguasai karakter perairan amat membantu menentukan arah dugaan pergeseran arus.
Harapan Tanpa Putus dari Masyarakat Pesisir
Solidaritas yang ditunjukkan oleh masyarakat pesisir Carita menjadi pelecut semangat bagi keluarga korban serta puluhan jurnalis yang terus memantau perkembangan di lokasi kejadian. Hilangnya 5 jurnalis dan 3 ABK bukan sekadar musibah navigasi pelayaran, melainkan panggilan kemanusiaan yang menyatukan berbagai lapisan elemen masyarakat.
"Tugas wartawan adalah menyampaikan kebenaran ke hadapan publik, dan kini saatnya masyarakat bersama-sama memberikan dukungan moral terkuat agar mereka segera ditemukan dalam keadaan selamat," tutur salah seorang jurnalis senior yang ikut mengawal penyisiran di Posko Utama Pelabuhan Paku.
Upacara Larung berakhir saat matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat Selat Sunda. Meski ritual adat telah usai, pandangan mata warga dan petugas tetap menatap jauh ke tengah lautan. Harapan masih membubung tinggi, mengiringi setiap deburan ombak dan laju kapal pencari yang terus berjuang melawan waktu demi menemukan kedelapan korban.
Masyarakat Carita menggelar tradisi adat dan keagamaan Larung di perairan Selat Sunda. Ritual ini menjadi bentuk doa bersama demi kelancaran operasi penyisiran 5 jurnalis dan 3 ABK yang hilang di sekitar Gunung Anak Krakatau. Simak laporan selengkapnya hanya di Patokan.com!



Comments (0)