Warga Bojonegara Sempat Tutup Akses, Desak Proyek Pelebaran Jalan Segera Terealisasi

Aksi penutupan jalan yang dilakukan oleh warga Bojonegara di Kabupaten Serang sempat memicu kemacetan panjang pada Senin pagi. Massa yang terdiri dari puluhan penduduk setempat menggelar unjuk rasa de...

Jul 28, 2026 - 08:42
0 0
Warga Bojonegara Sempat Tutup Akses, Desak Proyek Pelebaran Jalan Segera Terealisasi

Aksi penutupan jalan yang dilakukan oleh warga Bojonegara di Kabupaten Serang sempat memicu kemacetan panjang pada Senin pagi. Massa yang terdiri dari puluhan penduduk setempat menggelar unjuk rasa dengan cara menduduki badan jalan utama yang menghubungkan Bojonegara dan Puloampel. Mereka menuntut agar pemerintah segera merealisasikan proyek pelebaran jalan yang telah lama dinanti. Tanpa tindakan cepat, warga khawatir kondisi jalan yang semakin kritis akan menimbulkan lebih banyak insiden dan menghambat perekonomian lokal.

Demonstrasi yang berlangsung sejak pukul 07.00 WIB tersebut membuat lalu lintas di jalur strategis tersebut lumpuh total. Kendaraan pribadi, angkutan umum, hingga truk-truk pengangkut barang terpaksa berhenti atau mencari rute alternatif yang jauh lebih panjang. Warga membawa spanduk putih bertuliskan tuntutan pelebaran jalan dan mendesak perbaikan drainase yang buruk. Aksi ini tidak hanya menggambarkan kefrustasian panjang, tetapi juga menjadi saluran terakhir setelah berbagai dialog informal tidak membuahkan hasil.

Kondisi Jalan yang Memprihatinkan

Jalan Bojonegara-Puloampel merupakan urat nadi penghubung kawasan industri di Bojonegara dengan pelabuhan dan sentra-sentra ekonomi di Puloampel. Sayangnya, lebar badan jalan yang hanya sekira empat meter membuat mobilitas terhambat, terutama saat dua kendaraan besar berpapasan. Bahkan, di beberapa titik, pengendara harus saling mengalah dan berhenti di bahu jalan tanah yang kerap longsor jika hujan deras. Kondisi ini diperparah dengan permukaan aspal yang rusak, bergelombang, dan berlubang.

Menurut keterangan warga, jalan tersebut tidak pernah mengalami pelebaran berarti sejak puluhan tahun silam, sementara volume kendaraan meningkat tajam seiring tumbuhnya pabrik-pabrik dan pergudangan. Truk-truk kontainer dengan tonase besar sering melintas, memperparah kerusakan dan meningkatkan risiko kecelakaan. Suwarno, seorang tokoh masyarakat setempat, menyebut bahwa setidaknya lima kali kecelakaan fatal terjadi dalam enam bulan terakhir akibat pengendara yang berusaha menyalip di jalur sempit atau salah perhitungan saat berpapasan.

Tuntutan yang Membara

Warga tidak hanya meminta pelebaran jalan secara simbolis, namun menuntut rencana aksi yang nyata dan waktu pengerjaan yang jelas. Mereka mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Serang untuk segera menurunkan tim teknis dan mengucurkan anggaran yang telah dijanjikan. Beberapa warga bahkan mempertanyakan alokasi dana daerah yang dinilai lambat diserap. “Kami sudah bertahun-tahun menunggu, tetapi hanya dijadikan komoditas politik,” ujar salah seorang peserta aksi yang enggan disebut namanya.

Selain pelebaran, warga juga menginginkan pembangunan saluran air yang memadai, karena genangan air hujan sering merendam jalan dan merusak fondasi aspal. Mereka mengaku sudah berkali-kali menyampaikan aspirasi ke desa dan kecamatan, namun jawaban yang didapat selalu normatif: proyek dalam tahap pengkajian. Puncak kekecewaan itu pun meledak dalam aksi blokade yang turut diwarnai pembakaran ban bekas sebagai simbol protes.

Mediasi di Tengah Kemacetan

Setelah lebih dari tiga jam jalan tertutup, aparat kepolisian dari Polsek Bojonegara bersama unsur TNI dan pemerintah kecamatan turun tangan. Kapolsek Bojonegara, AKP Budi Santoso, menemui perwakilan warga untuk melakukan mediasi di tengah kerumunan. Beberapa perwakilan warga diundang untuk berdiskusi di balai desa dengan jaminan tuntutan akan disampaikan ke tingkat kabupaten. Setelah mendengar komitmen tersebut, massa bersedia membubarkan diri dan membuka kembali akses jalan.

Kesepakatan itu mencakup janji untuk menyelenggarakan pertemuan lanjutan antara warga, kepala desa, camat, dan dinas terkait dalam waktu satu minggu ke depan. Meski begitu, tidak sedikit warga yang masih skeptis. Mereka khawatir janji itu hanya akan menjadi angin lalu begitu lalu lintas kembali normal. “Kalau seminggu tidak ada kabar, kami akan turun lagi,” kata koordinator aksi, Herman, dengan nada tegas.

Catatan Proyek yang Tersendat

Informasi dari sumber internal di lingkungan Pemkab Serang menyebutkan bahwa proyek pelebaran Jalan Bojonegara-Puloampel sebenarnya telah masuk dalam daftar prioritas pembangunan infrastruktur pada tahun anggaran sebelumnya. Namun, proses tender mengalami kendala, dan ada indikasi pengalihan anggaran untuk penanganan darurat di wilayah lain. Hal ini tidak dikonfirmasi secara resmi, tetapi menjadi perbincangan di kalangan warga dan pegiat antikorupsi lokal.

Faktanya, jalan sepanjang kurang lebih 15 kilometer itu melayani ribuan kendaraan setiap hari, termasuk kendaraan logistik yang membawa hasil bumi dan produk industri. Jika tidak segera dilebarkan, biaya ekonomi yang ditanggung masyarakat—baik dari sisi waktu tempuh, biaya perbaikan kendaraan, maupun risiko kecelakaan—akan terus membengkak. Aktivis LSM setempat mendesak transparansi perencanaan proyek dan partisipasi warga agar tidak muncul dugaan penyimpangan.

Harapan di Balik Blokade

Blokade jalan yang dilakukan warga Bojonegara bukanlah tindakan pertama yang mengekspresikan kegelisahan atas infrastruktur di Banten. Di berbagai daerah, aksi serupa kerap menjadi cermin minimnya penyerapan aspirasi masyarakat. Sosiolog dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dr. Ratna Dewi, menyatakan bahwa aksi penutupan jalan merupakan bentuk solidaritas kolektif yang lahir dari ketidakpercayaan terhadap birokrasi. “Warga sudah tidak percaya jalur formal, maka mereka menggunakan jalan sebagai ruang dialog,” jelasnya.

Kini, warga berharap janji yang tercipta dari mediasi kali ini tidak sekadar menjadi formalitas. Mereka meminta adanya jadwal pelaksanaan yang pasti, publikasi papan informasi proyek, dan keterlibatan tokoh masyarakat dalam pengawasan. Dengan demikian, momentum aksi ini diharapkan bisa menjadi titik balik bagi perbaikan konektivitas di Serang utara.

Hingga berita ini diturunkan, Dinas PUPR Kabupaten Serang belum memberikan pernyataan resmi. Juru bicara Pemkab Serang mengaku akan segera menggelar konferensi pers setelah rapat internal koordinasi. Sementara itu, kondisi Jalan Bojonegara-Puloampel pagi ini kembali lengang namun menyisakan sisa-sisa ban bekas dan coretan tuntutan di aspal, pertanda bahwa gelombang protes bisa kapan saja kembali menyeruak jika janji tinggal janji.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User