Unhas Gandeng Pakar Jepang Bedah Risiko Banjir Akibat Perubahan Iklim
Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana teoritis di ruang akademis, melainkan ancaman nyata yang kian mendesak bagi wilayah pesisir dan kawasan perkotaan
Perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana teoritis di ruang akademis, melainkan ancaman nyata yang kian mendesak bagi wilayah pesisir dan kawasan perkotaan di Indonesia. Menanggapi dinamika ekologis yang semakin kompleks ini, Sekolah Pascasarjana Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar menggelar kuliah tamu internasional dengan menghadirkan pakar manajemen sumber daya air dari Fukuoka Institute of Technology, Jepang, Prof. Dr. Eng. Akira Tai. Forum ilmiah ini menjadi ruang krusial untuk mengurai benang kusut ancaman hidrometeorologi yang mengintai kawasan pesisir Sulawesi Selatan.
Dalam pemaparannya yang komprehensif, Prof. Akira Tai menggarisbawahi bahwa pergeseran iklim global telah mengubah pola presipitasi secara drastis. Intensitas hujan yang dulunya terdistribusi dalam durasi panjang kini sering kali tercurah dalam waktu singkat dengan volume yang sangat tinggi. Fenomena ini memicu risiko banjir bandang dan genangan hebat di kawasan perkotaan yang memiliki sistem drainase terbatas.
Ancaman Hidrometeorologi dan Pergeseran Pola Presipitasi
Dampak pemanasan global terhadap siklus hidrologi telah meningkatkan kerentanan wilayah pesisir secara signifikan. Menurut Prof. Tai, proyeksi iklim masa depan menunjukkan bahwa kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi sebesar 1,5 hingga 2,0 derajat Celsius dapat meningkatkan frekuensi kejadian cuaca ekstrem hingga 30 persen di kawasan Asia Tenggara.
"Kita tidak lagi bisa secara mutlak bergantung pada data historis curah hujan masa lalu untuk merancang infrastruktur pengendalian banjir. Perubahan iklim mempercepat anomali cuaca, sehingga model prediksi berbasis kecerdasan buatan dan integrasi data real-time menjadi kebutuhan mutlak dalam mitigasi bencana modern," ujar Prof. Dr. Eng. Akira Tai di hadapan civitas akademika Unhas.
Kawasan Sulawesi Selatan, khususnya Kota Makassar dan sekitarnya, merupakan wilayah yang sangat rentan terhadap kombinasi banjir luapan sungai dan banjir rob akibat kenaikan permukaan air laut. Tanpa adanya adaptasi infrastruktur dan tata ruang yang berbasis sains, risiko kerugian kerugian ekonomi dan jiwa akan terus meningkat setiap tahunnya.
Transformasi Paradigma Pengendalian Banjir: Belajar dari Jepang
Sebagai negara yang kerap dilanda bencana alam, Jepang telah mengembangkan pendekatan terpadu dalam mengelola risiko banjir. Prof. Tai menjelaskan bahwa mitigasi bencana tidak lagi berfokus semata pada pembangunan benteng fisik seperti tanggul beton yang masif (mitigasi struktural), melainkan juga pada pendekatan non-struktural yang berwawasan lingkungan.
Pendekatan modern menekankan pentingnya konsep Comprehensive Flood Risk Management yang menggabungkan retensi air di daerah hulu, pemanfaatan ruang terbuka hijau sebagai area resapan di hilir, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas.
| Parameter Mitigasi | Pendekatan Konvensional | Pendekatan Berketahanan Iklim (Modern) |
|---|---|---|
| Fokus Utama | Pembangunan tanggul & kanalisasi air cepat ke laut | Penampungan air, retensi alami, dan konsevasi daerah aliran sungai (DAS) |
| Basis Data Analysis | Data historis curah hujan 10–50 tahun terakhir | Proyeksi pemodelan iklim global dan kecerdasan buatan (AI) |
| Keterlibatan Masyarakat | Pasif (penerima dampak) | Aktif (berbasis komunitas dan tanggap darurat mandiri) |
Mendorong Kolaborasi Riset dan Kebijakan Berbasis Sains
Kuliah tamu ini bukan sekadar ajang transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi fondasi bagi penguatan kemitraan riset internasional antara Universitas Hasanuddin dan Fukuoka Institute of Technology. Pihak Sekolah Pascasarjana Unhas menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi penelitian kolaboratif yang berdampak langsung pada perumusan kebijakan publik di tingkat lokal maupun nasional.
Integrasi antara kepakaran akademis internasional dan pemahaman lokal atas karakteristik geografis Sulawesi Selatan diharapkan dapat melahirkan rekomendasi konkrit bagi pemerintah daerah. Langkah ini krusial untuk memastikan pembangunan infrastruktur di masa depan berorientasi pada resilience atau ketahanan terhadap bencana hidrometeorologi yang berkepanjangan.




Comments (0)