TVRI Kembali Jadi Official Broadcaster Piala Dunia, Menkomdigi Sampaikan Apresiasi

Jakarta – Lembaga Penyiaran Publik TVRI resmi mengemban amanah sebagai official broadcaster Piala Dunia FIFA, mengakhiri penantian selama hampir seperempat abad. Menteri Komunikasi dan Digital (Menk...

Jul 28, 2026 - 05:05
0 0
TVRI Kembali Jadi Official Broadcaster Piala Dunia, Menkomdigi Sampaikan Apresiasi

Jakarta – Lembaga Penyiaran Publik TVRI resmi mengemban amanah sebagai official broadcaster Piala Dunia FIFA, mengakhiri penantian selama hampir seperempat abad. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menyatakan apresiasi mendalam terhadap pencapaian ini, seraya menekankan bahwa momen bersejarah tersebut bukan sekadar kembalinya siaran langsung, melainkan lompatan besar bagi ekosistem penyiaran publik Indonesia.

Setelah 24 tahun absen dari gelaran sepak bola paling bergengsi di planet ini, TVRI kini bertransformasi menjadi pusat tontonan rakyat. Meutya Hafid menilai bahwa langkah ini merupakan jawaban atas dahaga masyarakat terhadap akses tontonan berkualitas tanpa sekat berbayar. "Ini merupakan momentum yang sangat berarti, tidak hanya bagi TVRI, tetapi juga bagi sejarah penyiaran publik kita," ujarnya dalam sebuah pernyataan yang diterima redaksi, Jumat. "Kehadiran kembali TVRI sebagai official broadcaster Piala Dunia setelah 24 tahun adalah simbol kebangkitan lembaga penyiaran publik yang inklusif dan modern."

Signifikansi Penyiaran Piala Dunia di Layanan Publik

Keputusan TVRI untuk menayangkan seluruh pertandingan Piala Dunia secara langsung dan gratis berdampak langsung pada pemerataan akses informasi dan hiburan. Di tengah dominasi platform berbayar dan layanan streaming eksklusif, kehadiran TVRI memberikan jaminan bahwa seluruh lapisan masyarakat—termasuk di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar)—dapat menyaksikan momen-momen krusial di lapangan hijau tanpa harus merogoh kocek lebih dalam.

Menkomdigi Meutya Hafid menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan visi pemerintah dalam transformasi digital yang inklusif. "Kementerian Komdigi mendorong agar lembaga penyiaran publik mampu beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan misi utamanya: melayani kepentingan publik," lanjutnya. Dengan menjadi official broadcaster, TVRI juga memiliki kesempatan untuk memperkuat kapasitas teknis dan sumber daya manusia, mengingat standar produksi siaran olahraga global sangat tinggi. Ini menjadi ajang pembuktian bahwa televisi publik Indonesia mampu bersaing secara profesional.

Dari Masa ke Masa: Perjalanan TVRI Menuju Panggung Dunia

Terakhir kali TVRI menyiarkan langsung Piala Dunia adalah pada edisi 2002 yang diselenggarakan di Korea Selatan dan Jepang. Kala itu, siaran TVRI menjadi jendela utama bagi jutaan pasang mata di Tanah Air. Sejak saat itu, hak siar Piala Dunia bergerak eksklusif ke pemain swasta dengan model bisnis berbagai paket berbayar. Situasi ini menciptakan kesenjangan akses yang cukup lebar, di mana hanya mereka yang memiliki televisi berlangganan atau koneksi internet stabil yang dapat menikmati tayangan penuh.

Namun, sejarah mencatat bahwa sejak era digital dan peralihan TVRI ke siaran digital terestrial, peta penyiaran nasional mulai bergeser. Manajemen TVRI melakukan berbagai pembenahan internal, mulai dari restrukturisasi konten hingga peningkatan infrastruktur siaran. Kerja keras ini membuahkan hasil dengan diperolehnya kepercayaan dari FIFA dan pemegang hak siar regional untuk menjadi bagian dari jaringan broadcaster resmi. Meutya Hafid menyebut pencapaian ini sebagai bukti nyata bahwa TVRI tidak lagi sekadar "televisi kuno", tetapi institusi yang adaptif dan diperhitungkan di level internasional.

Dukungan Penuh Pemerintah
Kementerian Komunikasi dan Digital tidak hanya memberikan ucapan selamat, tetapi juga menjamin dukungan regulasi dan infrastruktur agar penyelenggaraan siaran Piala Dunia melalui TVRI berjalan lancar. Koordinasi dengan Kementerian BUMN, pengelola multipleksing, serta para pemangku kepentingan industri penyiaran terus dilakukan. Meutya Hafid menegaskan bahwa momen ini harus menjadi katalis bagi kebangkitan konten-konten olahraga publik.

"Kita ingin masyarakat menyaksikan Piala Dunia tanpa hambatan, dengan kualitas gambar dan suara terbaik. Ini bukan soal komersial, melainkan soal hak publik terhadap informasi dan hiburan. Pemerintah hadir untuk memastikan itu," tegas Meutya.

Dampak Luas Bagi Industri Kreatif dan Ekonomi Daerah

Penayangan Piala Dunia melalui TVRI juga diproyeksikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi lokal, terutama di sektor informal seperti kuliner dan usaha kecil menengah yang memanfaatkan momentum nonton bareng. Pemerintah daerah diharapkan dapat memfasilitasi ruang publik dengan layar lebar yang bersumber dari siaran TVRI, sehingga terbentuk ekosistem hiburan rakyat yang sehat dan produktif.

Selain itu, dari sisi industri kreatif, TVRI membuka peluang kolaborasi dengan para kreator konten lokal untuk memproduksi program pendukung, analisis pertandingan, hingga dokumenter pendek yang menyuarakan perspektif Indonesia dalam kancah sepak bola global. Langkah ini diyakini mampu menumbuhkan bakat-bakat baru di bidang jurnalistik olahraga dan produksi televisi.

Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski euforia melingkupi kembalinya TVRI sebagai official broadcaster, tantangan teknis tidak bisa diabaikan. Siaran dengan teknologi high-definition, kestabilan transmisi di seluruh pelosok negeri, serta keandalan perangkat di stasiun-stasiun pemancar menjadi pekerjaan rumah yang harus segera dituntaskan. Tim teknis TVRI disebut telah menyiapkan langkah mitigasi, termasuk penggandaan server dan pengujian stres pada jaringan distribusi siaran digital.

Meutya Hafid mengakhiri pernyataannya dengan nada optimistis: "Kami percaya TVRI mampu menjalankan tugas ini dengan baik. Piala Dunia bukan hanya tentang 22 pemain yang berlari mengejar bola; ini tentang persatuan, tentang mimpi, dan tentang bagaimana teknologi membawa kita lebih dekat. Dan kali ini, TVRI menjadi bagian dari perjalanan itu. Mari kita sukseskan bersama."

Dengan kembalinya TVRI ke panggung Piala Dunia, rakyat Indonesia kini memiliki alasan lebih untuk berkumpul, bersorak, dan merayakan pesta sepak bola dunia tanpa terbebani biaya. Momentum ini diharapkan menjadi titik awal bagi transformasi penyiaran publik yang lebih progresif, transparan, dan berpihak sepenuhnya kepada masyarakat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User