Tukang Parkir Beberkan Detik-Detik Penemuan Mayat di Klinik
Jakarta — Sebuah kesaksian mengejutkan datang dari seorang juru parkir yang berada di lokasi saat jasad Sutrimo ditemukan di sebuah klinik kesehatan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Peris...
Jakarta — Sebuah kesaksian mengejutkan datang dari seorang juru parkir yang berada di lokasi saat jasad Sutrimo ditemukan di sebuah klinik kesehatan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Peristiwa ini langsung menyita perhatian publik dan mengguncang warga sekitar yang selama ini mengenal klinik tersebut sebagai tempat praktik dokter umum yang cukup ramai dikunjungi pasien.
Keheningan Pecah di Lahan Parkir
Pagi itu, suasana di sekitar klinik masih sepi. Saksi yang sehari-hari mengatur kendaraan pasien di lahan parkir klinik mengaku tidak melihat tanda-tanda mencurigakan sebelumnya. Namun ketika seorang perawat berteriak histeris dari dalam bangunan, ia segera berlari mendekat. “Saya kira ada pasien yang pingsan atau terjatuh, tapi setelah saya lihat, sudah terbujur kaku di ruang periksa,” ujar saksi yang enggan disebutkan namanya tersebut saat diwawancarai di lokasi kejadian.
Sang juru parkir lantas menceritakan bahwa tubuh Sutrimo ditemukan dalam posisi terlentang dengan wajah menghadap ke samping. Pakaian yang dikenakan masih rapi, namun terlihat lebam di beberapa bagian tubuh. Saksi mengaku sempat diminta oleh pihak klinik untuk membantu menutup akses masuk dan menjaga agar warga yang penasaran tidak mendekat sebelum polisi tiba.
Detik-Detik yang Direkam Ingatan
Menurut pengakuannya, malam sebelum penemuan, ia bertugas hingga larut dan sempat melihat seorang pria dengan ciri-ciri serupa dengan korban memasuki klinik sendirian. “Saya tidak curiga karena memang sering ada pasien yang datang malam. Tapi yang aneh, biasanya kalau malam, dokter sudah tidak praktik. Saya pikir mungkin ada janji khusus,” tuturnya. Saksi itu menambahkan bahwa ia tidak mendengar suara keributan atau pertengkaran sepanjang malam itu.
Keesokan harinya, tepat sebelum klinik buka, ia sudah mencium aroma tidak sedap dari arah ruang periksa. Awalnya ia mengira itu bau obat atau cairan kimia yang tumpah. Namun setelah pintu ruangan dibuka oleh perawat, terkuaklah kenyataan pahit yang kini sedang diselidiki oleh jajaran Polres Metro Jakarta Selatan.
Respons Aparat dan Olah TKP
Tak lama setelah laporan masuk, tim Inafis langsung mensterilkan area dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Kapolsek Kebayoran Baru, dalam keterangan resminya, menyatakan bahwa pihaknya masih menunggu hasil autopsi untuk memastikan penyebab kematian. “Kami belum bisa menyimpulkan apakah ini murni karena sakit, kecelakaan, atau ada tindak pidana di baliknya. Semua kemungkinan masih terbuka,” ujarnya.
Polisi juga telah meminta keterangan dari sejumlah saksi, termasuk pemilik klinik, dua orang perawat, dan juru parkir yang pertama kali melihat situasi mencurigakan. Dari hasil pemeriksaan sementara, tidak ditemukan tanda-tanda pembobolan atau barang berharga yang hilang. Hal ini mempersempit dugaan perampokan, namun belum menutup kemungkinan motif lain.
Rekam Medis dan Jejak Digital
Tim penyidik kini tengah mendalami rekam medis Sutrimo untuk melihat riwayat penyakit yang mungkin diderita. Selain itu, polisi juga meminta data rekaman kamera pengawas di sekitar klinik. Sayangnya, berdasarkan informasi awal, kamera di dalam klinik sedang dalam kondisi rusak dan belum diperbaiki. Hal ini menjadi kendala tersendiri dalam mengungkap peristiwa yang terjadi di dalam ruangan.
Sementara itu, jajaran kepolisian memastikan akan bekerja secara transparan dan mengedepankan prinsip kehati-hatian. “Kami tidak ingin berspekulasi. Tunggu hasil laboratorium forensik untuk mengetahui ada tidaknya zat berbahaya atau luka yang mencurigakan pada tubuh korban,” tambah Kapolsek.
Duka dan Tanda Tanya Keluarga
Kabar duka ini sampai ke telinga keluarga Sutrimo pada sore harinya. Pihak keluarga yang datang ke klinik tak kuasa menahan tangis. Salah seorang kerabat korban mengaku tidak menyangka karena Sutrimo dikenal sebagai pribadi yang sehat dan jarang mengeluh sakit. “Dia tidak pernah cerita mau berobat ke klinik itu. Kami bingung kenapa dia ada di sana,” ucapnya dengan suara parau.
Keluarga berharap polisi dapat segera mengungkap fakta yang sesungguhnya. Mereka juga mempertanyakan standar operasional klinik yang membiarkan seorang pasien meninggal tanpa ada yang menyadari hingga pagi hari. Apalagi, klinik tersebut buka hingga pukul 22.00 waktu setempat, sehingga seharusnya ada petugas yang berjaga.
Panggilan bagi Regulasi Klinik
Temuan ini pun memicu perbincangan di kalangan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Beberapa kalangan mendesak adanya audit menyeluruh terhadap klinik-klinik kecil yang beroperasi di permukiman padat penduduk. Mereka menyoroti pentingnya pengawasan terhadap jam operasional, keberadaan tenaga medis saat malam hari, serta ketersediaan alat komunikasi darurat.
Seorang pengamat kebijakan kesehatan menyatakan, “Kejadian ini harus menjadi pembelajaran. Klinik bukan sekadar tempat praktik, melainkan fasilitas kesehatan yang bertanggung jawab atas keselamatan pasien. Kalau sampai jenazah baru ditemukan keesokan harinya, berarti ada yang tidak beres dalam prosedur mereka.”
Sementara itu, juru parkir yang menjadi saksi kunci berharap kesaksiannya bisa membantu polisi mengurai benang kusut perkara ini. Ia mengaku masih terguncang karena baru pertama kali melihat jenazah dalam kondisi seperti itu. “Saya hanya ingin yang sebenarnya terungkap. Semoga almarhum mendapat keadilan,” katanya lirih.
Hingga berita ini disusun, polisi masih terus mengumpulkan bukti dan memanggil sejumlah saksi tambahan. Publik pun menanti dengan harap-harap cemas apakah kejadian di klinik sederhana ini akan membuka tabir sebuah kelalaian serius, atau justru menyembunyikan fakta yang jauh lebih kelam.
Comments (0)