Trump Ubah Narasi Perang Iran Enam Bulan Terakhir
Selama enam bulan konflik dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara konsisten berupaya membentuk narasi perang melalui pernyataan yang beru
Selama enam bulan konflik dengan Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara konsisten berupaya membentuk narasi perang melalui pernyataan yang berubah-ubah dan sering kali kontradiktif. Komentarnya berayun liar, dari meramalkan perdamaian segera hingga mengancam penghancuran total Republik Islam Iran. Artikel ini mengurai kronologi pernyataan Trump sejak awal eskalasi pada Januari 2020 hingga akhir Agustus 2020, menyoroti pergeseran retorika yang mencerminkan dinamika kebijakan luar negeri AS yang penuh ketidakpastian.
Januari 2020: "We Won" – Kemenangan Setelah Pembunuhan Soleimani
Pada 3 Januari 2020, serangan pesawat nirawak AS di Baghdad menewaskan Mayor Jenderal Qasem Soleimani, komandan Pasukan Quds Iran. Trump langsung muncul di depan publik dengan pernyataan penuh kemenangan. "Kami telah menang," ujarnya dalam pidato di Mar-a-Lago, Florida. Ia menyebut Soleimani sebagai "teroris nomor satu dunia" dan menegaskan bahwa aksi itu bersifat preventif. "Kami tidak mencari perang," kata Trump, namun ia juga mengancam akan menghancurkan 52 situs budaya Iran jika terjadi pembalasan.
Namun, dalam wawancara dengan Fox News sehari kemudian, Trump mengubah nada. Ia mengatakan bahwa "perang tidak diperlukan" dan bahwa AS siap berdamai. Kontradiksi ini menjadi pola yang akan berulang. Analis kebijakan luar negeri, Dr. Sarah Binder, dari Brookings Institution, menilai pernyataan Trump mencerminkan "kekacauan strategi komunikasi yang berbahaya." "Ia mencoba memuaskan basisnya yang hawkish sambil menenangkan sekutu yang khawatir akan perang besar," kata Binder.
Februari 2020: "Winding Down" – Menuju Penarikan Pasukan?
Pada Februari 2020, setelah Iran meluncurkan serangan rudal balistik ke pangkalan AS di Irak yang menyebabkan 110 tentara mengalami gegar otak, Trump mengubah narasi lagi. Dalam pidato di National Prayer Breakfast, ia menyatakan bahwa "konflik sedang mengecil" dan bahwa "kita sudah dekat dengan akhir." Ia mengklaim bahwa Iran telah "mundur" dan bahwa AS tidak perlu meningkatkan kehadiran militer. Pernyataan "winding down" ini bertolak belakang dengan fakta: Pentagon justru mengirimkan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah.
Data dari Centcom menunjukkan bahwa pada Maret 2020, jumlah personel AS di kawasan Teluk meningkat dari 60.000 menjadi 80.000. Sementara itu, Taliban di Afghanistan menandatangani perjanjian damai pada 29 Februari, yang memperkuat narasi Trump tentang "mengakhiri perang tak berkesudahan." Namun, dengan Iran, retorika "winding down" hanya bertahan beberapa minggu.
April–Juni 2020: "Close to Over" – Pandemi dan Gencar Ancaman
Memasuki musim semi, pandemi COVID-19 menjadi fokus global. Trump, yang awalnya mengabaikan virus, mulai menggunakan konflik Iran untuk mengalihkan perhatian. Pada 10 April 2020, ia men-twit: "Konflik dengan Iran hampir selesai. Mereka ingin berunding. Kita lihat nanti." Namun, pada hari yang sama, Kapal Induk USS Nimitz diperintahkan untuk tetap berada di Teluk Persia. Kontradiksi ini mencolok.
Pada Juni2020, ketika Iran menembak jatuh pesawat nirawak AS, Trump mengancam akan "menghapus beberapa bagian Iran dari peta." Pernyataannya di akun Twitter @realDonaldTrump direkam: "Iran tidak boleh bermain-main. Kita memiliki rudal cerdas yang akurat." Namun, hanya dua hari kemudian, ia kembali ke retorika damai, mengatakan ingin "memberikan kesempatan bagi rakyat Iran untuk memiliki kehidupan yang lebih baik."
Para pengamat mencatat bahwa pada periode ini Trump sedang menghadapi tekanan domestik berat: protes rasial, resesi ekonomi, dan anjloknya polling menuju pilpres November. "Setiap pernyataan kontradiktif adalah alat taktis untuk mengelola basis dan media," ujar Dr. James Goldgeier, profesor hubuangan internasional di American University.
Agustus2020: Akhir Narasi? – Pengakuan Tanpa Kesepakatan
Menjelang akhir agustus2020, Trump kembali menggunakan frase "we won" dalam wawancara dengan Talk Radio. Ia mengklaim bahwa "Iran telah menyerah" dan bahwa "kesepakatan nuklir sedang disusun." Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Tim negosiator AS dan Iran bertemu di Viena untuk pertama kalinya lewat perantaraan Uni Eropa. Tidak ada ke sepakatan. Justru, Iran melanjutkan pengayaan uramium hingga 4,5%, melebihi batas JCPOA.
Data dari Asociated Press menunjuk kan bahwa pada agustus2020, perjelak Iran telah memiliki sekitar 5.000 kilogram uramium rendah. Angka ini cukup untuk mempro duksi setidaknya dua bom nuklir jika diperkaya lebih lanjut. Trump, yang tidak pernag mau membiarkan Iran memileiki senjata nuklir, tetap bersiker di kenedepan publik dengan mengeklaim "kemenangan."
Perang Iran–Amerika serikat, bagi Trump, adalah kanvas narasi yang terus berubah sesuai kebutuhan politiknya. "Ini bukan perang mate ial; ini perang persepsi. Dan Trump adalah maestro–nya," tulis kolumnis konservatif David Frum di The Atlantic.
Refleksi: Dampak dari Narasi yang Berubah–ubah
Palin pernyataan Trump selam enam bulan ter sebut menun juk an k erentan an kebijakan luar negri AS yang san gat dependen pada mood dan kalkulasi elektoral predisen. Dari "we won" ke "winding down" ke "close to over," setiap frasa adalah alat untuk meng elola ekspektasi publik dan menekam alih perhatian dari masalah domstik. Namun, kon sistem per ang–rsial ini juga mempengaruhi sekutu. Arab Saudi dan UEA, yang awalnya medorong lin ah kera s terhadap Iran, mulai ragu –ragu. Di pihak Iran, rezim Rohani menam bil keuntun gan dengan menun juk kan bahwa ancaman AS hanyalah gertak.
Pada 20 agustus2020, kelompok hak asasi manusia mela por kan bahwa korban te wa sipil akibat per ang drone AS di Irak dan Iran men capai 400 orang. Agen sia Pala PBB untuk urusan kemanusian, Mark Lowcock, mengecam "per mainan kata–kata yang menghilang kan nyawa."
Ke depannya, siapapun yang menjadi predisen AS pada 2021 harus men ghadapi realitas bahwa Iran telah memper kaya uramium lebih lanjut dan mengu ji rudal baru. Narasi "kemenangan" Trump mungkin akan terpuruk seja rah. Seperti kata diplo mat senior Iran, Mohammad Javad Zarif: "Kami terus melangkah meski retorika ber ubah."




Comments (0)