Tragedi Berenang di Cisurupan, Siswi Tewas Tenggelam
Garut — Sebuah tragedi menimpa delapan siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) saat berenang di Mata Air Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peristiwa nahas itu menyebabkan satu orang meninggal duni...
Garut — Sebuah tragedi menimpa delapan siswi Madrasah Tsanawiyah (MTs) saat berenang di Mata Air Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Peristiwa nahas itu menyebabkan satu orang meninggal dunia, sementara tujuh lainnya berhasil selamat setelah sempat mengalami kepanikan di tengah kolam alami yang terkenal dengan keindahan dan kedalamannya.
Kronologi Kejadian
Berdasarkan informasi yang dihimpun, peristiwa terjadi pada hari Selasa sekitar pukul 14.00 WIB. Kedelapan siswi tersebut datang bersama rombongan sekolah untuk mengikuti kegiatan rekreasi sekaligus pembelajaran alam. Mereka memutuskan untuk berenang di mata air yang memiliki debit air cukup deras dan kedalaman bervariasi hingga lima meter. Tanpa disadari, beberapa di antaranya terbawa arus bawah yang kuat dan mulai tenggelam.
Terjadilah teriakan panik dari beberapa siswi yang tidak bisa mengendalikan diri. Warga sekitar yang mendengar teriakan segera bergegas menolong. Bersama dengan guru pendamping, mereka berhasil mengangkat tujuh siswi ke tepian dalam kondisi lemas dan mengalami hipotermia ringan. Namun, satu siswi dinyatakan hilang setelah pencarian awal selama 15 menit.
Proses Evakuasi dan Identifikasi Korban
Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Garut, Polsek setempat, serta relawan segera melakukan pencarian intensif. Dengan menggunakan peralatan selam dan alat bantu lainnya, jenazah korban ditemukan sekitar pukul 16.30 WIB di dasar kolam pada kedalaman sekitar tujuh meter. Korban diketahui bernama Amelia Putri (14), siswi kelas VIII MTs Al-Hidayah.
Korban langsung dibawa ke RSUD dr. Slamet Garut untuk dilakukan visum. Sementara tujuh siswi lainnya yang selamat telah diberikan pertolongan medis dan trauma healing di Puskesmas terdekat. Kondisi mereka dilaporkan stabil namun masih dalam pengawasan psikologis akibat kejadian traumatis tersebut.
Keterangan Saksi dan Peringatan Keselamatan
Menurut keterangan Asep Saepuloh (45), warga setempat yang ikut menolong, para siswi tampak tidak mengenal medan dan tidak menggunakan alat pelampung. “Mata air ini memang terkenal dengan kedalaman dan pusaran airnya. Seharusnya tidak berenang tanpa pengawasan orang dewasa yang paham medan,” ujarnya saat ditemui di lokasi. Ia menambahkan bahwa sudah sering terjadi insiden serupa, namun sering kali diabaikan oleh pengunjung.
Pihak sekolah menyatakan sangat berduka atas kejadian ini. Kepala MTs Al-Hidayah, Hj. Siti Nurhasanah, menyampaikan permohonan maaf kepada orang tua korban dan berjanji akan mengevaluasi kembali prosedur kegiatan wisata siswa. “Kami akan lebih ketat dalam pengawasan dan mewajibkan penggunaan pelampung untuk setiap kegiatan air ke depannya,” tegasnya.
Respons Pemerintah dan Tindakan Preventif
Kapolsek Cisurupan, Iptu Dedi Mulyana, menyatakan pihaknya telah memasang rambu peringatan di sekitar lokasi mata air. “Ini bukan kali pertama terjadi kecelakaan di sini. Kami mengimbau kepada semua pengunjung agar selalu waspada dan tidak berenang di area yang tidak aman,” ujarnya. Selain itu, Pemkab Garut melalui Dinas Pariwisata berencana melakukan sosialisasi keselamatan wisata air secara berkala.
Kejadian ini menjadi pengingat bagi publik akan pentingnya kesadaran akan keselamatan saat beraktivitas di alam terbuka. Mata air Cisurupan yang jernih dan segar memang memikat, namun bahaya mengintai mereka yang tidak mematuhi aturan. Semoga tragedi serupa tidak terulang kembali, dan keluarga korban diberikan ketabahan.
Hingga berita ini diturunkan, jenazah Amelia telah diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di kampung halamannya di Kecamatan Tarogong Kidul. Sementara itu, tujuh rekannya dijadwalkan akan pulang ke rumah masing-masing setelah mendapatkan izin dari tim medis dan psikolog.
Comments (0)