Tiga Kali Seleksi Akpol, Gilang Buktikan Tekad Pantang Menyerah

Pantang mundur sebelum berhasil—itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Gilang Bonatua Harahap, pemuda 19 tahun asal Sumatera Utara yang kembali mendaftar dalam seleksi Akademi Kepolisian (Akpol) un...

Jul 27, 2026 - 22:40
0 0
Tiga Kali Seleksi Akpol, Gilang Buktikan Tekad Pantang Menyerah

Pantang mundur sebelum berhasil—itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Gilang Bonatua Harahap, pemuda 19 tahun asal Sumatera Utara yang kembali mendaftar dalam seleksi Akademi Kepolisian (Akpol) untuk ketiga kalinya. Dua kegagalan sebelumnya tidak membuat langkahnya surut. Sebaliknya, setiap penolakan justru menjadi bahan bakar untuk terus memperbaiki diri dan memantapkan persiapan.

Gilang mewakili Polda Sumatera Utara dalam perhelatan seleksi tahun ini. Ia bukan wajah baru di kalangan panitia dan peserta. Pada dua kesempatan sebelumnya, ia harus mengakui keunggulan para pesaing. Namun, alih-alih patah arang, Gilang justru kian terpacu. “Setiap kali gagal, saya selalu bertanya: apa yang kurang dari saya? Lalu saya perbaiki,” ujarnya suatu ketika. Pola pikir seperti inilah yang kini menjadi senjata utamanya.

Dukungan Orang Tua yang Tak Pernah Luntur

Di balik keteguhan seorang anak muda, sering kali berdiri orang tua yang tak lelah mendukung. Bagi Gilang, restu dan dorongan dari ayah dan ibunya adalah kekuatan terbesar yang membuatnya berani mencoba lagi. Meski harus menyaksikan anaknya menelan kekecewaan dua kali, mereka tidak pernah sekalipun menyuruhnya berhenti. Sebaliknya, mereka terus mengingatkan bahwa proses tidak akan mengkhianati hasil.

“Orang tua saya selalu bilang, jangan pernah malu untuk gagal. Malu itu kalau tidak berani mencoba lagi,” kenang Gilang. Kalimat sederhana itu begitu membekas. Setiap kali lelah dan ragu datang, bayangan senyum bangga orang tuanya mampu menghapus segala keraguan. Dalam banyak perbincangan, Gilang kerap menyebut bahwa keberanian untuk bangkit tidak sepenuhnya miliknya sendiri; sebagian besar ia peroleh dari rumah, dari keluarga yang tidak pernah menuntut kesempurnaan, melainkan kesungguhan.

Mengevaluasi Diri, Bukan Menyalahkan Keadaan

Kegagalan kerap memunculkan dua respons: menyalahkan faktor luar atau berkaca pada diri sendiri. Gilang memilih yang kedua. Setelah dinyatakan tidak lolos pada seleksi pertama, ia menyadari bahwa kemampuan fisik dan akademiknya masih perlu diasah. Ia kemudian menyusun jadwal latihan yang lebih disiplin dan mencari mentor yang bisa membimbingnya.

Pada seleksi kedua, perbaikan terlihat signifikan. Ia mampu melewati beberapa tahapan yang sebelumnya menjadi batu sandungan. Sayangnya, di ujung seleksi, ia masih harus mengakui bahwa persaingan menuntut persiapan yang lebih menyeluruh. Bukannya frustrasi, Gilang kembali mencatat titik-titik kelemahannya: aspek psikotes dan wawancara menjadi fokus baru yang harus ia tingkatkan.

Proses evaluasi diri yang dijalani Gilang tidak instan. Ia kerap merenung, membaca ulang materi psikologi, berlatih berbicara di depan cermin, dan meminta kritik dari kakak senior yang lebih berpengalaman. Tidak jarang ia merasa lelah dan hampir menyerah, tetapi setiap kali itu terjadi, ia kembali mengingat tujuannya: menjadi perwira polisi yang bisa mengabdi bagi bangsa dan membanggakan keluarga.

Persiapan Matang dan Strategi Baru

Untuk seleksi ketiga kali ini, Gilang telah merancang strategi yang berbeda. Ia tidak lagi hanya mengandalkan energi muda dan semangat semata. Setiap tahapan seleksi—mulai dari pemeriksaan administrasi, kesehatan, psikologi, akademik, hingga kesemaptaan jasmani—dihadapinya dengan perencanaan yang matang.

Di bidang fisik, ia meningkatkan porsi latihan lari dan kekuatan otot. Ia juga mengatur pola makan dan waktu istirahat agar tubuhnya selalu prima. Sementara itu, untuk tes akademik, ia mengulang pelajaran dari berbagai sumber, termasuk soal-soal tahun sebelumnya yang ia kumpulkan. Tak lupa ia melatih ketenangan dan fokus dalam menghadapi tekanan saat psikotes, sesuatu yang ia akui pernah menjadi kelemahan pada seleksi sebelumnya.

Yang paling mencolok dari persiapan kali ini adalah kedewasaan mentalnya. Gilang tidak lagi panik ketika melihat ribuan peserta lain yang tampak lebih percaya diri. Ia belajar bahwa kompetisi terbesar adalah melawan rasa tidak percaya diri sendiri. “Saya sudah tidak membandingkan diri lagi. Saya hanya fokus jadi versi terbaik dari diri saya sendiri,” ucapnya mantap.

Semangat yang Menular

Kisah Gilang menjadi cermin bagi banyak anak muda bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Di tengah budaya instan yang kerap membuat generasi muda mudah menyerah, sosok seperti Gilang memberi contoh tentang arti ketekunan dan kemauan untuk terus belajar. Ia menunjukkan bahwa mimpi besar tidak harus dicapai dalam satu lompatan, melainkan melalui serangkaian langkah kecil yang konsisten, meski kadang tergelincir.

Tidak sedikit teman-teman sesama peserta yang terinspirasi oleh perjalanannya. Beberapa di antaranya bahkan menjadikan Gilang sebagai penyemangat, mengingat betapa ia tetap tegar meski harus melewati proses yang berulang. Dalam obrolan ringan di sela-sela seleksi, Gilang sering berbagi cerita tentang pentingnya menjaga mental dan terus berbenah, tanpa harus malu mengakui kelemahan.

Menanti Hasil dengan Lapang Dada

Kini, setelah melalui rangkaian tes yang melelahkan, Gilang hanya bisa menunggu pengumuman akhir. Ia mengaku sudah berusaha maksimal dan menyerahkan sepenuhnya hasil kepada Tuhan. Apapun keputusan panitia nanti, ia telah membuktikan bahwa dirinya bukan tipikal orang yang mudah menyerah. Jika kali ini belum berhasil, ia akan kembali mengevaluasi dan mencoba lagi. Namun keyakinan besarnya menyimpan harap: inilah tahun di mana kerja kerasnya selama ini akan berbuah manis.

Kisah Gilang mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki garis waktu masing-masing dalam meraih impian. Ada yang singkat, ada pula yang panjang berliku. Dan di sepanjang jalan itu, yang terpenting bukanlah seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa tahan kita untuk terus berjalan. Di usia yang masih belia, Gilang telah membuktikan bahwa semangat pantang menyerah adalah bekal paling berharga untuk masa depan, apa pun rintangannya.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User