Teatrikal dan Ritual Adat Iringi Peringatan 30 Tahun Kudatuli
Refleksi Sejarah di Atas PanggungRuang publik di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, siang itu berubah menjadi panggung memori. Puluhan peserta yang mengenakan kostum era 1990-an menghidupkan kembali peri...
Refleksi Sejarah di Atas Panggung
Ruang publik di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, siang itu berubah menjadi panggung memori. Puluhan peserta yang mengenakan kostum era 1990-an menghidupkan kembali peristiwa yang mengguncang republik: penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996. Peringatan tiga dekade Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli, atau yang lebih dikenal sebagai Kudatuli, digelar bukan sekadar dengan upacara biasa, melainkan melalui perpaduan teater rakyat dan ritual adat yang sarat makna. Aksi teatrikal ini melibatkan seniman jalanan, aktivis, serta sejumlah penyintas yang masih menyimpan luka dari insiden tersebut.
Di satu sisi jalan, terlihat sekelompok orang berkaos merah berperan sebagai bagian dari pendukung Megawati Soekarnoputri yang kala itu menjadi simbol perlawanan. Mereka berjaga di depan replika sederhana gedung bercat putih yang menggambarkan markas sentral perjuangan. Dari arah berlawanan, rombongan lain dengan ikat kepala kuning dan membawa pentungan kayu menggambarkan massa dari kubu Soerjadi, ketua umum hasil kongres yang diintervensi kekuasaan. Konfrontasi berlangsung dengan intensitas emosi yang dikoreografi sedemikian rupa sehingga penonton yang memadati trotoar turut merasakan ketegangan atmosfer 1996.
Koreografi Pertempuran dan Bunyi Kenangan
Bukan sembarang pertunjukan, adegan-adegan itu memadukan gerakan pantomim, iringan perkusi dengan alat-alat sederhana seperti galon dan tong bekas, serta dialog pendek yang diambil dari kesaksian sejarah. Setiap hentakan kaki dan teriakan "hidup Megawati" yang digaungkan ulang menjadi semacam medium katarsis kolektif. Seorang peserta yang memerankan salah satu korban penyerbuan tampak terbaring dengan riasan luka di kepala, sementara yang lain bergotong-royong menggotongnya ke dalam bangunan yang sudah porak-poranda. Suasana hening sesaat, lalu diganti dengan lantunan doa tradisional dari pemuka adat.
Kehadiran unsur ritual adat menjadi pembeda utama peringatan kali ini. Sebelum teatrikal dimulai, para tetua dari Komunitas Adat Nusantara memimpin prosesi merti bumi dan larung doa untuk arwah korban. Dupa dibakar, air suci dipercikkan, dan sesajen dari hasil bumi ditata melingkar sebagai simbol pemulihan alam dan manusia yang terusik oleh kekerasan politik. "Kami ingin mengembalikan ingatan ini ke semesta, bukan untuk balas dendam, tapi untuk keseimbangan," ujar salah satu pemangku adat yang memandu upacara. Ritual ini sekaligus mengikat rasa kemanusiaan yang kerap tergerus dalam narasi politik praktis.
Dari Luka Kolektif Menuju Pembelajaran Demokrasi
Kudatuli bukan sekadar konflik antar-faksi partai. Peristiwa itu menjadi penanda penting perjalanan demokrasi Indonesia, yang memperlihatkan bagaimana otoritarianisme mengintervensi kedaulatan sebuah organisasi politik. Ribuan orang terlibat dalam aksi saling serang, banyak di antaranya mengalami luka berat, dan hingga kini sejumlah kasus pelanggaran HAM yang menyertainya belum sepenuhnya diselesaikan secara hukum. Oleh karena itu, peringatan berbasis budaya semacam ini dinilai sebagai jalan agar generasi muda bisa memahami konteks sejarah tanpa harus terjebak pada dendam politik yang tak berkesudahan.
"Anak-anak muda harus tahu bahwa demokrasi tidak datang begitu saja," kata seorang inisiator kegiatan yang memilih untuk tidak disebutkan namanya. Ia menambahkan, narasi yang disampaikan melalui medium seni lebih mudah menancap di benak masyarakat ketimbang seminar atau diskusi formal. Pantauan di lokasi memang menunjukkan antusiasme dari berbagai kalangan: mulai dari mahasiswa, pekerja kreatif, hingga warga sekitar yang mungkin baru kali ini mendengar detail Kudatuli. Sebagian dari mereka tampak merekam adegan demi adegan dengan ponsel, sementara yang lain larut dalam hening reflektif.
Tubuh sebagai Arsip, Panggung sebagai Saksi
Yang menarik dari produksi teatrikal ini adalah keterlibatan langsung para penyintas dan saksi mata. Beberapa di antaranya mengambil peran sebagai dirinya sendiri di masa lalu, membiarkan tubuh mereka menjadi arsip yang bersuara. Seorang pria paruh baya yang berdiri di pinggir panggung spontan menunjukkan bekas luka di lengan kanannya—sebuah pengingat fisik dari hantaman benda tumpul saat ia mencoba menyelamatkan diri melalui atap gedung. Rekannya, seorang perempuan yang kini berusia 60-an, meneriakkan kembali yel-yel perjuangan yang sama persis seperti tiga puluh tahun silam, kali ini dengan mata berkaca-kaca.
Asap beraroma rempah dari prosesi ritual berpadu dengan debu jalanan yang teraduk dalam adegan penyerbuan. Para penampil tidak hanya menggunakan properti, tetapi juga simbol-simbol kuat seperti bendera merah putih yang disobek dan kemudian dijahit kembali sebagai metafora persatuan yang sempat terkoyak. Ketika teatrikal mencapai klimaks, hujan buatan dari selang pemadam kebakaran disemprotkan ke area pertunjukan, mengingatkan kembali bahwa aparat keamanan saat itu membubarkan massa dengan water cannon tanpa pandang bulu. Detik itu, batas antara masa lalu dan masa kini melebur. Tidak sedikit penonton yang terisak pelan.
Menjaga Api Ingatan Lewat Budaya
Peringatan tiga puluh tahun Kudatuli dalam format semacam ini menegaskan bahwa ingatan kolektif bisa dirawat melalui jalur budaya yang ekspresif dan transformatif. Alih-alih hanya menjadi seremoni rutin, peristiwa itu diubah menjadi ruang dialektika antara sejarah, seni, dan spiritualitas. Di penghujung acara, semua yang hadir diajak membentuk lingkaran besar seraya menyalakan lilin kecil yang ditata membentuk angka 1996. Tanpa orasi politik, tanpa membawa bendera partai tertentu, momen itu terasa begitu jernih sebagai ajang perenungan. Hanya ada api kecil yang berkedip-kedip, seakan berbisik: jangan lupakan, tapi juga jangan biarkan luka ini membusuk.
Menjelang senja, saat sebagian besar penonton mulai beranjak, sejumlah seniman masih duduk melingkar menabuh gamelan ritmis sambil melantunkan tembang Jawa yang syairnya diubah menjadi doa bagi korban. Ritual adat ditutup dengan pelepasan burung merpati dan penaburan bunga di titik yang diyakini sebagai posisi para korban terjatuh tiga puluh tahun silam. "Ini bukan sekadar nostalgia," gumam salah seorang penampil. "Ini adalah ikhtiar untuk terus membangun negeri yang tak lagi mengorbankan rakyatnya sendiri demi kekuasaan." Di antara genangan air hujan palsu dan sisa-sisa properti panggung, pesan itu menggantung kuat, menunggu untuk diwariskan ke dekade berikutnya.
Comments (0)