Tangis Siswi SD di Sulut Viral Usai Di-bully Teman karena Kondisi Ekonomi

Sebuah video pendek menampilkan tangis seorang siswi sekolah dasar bernama Anisa Azahra Munaimbala, yang akrab disapa Icha (9 tahun), viral di berbagai platform media sosial pada Minggu (27/7). Dalam ...

Jul 28, 2026 - 03:23
0 0
Tangis Siswi SD di Sulut Viral Usai Di-bully Teman karena Kondisi Ekonomi

Sebuah video pendek menampilkan tangis seorang siswi sekolah dasar bernama Anisa Azahra Munaimbala, yang akrab disapa Icha (9 tahun), viral di berbagai platform media sosial pada Minggu (27/7). Dalam rekaman tersebut, Icha yang berseragam sekolah terlihat terisak sambil menunduk di halaman sekolahnya di Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara. Sejumlah anak sebaya melontarkan kata-kata yang merendahkan kondisi sosial ekonomi keluarganya—sebutan “rumah jelek” dan “bapak miskin” menjadi ledekan yang berulang kali terdengar. Kejadian ini diduga berlangsung usai jam pelajaran, ketika sekelompok teman sekelas mengolok-olok Icha hingga ia tak kuasa menahan air mata.

Informasi yang beredar di komunitas daring menyebutkan bahwa perundungan ini bukan kali pertama terjadi. Beberapa wali murid melaporkan bahwa ejekan serupa telah berlangsung selama beberapa pekan, namun baru kali ini terekam dalam video dan menyebar luas. Rekaman itu pertama kali diunggah oleh salah satu orang tua yang mendapati putrinya turut menyaksikan insiden tersebut, dengan tujuan menyadarkan publik akan maraknya aksi perundungan di lingkungan sekolah dasar.

Kondisi Sosial Ekonomi yang Disorot

Keluarga Anisa Azahra Munaimbala bukanlah keluarga dengan kemampuan finansial yang berlebih. Sang ayah, menurut keterangan warga sekitar, sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan pas-pasan. Tempat tinggal mereka pun sederhana, berdinding papan dan belum dilengkapi fasilitas layak. Namun, menurut para tetangga, Icha dikenal sebagai anak yang sopan dan rajin beribadah. Ironisnya, kondisi tersebut justru dijadikan bahan olokan oleh anak-anak lain yang mungkin belum memahami luasnya dampak ucapan mereka.

Sosiolog dari Universitas Negeri Manado, Dr. Rina Lumowa, menyebut perundungan berbasis kelas ekonomi di kalangan anak-anak merupakan fenomena yang semakin mengkhawatirkan. “Anak-anak belajar hierarki sosial dari orang dewasa di sekitar mereka. Ketika teman-teman mereka menggunakan status ekonomi sebagai senjata untuk mengejek, itu adalah cerminan dari kurangnya pendidikan karakter di lingkungan terdekat,” paparnya dalam wawancara telepon. Lebih lanjut, ia menekankan perlunya intervensi sekolah dan keluarga secara bersamaan untuk memutus mata rantai perundungan sejak dini.

Tanggapan Pihak Sekolah dan Dinas Pendidikan

Pihak SD Negeri tempat Icha bersekolah langsung merespons viralnya video tersebut. Kepala Sekolah, Maria Walangitan, menyatakan telah memanggil seluruh anak yang terlibat serta orang tua mereka untuk melakukan mediasi. “Kami sudah meminta maaf kepada keluarga Icha dan memberikan sanksi edukatif kepada para pelaku, seperti penugasan menulis surat permintaan maaf dan mengikuti sesi bimbingan konseling. Ke depan, kami akan mengintensifkan program anti-bullying di sekolah,” ungkapnya dalam konferensi pers singkat di ruang guru, Senin (28/7).

Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Minahasa Tenggara turut angkat bicara. Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar, Drs. Alberth Tumiwa, M.Pd., menegaskan komitmennya untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan ramah anak. “Kami akan melakukan audit terhadap seluruh satuan pendidikan dasar terkait implementasi program pencegahan perundungan. Setiap kasus seperti ini harus menjadi pelajaran berharga—bukan hanya bagi sekolah yang bersangkutan, tapi bagi seluruh lembaga pendidikan di wilayah ini,” tegasnya. Dinas Pendidikan juga berencana mengadakan pelatihan guru tentang deteksi dini dan penanganan perundungan selama liburan semester mendatang.

Reaksi Warganet dan Respons Psikologis

Unggahan video tangis Icha dengan cepat membanjiri linimasa Twitter, TikTok, dan grup-grup WhatsApp. Tagar #SaveIcha bahkan sempat menduduki posisi trending di Indonesia selama beberapa jam. Mayoritas warganet menyampaikan simpati dan kemarahan atas aksi perundungan tersebut. Akun @pedulianak.id menulis, “Sungguh memilukan hati, anak sekecil itu harus menanggung beban perkataan yang tidak seharusnya ia dengar. Mari kita ajari anak-anak kita untuk menghargai setiap perbedaan.”

Namun, tidak sedikit pula yang justru melontarkan komentar pedas terhadap para pelaku yang masih di bawah umur. Menanggapi hal itu, psikolog anak dan keluarga, Dra. Felicia Kairupan, M.Si., mengingatkan agar publik tidak ikut melakukan perundungan siber terhadap anak-anak pelaku. “Menghakimi anak-anak pelaku dengan kata-kata kasar di media sosial hanya akan melahirkan lingkaran setan perundungan baru. Fokus kita seharusnya pada edukasi, bukan pembalasan,” ujarnya saat dihubungi via sambungan video, Senin pagi. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa anak-anak usia sekolah dasar masih dalam tahap perkembangan moral yang sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Untuk itu, selain memberikan konsekuensi yang mendidik, penting untuk menanamkan empati melalui teladan dari orang tua dan guru.

Upaya Pemulihan dan Harapan ke Depan

Keluarga Icha, melalui perwakilan keluarga, mengungkapkan harapan agar kejadian serupa tidak menimpa anak-anak lainnya. “Kami ingin Icha tetap semangat bersekolah dan meraih cita-citanya. Dia adalah anak yang cerdas, dan kami tidak mau kejadian ini menorehkan luka yang dalam di hatinya,” ungkap sang ayah dengan suara terbata-bata. Atas dukungan donasi yang mengalir dari masyarakat, keluarga ini menyatakan akan mengalokasikan bantuan untuk biaya pendidikan Icha ke depan.

Beberapa organisasi peduli anak di Sulawesi Utara, seperti Yayasan Pulih dan Lentera Anak Sulut, telah menawarkan pendampingan psikologis gratis bagi Icha dan keluarganya. Rencananya, sesi konseling rutin akan dilakukan selama tiga bulan pertama untuk memantau kesehatan mental serta mengembalikan kepercayaan diri korban. Sementara itu, para pelaku perundungan juga akan mendapat intervensi psikologis khusus untuk memahami dampak perbuatan mereka.

Kasus ini menjadi pengingat keras bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan bahwa perundungan di sekolah bukanlah hal sepele yang bisa dibiarkan tanpa penanganan serius. Perlu kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, dan komunitas untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan saling menghargai. Semoga tangis Icha menjadi yang terakhir, dan menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap tanda-tanda perundungan di sekitar mereka.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User