Syaikh Nawawi Al Bantani Jelaskan Tata Cara Berkumur dan Istinsyaq dalam Wudhu

Dalam khazanah ilmu fikih Islam, tata cara berwudhu bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang memiliki kedalaman makna. Salah satu ulama Nusantara yan

Jul 17, 2026 - 19:32
0 0

Dalam khazanah ilmu fikih Islam, tata cara berwudhu bukan sekadar rutinitas, melainkan ibadah yang memiliki kedalaman makna. Salah satu ulama Nusantara yang banyak membahas detail wudhu ialah Syaikh Nawawi Al Bantani, seorang maestro fikih asal Banten yang karya-karyanya masih menjadi rujukan utama di berbagai pesantren hingga saat ini.

Latar Belakang Ajaran Wudhu

Wudhu merupakan syarat sah bagi umat Islam yang akan menunaikan shalat. Rasulullah SAW bersabda bahwa shalat tidak akan diterima tanpa wudhu. Oleh sebab itu, setiap detail gerakan wudhu—mulai dari niat, membasuh wajah, hingga membasuh kaki—memiliki tuntunan yang harus diperhatikan dengan seksama.

Di antara bagian wudhu yang kerap terlupakan ialah berkumur (bahasa Arab: madmadah) dan menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq). Kedua amalan ringan ini ternyata menyimpan pahala besar sekaligus manfaat kesehatan yang nyata.

Penjelasan Madmadah dan Istinsyaq

Menurut Syaikh Nawawi Al Bantani dalam kitab Tausyikh 'ala Ibni Qosim dan karyanya yang lain, berkumur dilakukan dengan cara memasukkan air ke dalam mulut, lalu mengocokkannya ke seluruh bagian mulut, termasuk gigi, gusi, dan lidah. Cara ini bukan sekadar membasuh, melainkan memastikan seluruh rongga mulut terkena air.

  • Madmadah (berkumur): Ambil air dengan tangan kanan, masukkan ke mulut, kocok ke seluruh rongga mulut, lalu buang.
  • Istinsyaq (menghirup air ke hidung): Ambil air, hirup perlahan ke dalam lubang hidung hingga terasa, lalu buang dengan bantuan tangan kiri.
  • Istintsar (mengeluarkan air dari hidung): Setelah istinsyaq, buang air dari hidung dengan lembut menggunakan tangan kiri.

Tata Cara Sesuai Sunnah

Syaikh Nawawi menjelaskan bahwa urutan berkumur dan istinsyaq yang utama adalah mendahulukan berkumur terlebih dahulu, baru kemudian istinsyaq. Namun dalam mazhab Syafi'i terdapat fleksibilitas: keduanya bisa dilakukan secara bersamaan atau berurutan.

Langkah-langkah lengkapnya ialah sebagai berikut:

  1. Mengambil air dengan tangan kanan
  2. Membasuh telapak tangan sebanyak tiga kali (sebelum wudhu)
  3. Berkumur terlebih dahulu dengan mengocok air di mulut
  4. Menghirup air ke hidung dengan posisi menunduk
  5. Mengeluarkan air dari hidung dengan tangan kiri
  6. Dilakukan secara berulang, sebanyak tiga kali pada kesempatan pertama

Kesunnahan dan Anjuran

Para ulama sepakat bahwa berkumur dan istinsyaq hukumnya sunnah mu'akkadah, yaitu sunnah yang sangat ditekankan. Dalilnya berasal dari hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, di mana beliau bersabda: "Apabila salah seorang di antara kalian berwudhu, maka hendaklah ia memasukkan air ke dalam hidung, kemudian mengeluarkannya."

"Barangsiapa yang berlebih-lebihan dalam berkumur dan istinsyaq, maka ia telah menyelisihi sunnah. Sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkannya, maka ia telah meninggalkan sebagian kesempurnaan wudhu." — Syaikh Nawawi Al Bantani

Manfaat Kesehatan yang Terbukti

Secara medis, praktik berkumur dan istinsyaq terbukti memberikan manfaat higienis. Dokter gigi menyebutkan bahwa berkumur secara teratur dapat membersihkan sisa makanan dan bakteri di mulut, mencegah gigi berlubang serta bau mulut. Sementara itu, istinsyaq membantu membersihkan rongga hidung dari debu, polusi, dan kuman penyebab infeksi saluran pernapasan.

Di tengah pandemi dan meningkatnya kesadaran akan kesehatan pernapasan, ajaran wudhu ternyata selaras dengan protokol kebersihan modern. Rasulullah SAW telah mengajarkan pola hidup bersih lebih dari 14 abad lalu, jauh sebelum ilmu mikrobiologi modern berkembang.

Relevansi untuk Umat Modern

Di era modern yang serba cepat, tak jarang umat Islam mengerjakan wudhu secara terburu-buru tanpa memperhatikan sunnah-sunnahnya. Syaikh Nawawi Al Bantani menekankan bahwa kesempurnaan wudhu bukan hanya soal sah atau tidak sah secara syar'i, melainkan juga soal meraih pahala dan menjaga kesehatan jasmani.

Para pengajar fikih di pesantren hingga kini masih menjadikan karya Syaikh Nawawi sebagai referensi utama. Kitab-kitabnya dicetak berulang kali dan diajarkan di berbagai pondok pesantren di Indonesia, mulai dari Jawa, Sumatera, hingga Kalimantan.

Kesimpulan

Berkumur dan istinsyaq bukan sekadar formalitas dalam wudhu, melainkan bagian penting dari ibadah yang diajarkan Rasulullah SAW. Penjelasan Syaikh Nawawi Al Bantani memberikan panduan jelas tentang tata cara, urutan, dan keutamaan amalan ini. Dengan memperhatikan sunnah-sunnah wudhu, umat Islam tidak hanya meraih kesempurnaan ibadah, tetapi juga menjaga kebersihan dan kesehatan tubuh secara menyeluruh.

[SOCIAL_TWEET]: Syaikh Nawawi Al Bantani jelaskan tata cara berkumur dan istinsyaq dalam wudhu sesuai sunnah. Simak panduan lengkapnya! #Wudhu #SunnahNabi #FikihIslam[SOCIAL_TG]: 🕌 Wudhu sempurna sesuai sunnah! ✨ Berkumur + istinsyaq = pahala + sehat 🩺

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User