Semarang — Qori Tunanetra Pukau Pengunjung MTQ Nasional ke-31
Suasana khidmat menyelimuti perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 yang diselenggarakan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Di tengah persai
Suasana khidmat menyelimuti perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional ke-31 yang diselenggarakan di Kota Semarang, Jawa Tengah. Di tengah persaingan ketat para peserta dari berbagai penjuru Nusantara, cabang Tilawah Al-Qur'an khusus kelompok tunanetra menjadi salah satu panggung yang paling menyita perhatian dan menyentuh sanubari para pengunjung serta dewan hakim.
Tanpa menggunakan indra penglihatan, para qori dan qoriah penyandang disabilitas netra tersebut menunjukkan kepiawaian luar biasa dalam melantunkan ayat-ayat suci. Jemari mereka menari secara lembut dan presisi di atas kertas timbul beraksara Braille, sementara lantunan suara merdu nan merdu mengalun indah memenuhi arena perlombaan.
Perjuangan Melintasi Keterbatasan Melalui Al-Qur'an Braille
Membaca Al-Qur'an Braille membutuhkan tingkat konsentrasi, ketelitian, dan sensitivitas indra peraba yang sangat tinggi. Berbeda dengan peserta reguler yang membaca mushaf visual, qori dan qoriah tunanetra harus memadukan ingatan hafalan, ketepatan rabaan jari, dan pengaturan napas saat melantunkan nada-nada tilawah yang rumit.
"Membaca Al-Qur'an dengan jemari bukan sekadar membaca teks, melainkan menyentuh keagungan Allah dengan ketulusan hati. Setiap titik timbul yang kami raba adalah cahaya yang menerangi jalan hidup kami," ujar Ahmad Syarif, salah satu qori tunanetra kontingen asal Jawa Tengah dengan nada penuh keharuan.
Proses panjang latihan intensif selama bertahun-tahun terpancar jelas dalam penampilan para peserta. Kecepatan jari-jemari mereka dalam menyusuri lembaran Braille berbanding lurus dengan kelancaran bacaan dan kerapian makhraj huruf yang diucapkan.
Kesetaraan Standardisasi dan Sistem Penilaian
Penyelenggaraan cabang khusus ini tidak mengurangi bobot profesionalisme dalam penilaian. Dewan hakim tetap menerapkan standar kualitas tinggi yang sama dengan cabang tilawah umum, mencakup keindahan irama (*nagam*), kerapian hukum tajwid, kebersihan pelafalan, serta ketahanan napas.
Penyelenggaraan cabang tilawah disabilitas netra ini diikuti oleh puluhan peserta terbaik dari 38 provinsi di seluruh Indonesia. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata perkembangan pembinaan literasi Al-Qur'an inklusif di berbagai daerah.
| Aspek Penilaian / Komponen | Keterangan Teknis Penyelenggaraan |
|---|---|
| Media Pembacaan | Mushaf Al-Qur'an Braille Standar Nasional |
| Kriteria Penilaian Utama | Tajwid, Fashahah (Kelancaran), Nagam (Lagu), dan Suara |
| Kategori Peserta | Qori (Putra) dan Qoriah (Putri) Tunanetra Dewasa/Remaja |
| Fokus Keahlian | Kepekaan rabaan jari dan ketepatan makhraj huruf |
Pesan Inklusivitas dan Inspirasi untuk Bangsa
Kehadiran kategori disabilitas netra dalam ajang bertaraf nasional ini membawa pesan sosial yang sangat mendalam. Pemerintah daerah bekerja sama dengan Kementerian Agama terus didorong untuk memperluas aksesibilitas sarana keagamaan, termasuk memperbanyak distribusi mushaf Al-Qur'an Braille di berbagai daerah.
Para pengamat sosial dan tokoh keagamaan menilai bahwa penampilan qori-qoriah tunanetra memberikan suntikan motivasi spiritual yang besar bagi masyarakat luas. Keterbatasan fisik terbukti bukan menjadi penghalang untuk mengukir prestasi mulia dan menyebarkan syiar Islam.
Melalui ajang ini, publik diingatkan bahwa mata hati sering kali mampu melihat lebih jauh dan lebih jernih ketimbang penglihatan fisik semata. Semangat para peserta disabilitas netra ini diharapkan mampu memicu kesadaran masyarakat umum untuk lebih giat mempelajari dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an dalam kehidupan sehari-hari.
Seiring berjalannya babak demi babak di Kota Semarang, gemuruh apresiasi dari penonton tak henti-hentinya mengalir. Kiprah para qori dan qoriah tunanetra di MTQ Nasional ke-31 ini mempertegas sebuah catatan penting: cahaya mukjizat Al-Qur’an akan selalu menembus keterbatasan fisik dan menerangi siapa saja yang membuka hatinya.




Comments (0)