SELAT SUNDA — Tim SAR Perpanjang Pencarian Jurnalis Hilang Kontak
BANTEN, PATOKAN.COM — Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan resmi memperpanjang masa operasi pencarian terhadap delapan orang yang dilaporkan hilang kontak
BANTEN, PATOKAN.COM — Tim Search and Rescue (SAR) Gabungan resmi memperpanjang masa operasi pencarian terhadap delapan orang yang dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Sunda. Rombongan yang hilang tersebut terdiri atas 5 jurnalis dari berbagai media nasional dan 3 warga lokal yang bertindak sebagai pendamping peliputan lapangan. Keputusan perpanjangan ini diambil menyusul ditemukannya sejumlah serpihan material yang diduga bagian dari kapal motor yang ditumpangi rombongan tersebut di sekitar perairan Pulau Sangiang.
Operasi pencarian yang melibatkan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), TNI Angkatan Laut, Polairud, serta nelayan setempat kini memasuki fase pemetaan ulang radius pencarian. Penyisiran tidak hanya difokuskan pada titik koordinat terakhir saat kapal mengirimi sinyal darurat, tetapi juga diperluas hingga mencakup perairan pesisir Lampung Selatan dan Selat Sunda bagian selatan.
Kronologi Hilangnya Rombongan Jurnalis
Berdasarkan laporan resmi dari posko koordinasi pencarian di Banten, rombongan bertolak dari pelabuhan di kawasan Anyer untuk melakukan kegiatan peliputan investigasi lingkungan dan investigasi kelautan. Berikut adalah lini masa kejadian sebelum kontak terputus total:
- Sabtu, 12 September 2026 (08.00 WIB): Kapal motor berkapasitas sedang bertolak dari Pelabuhan Anyer menuju kawasan perairan Selat Sunda.
- Sabtu, 12 September 2026 (14.30 WIB): Nahkoda kapal sempat mengirimkan pesan terakhir kepada pihak keluarga dan posko darat, mengabarkan kondisi cuaca buruk dan ombak tinggi.
- Sabtu, 12 September 2026 (16.15 WIB): Sinyal radio dan telekomunikasi rombongan terputus sepenuhnya pada koordinat 5°58' S - 105°45' E.
- Minggu, 13 September 2026 (06.00 WIB): Tim SAR Gabungan pertama kali memberangkatkan armada penyisiran setelah menerima laporan resmi keterlambatan kapal.
Perbandingan Alokasi Daya Dukung Operasi SAR
Untuk mengoptimalkan proses evaluasi dan efektivitas penyisiran, Tim SAR Gabungan meningkatkan jumlah personel dan armada pencarian pada tahap perpanjangan operasi ini. Berikut data perbandingannya:
| Kategori Operasi | Fase Awal (Hari 1-3) | Fase Perpanjangan (Hari 4+) |
|---|---|---|
| Jumlah Personel | 45 Personel Gabungan | 120 Personel Gabungan |
| Kapal Penyisir (KN/KRI) | 2 Unit Kapal Patroli | 6 Unit (Basarnas & TNI AL) |
| Armada Udara | 1 Unit Helikopter Basarnas | 2 Unit Helikopter (Basarnas & Polair) |
| Radius Pencarian | 15 Mil Laut (NM) | 35 Mil Laut (NM) |
Analisis Cuaca dan Tantangan Geografis Selat Sunda
Selat Sunda dikenal memiliki karakteristik gelombang yang sangat kompleks akibat benturan arus Laut Jawa dan Samudra Hindia. Kondisi dinamis ini menjadi kendala terbesar dalam proses pencarian bawah air maupun permukaan.
"Karakteristik arus laut di Selat Sunda sangat dinamis dan dipengaruhi oleh pasang surut ekstrem. Serpihan atau benda terapung dapat terbawa arus hingga belasan mil laut dalam kurun waktu kurang dari 12 jam," tegas Dr. Irwan Santoso, Pakar Oseanografi dari Universitas Indonesia.
Menurut Dr. Irwan Santoso, tantangan utama bagi tim penolong adalah menentukan pola sebaran pergerakan hanyut (*drift model*) material kapal maupun korban. Kecepatan arus bawah laut yang mencapai 3 hingga 4 knot menuntut tim SAR menggunakan teknologi pencitraan bawah air (*side-scan sonar*) agar lokasi persis bangkai kapal dapat segera diidentifikasi.
Evaluasi Keselamatan dan Harapan Pihak Keluarga
Kepala Kantor SAR Banten menyatakan bahwa keputusan memperpanjang masa operasi didasarkan pada pertimbangan kemanusiaan dan penemuan petunjuk fisik baru. Pihak keluarga dari 5 jurnalis dan 3 warga terus mendampingi perkembangan operasi langsung dari posko utama di Merak.
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau seluruh pengguna jasa transportasi laut di perairan Selat Sunda untuk memperhitungkan cuaca ekstrem secara matang. BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan dini terkait gelombang tinggi mencapai 2.5 hingga 4.0 meter yang berpotensi terjadi sepanjang pekan ini.
Hingga saat ini, sebanyak 120 personel tetap dalam posisi siaga penuh. Penyisiran udara dan laut akan terus dilakukan dengan memprioritaskan titik-titik krusial yang teridentifikasi lewat pemetaan satelit dan laporan masyarakat nelayan lokal.




Comments (0)