Rosan Lapor Prabowo: Danantara Ditawari Kepemilikan Bandara Madinah
JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berpeluang memperluas jejak investasinya hingga ke Timur Tengah. Lembaga pengelola investasi milik negara itu disebut mendapat ...
JAKARTA – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) berpeluang memperluas jejak investasinya hingga ke Timur Tengah. Lembaga pengelola investasi milik negara itu disebut mendapat tawaran untuk menjadi pemilik bandar udara di Madinah, Arab Saudi.
Tawaran tersebut terungkap ketika Chief Executive Officer (CEO) Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto. Laporan itu memuat hasil kunjungan kerja Rosan ke negara kerajaan tersebut baru-baru ini.
Dalam pertemuannya dengan Kepala Negara, Rosan memaparkan berbagai peluang kerja sama yang berhasil dijajaki selama berada di Arab Saudi. Salah satu yang paling menonjol adalah ketertarikan pihak setempat untuk melibatkan Danantara dalam kepemilikan bandara di kota Madinah.
Tawaran Kepemilikan Bandara Madinah
Bandara di Madinah, yang dikenal sebagai Bandara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdulaziz, merupakan salah satu gerbang utama bagi jutaan umat muslim dari seluruh dunia. Setiap tahun, bandara ini melayani arus jemaah haji dan umrah yang hendak berziarah ke Masjid Nabawi.
Posisi strategis tersebut membuat bandara ini memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Tidak mengherankan apabila pengelolaannya menarik minat banyak investor global, termasuk dari Indonesia.
Bagi Indonesia, keterlibatan dalam pengelolaan bandara di kota suci itu bukan sekadar urusan bisnis. Ada dimensi layanan publik yang melekat, mengingat Indonesia merupakan negara pengirim jemaah haji dan umrah terbesar di dunia.
Peran Danantara sebagai Sovereign Wealth Fund
Danantara sendiri merupakan lembaga pengelola investasi yang dibentuk untuk mengonsolidasikan dan mengoptimalkan aset-aset negara. Sejak diresmikan, lembaga ini diamanahi mengelola investasi strategis demi memperkuat perekonomian nasional.
Di bawah kepemimpinan Rosan Roeslani, Danantara aktif menjalin komunikasi dengan berbagai mitra internasional. Kunjungan kerja ke Arab Saudi menjadi bagian dari upaya memperluas jaringan investasi sekaligus mencari peluang penempatan dana yang menguntungkan.
Sebelum memimpin Danantara, Rosan dikenal sebagai figur berpengalaman di bidang investasi dan diplomasi ekonomi. Ia pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat serta Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Menghangatnya Hubungan Indonesia dan Arab Saudi
Tawaran yang diterima Danantara juga mencerminkan semakin eratnya hubungan ekonomi antara Jakarta dan Riyadh. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua negara intensif menjajaki kerja sama di berbagai sektor, mulai dari energi, infrastruktur, hingga pariwisata.
Arab Saudi tengah gencar membuka pintu bagi investor asing seiring dengan agenda transformasi ekonomi yang dikenal sebagai Visi 2030. Program ambisius itu bertujuan mengurangi ketergantungan negara tersebut pada pendapatan minyak dengan mengembangkan sektor-sektor baru.
Kemitraan strategis di sektor transportasi, termasuk bandar udara, menjadi salah satu fokus dalam agenda tersebut. Sejumlah bandara di Arab Saudi memang telah lama dikembangkan dengan skema kemitraan bersama investor swasta maupun asing.
Menunggu Langkah Lanjutan
Meski tawaran telah disampaikan, belum ada keputusan resmi mengenai langkah yang akan diambil Danantara. Segala kemungkinan masih terbuka, termasuk skema kepemilikan, besaran investasi, hingga model pengelolaan yang akan diterapkan.
Pemerintah Indonesia dipastikan akan mengkaji tawaran ini secara matang. Pertimbangan aspek keuangan, regulasi, hingga manfaat bagi kepentingan nasional akan menjadi dasar sebelum keputusan diambil.
Yang jelas, laporan Rosan kepada Presiden Prabowo menandakan bahwa Danantara mulai diperhitungkan sebagai pemain investasi kelas dunia. Tawaran dari Arab Saudi bisa menjadi panggung bagi lembaga ini untuk membuktikan kapasitasnya di kancah global.
Publik kini menanti kelanjutan dari penjajakan tersebut. Jika terealisasi, kepemilikan bandara di Madinah akan menjadi tonggak bersejarah bagi investasi Indonesia di luar negeri, sekaligus kabar baik bagi jutaan jemaah asal Tanah Air yang setiap tahun menempuh perjalanan ke Tanah Suci.
Comments (0)