Ribka Haluk Ajak Perempuan Daerah Wujudkan Kepemimpinan Transformatif

Deputi Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menyampaikan seruan kuat kepada seluruh jajaran pemerintahan daerah untuk mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan yang tidak hanya menduduki...

Jul 28, 2026 - 10:33
0 0
Ribka Haluk Ajak Perempuan Daerah Wujudkan Kepemimpinan Transformatif

Deputi Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk menyampaikan seruan kuat kepada seluruh jajaran pemerintahan daerah untuk mendorong lahirnya pemimpin-pemimpin perempuan yang tidak hanya menduduki jabatan, tetapi benar-benar membawa perubahan yang transformatif. Dalam sebuah forum dialog, ia menekankan bahwa kepemimpinan perempuan yang inspiratif merupakan kunci untuk mempercepat pembangunan yang inklusif di berbagai pelosok tanah air.

Ribka menggarisbawahi bahwa tantangan ke depan semakin kompleks, sehingga dibutuhkan pendekatan kepemimpinan yang segar, kolaboratif, dan berani. “Kepemimpinan transformatif bukan sekadar soal jumlah, tetapi tentang dampak nyata yang dihasilkan oleh para perempuan di posisi strategis,” ujarnya, memberikan penekanan pada kualitas kepemimpinan yang mampu menggerakkan perubahan sistemik.

Mengubah Pola Pikir dan Struktur

Menurut Wamendagri, penguatan kepemimpinan perempuan tidak bisa dilepaskan dari upaya mengubah pola pikir masyarakat dan struktur birokrasi yang seringkali masih bias gender. Ia menyebutkan bahwa perlu ada lingkungan yang memungkinkan perempuan untuk tumbuh, berinovasi, dan tampil sebagai motor penggerak tanpa harus terkendala stereotip.

Lebih lanjut, Ribka menyoroti pentingnya pendidikan kepemimpinan sejak dini, pelatihan kapasitas, serta mentoring berkelanjutan yang melibatkan para pemimpin senior, baik laki-laki maupun perempuan. “Kita butuh ekosistem yang mendukung. Mulai dari keluarga, komunitas, hingga di ruang-ruang pemerintahan,” katanya, mengingatkan bahwa transformasi kepemimpinan hanya bisa terjadi jika didukung oleh seluruh elemen.

Data dan Realitas di Lapangan

Berdasarkan data yang ada, representasi perempuan di posisi pimpinan daerah memang menunjukkan tren peningkatan, namun angkanya masih jauh dari ideal. Ribka mengapresiasi kemajuan yang telah dicapai, tetapi ia menegaskan bahwa kuantitas tidak boleh mengorbankan kualitas dampak. “Setiap kepala daerah, anggota DPRD, atau pimpinan perangkat daerah perempuan harus menjadi agen perubahan yang nyata,” tegasnya.

Dia mencontohkan beberapa daerah yang berhasil mengakselerasi pembangunan berkat kepemimpinan perempuan yang responsif terhadap isu-isu lokal, seperti kesehatan ibu dan anak, pendidikan, ekonomi kreatif, hingga tata kelola lingkungan. Kisah-kisah sukses ini, menurut Ribka, harus dijadikan teladan dan diperbanyak melalui forum berbagi praktik baik (best practices sharing) antar daerah.

Indikator Kepemimpinan Transformatif

Wamendagri kemudian memaparkan beberapa indikator kepemimpinan perempuan yang transformatif. Pertama, visi yang inklusif dan berkelanjutan, di mana kebijakan yang diambil tidak hanya berorientasi jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan di masa depan. Kedua, kemampuan membangun jejaring dan kolaborasi horizontal maupun vertikal, sehingga roda pemerintahan bergerak secara sinergis. Ketiga, keberanian dalam mengambil keputusan yang seringkali tidak populer namun berorientasi pada kesejahteraan bersama.

Ia menambahkan, pemimpin transformatif juga harus memiliki integritas tinggi dan menjadi panutan dalam hal akuntabilitas. “Kita ingin pemimpin perempuan yang bukan hanya hadir secara fisik di ruang rapat, tetapi hadir di hati masyarakat, membumi, dan solutif,” kata Ribka penuh semangat.

Komitmen Kementerian Dalam Negeri

Kementerian Dalam Negeri, di bawah arahan Menteri Dalam Negeri, telah merancang sejumlah program untuk mendorong pengarusutamaan gender di jajaran birokrasi daerah. Ribka menyebutkan bahwa Kemendagri secara rutin menyelenggarakan bimbingan teknis, lokakarya, dan forum diskusi yang secara spesifik menyasar pengembangan kapasitas kepemimpinan perempuan. Program-program ini dirancang untuk membekali para pemimpin daerah dengan keterampilan komunikasi publik, perencanaan strategis, hingga manajemen konflik.

“Kami tidak hanya memberikan porsi, tetapi juga tanggung jawab yang setara. Karena kami percaya, perempuan memiliki perspektif yang komplementer dan sangat dibutuhkan dalam merumuskan kebijakan yang manusiawi,” ujarnya. Ribka juga mengajak seluruh pemerhati pembangunan, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil untuk turut serta membangun kaderisasi pemimpin perempuan dari tingkat desa hingga provinsi.

Tantangan yang Masih Menganga

Meski optimistis, Ribka tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi para pemimpin perempuan, terutama di daerah-daerah dengan budaya patriarki yang kuat. Ia mengakui bahwa masih ada praktik-praktik diskriminatif, baik yang terang-terangan maupun terselubung, yang bisa menghambat kiprah perempuan.

“Kita harus melawan fenomena ‘glass ceiling’ dan ‘sticky floor’ dengan keberanian dan kecerdasan. Kuncinya adalah solidaritas sesama perempuan dan dukungan laki-laki yang progresif,” tuturnya. Dalam kesempatan tersebut, ia juga mengingatkan pentingnya perlindungan hukum dan kebijakan afirmatif yang benar-benar diimplementasikan, bukan sekadar formalitas di atas kertas.

Inspirasi dari Akar Rumput

Salah satu poin kuat yang disampaikan Ribka adalah perlunya menggali inspirasi dari pemimpin-pemimpin perempuan di tingkat akar rumput, seperti kepala desa, ketua adat perempuan, dan aktivis komunitas yang telah membuktikan kepemimpinan transformatif meski dengan sumber daya terbatas. “Mereka adalah bukti bahwa kepemimpinan tidak selalu soal jabatan tinggi, tetapi tentang dampak dan keteladanan,” ucapnya.

Wamendagri berharap pemerintah daerah dapat lebih peka dan memberikan ruang ekspresi serta afirmasi bagi tokoh-tokoh perempuan lokal yang terbukti berdedikasi. Ia bahkan mendorong agar inovasi-inovasi yang dihasilkan oleh pemimpin perempuan tersebut mendapat apresiasi nasional, sehingga bisa memotivasi lebih banyak perempuan untuk terjun ke arena publik.

Panggilan untuk Generasi Muda

Di akhir sambutannya, Ribka secara khusus menyapa generasi muda, terutama kaum perempuan, untuk tidak ragu bermimpi besar dan menapaki jalur kepemimpinan. “Kalian adalah masa depan bangsa. Jangan takut gagal, jangan takut dikritik. Ambil peran dari sekarang, mulai dari lingkungan terdekat,” pesannya. Ia meyakinkan bahwa dengan niat tulus dan kerja keras, setiap perempuan memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang mengubah dunia di sekelilingnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan transformatif bukanlah milik segelintir orang, melainkan hasil dari proses belajar, adaptasi, dan ketekunan. “Percayalah, ketika perempuan memimpin dengan hati dan kepala, tidak ada yang tidak mungkin,” tutup Ribka, disambut tepuk tangan hadirin.

Dengan adanya dorongan langsung dari Wamendagri ini, diharapkan terjadi gelombang baru kesadaran dan aksi nyata di seluruh Indonesia untuk memperkuat posisi dan kualitas kepemimpinan perempuan. Langkah ini bukan hanya soal keadilan gender, melainkan strategi fundamental untuk mencapai Indonesia Emas yang berdaya saing dan berkeadaban.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User