Respons Anindya Bakrie Atas Mundurnya Perry Warjiyo dan Nasib QRIS
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan tanggapannya terkait pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI). Dalam pernyataan resm...
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Anindya Bakrie, menyampaikan tanggapannya terkait pengunduran diri Perry Warjiyo dari posisi Gubernur Bank Indonesia (BI). Dalam pernyataan resminya, Anindya menilai bahwa sosok Perry Warjiyo telah memberikan sumbangsih yang sangat berarti bagi perjalanan perekonomian nasional, khususnya di masa-masa penuh tantangan.
“Kami di dunia usaha sangat merasa bahwa Pak Perry memberikan banyak kepada NKRI. Ini bukan sekadar retorika. Kepemimpinannya menghasilkan transformasi nyata,” ungkap Anindya. Pernyataan ini disampaikan menyusul pengumuman mengejutkan dari bank sentral pada akhir pekan lalu. Meskipun alasan di balik keputusan mundur tersebut belum diungkap secara gamblang, Anindya menghormati keputusan personal itu dan menolak berandai-andai. Baginya, yang lebih penting adalah menghitung warisan dan memastikan keberlanjutan program strategis.
Kontribusi dalam Stabilitas Ekonomi
Salah satu aspek yang paling disorot oleh Anindya Bakrie adalah kontribusi Perry Warjiyo dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan global yang luar biasa. Mulai dari pandemi Covid-19, perang Ukraina, hingga gejolak geopolitik dan lonjakan inflasi, kebijakan moneter yang diambil BI di bawah komandonya dinilai mampu meredam gejolak dan menjaga nilai tukar rupiah tetap terkendali.
Selama pandemi, ketika hampir semua negara berjuang melawan resesi, Indonesia berhasil mempertahankan pertumbuhan positif berkat bauran kebijakan yang diterapkan. Inflasi inti tetap terjaga di bawah target, sementara rupiah tidak mengalami depresiasi setajam mata uang negara berkembang lainnya. Stabilitas inilah yang menjadi modal penting bagi Kadin untuk terus menggerakkan investasi dan ekspansi usaha. “Tanpa kepemimpinan yang solid, mungkin dampaknya akan jauh lebih parah bagi perekonomian kita. Stabilitas itu adalah fondasi bagi dunia usaha untuk tumbuh,” lanjut Anindya.
Warisan Transformasi Digital
Tak kalah penting, Anindya menyoroti peran Perry Warjiyo dalam mendorong transformasi digital di sektor keuangan, terutama melalui peluncuran Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Inisiatif ini dipandang sebagai terobosan yang tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga memperkuat inklusi keuangan di seluruh pelosok negeri.
QRIS yang diluncurkan pada 2019 kini telah menjadi tulang punggung sistem pembayaran digital di Indonesia, dengan lebih dari 30 juta merchant yang terdaftar dan volume transaksi yang melonjak ratusan persen setiap tahunnya. Keberhasilan ini menjadi tolok ukur bagi negara-negara ASEAN lain yang ingin mengimplementasikan sistem serupa. “Capaian ini tidak lepas dari visi Pak Perry yang sejak awal mendorong digitalisasi sistem pembayaran. QRIS adalah bukti nyata bagaimana kebijakan bank sentral bisa berdampak langsung pada kehidupan masyarakat dan pelaku usaha kecil,” kata Anindya.
Kekhawatiran Soal Nasib QRIS
Meski memberikan apresiasi tinggi, Anindya Bakrie tak menutupi kekhawatirannya terhadap nasib program-program strategis BI pasca kepergian Perry Warjiyo. Ia menekankan bahwa keberlanjutan transformasi digital menjadi hal yang krusial, terutama di tengah persaingan global yang semakin ketat. QRIS, yang menjadi ikon inovasi tersebut, kini dipertanyakan kelangsungannya.
“Dunia usaha berharap siapa pun yang menjadi gubernur BI selanjutnya harus memiliki komitmen yang sama kuatnya terhadap digitalisasi. QRIS sudah menjadi standar di banyak negara, kita tidak boleh lengah dan harus terus berinovasi,” tegasnya. Dalam konteks persaingan regional, kepergian Perry Warjiyo di tengah proses digitalisasi ini dikhawatirkan dapat menghambat laju adopsi teknologi keuangan. Sejumlah bank sentral di Asia Tenggara juga tengah agresif mengembangkan proyek digital mereka. Anindya mengingatkan bahwa kelambanan sekecil apa pun bisa membuat Indonesia tertinggal, padahal potensi ekonomi digital tanah air sangat besar.
Anindya menambahkan, Kadin siap menjadi mitra strategis untuk memastikan agar ekosistem keuangan digital tetap berkembang tanpa hambatan. Ia juga menekankan pentingnya transisi yang mulus agar tidak mengganggu kepercayaan pasar. “Pak Perry telah meletakkan dasar yang kuat. Tugas kita bersama adalah memastikan agar fondasi itu terus dibangun, terutama dalam hal digitalisasi keuangan yang inklusif,” pungkasnya.
Dukungan untuk Transisi yang Lancar
Kadin Indonesia sendiri telah menyuarakan agar pengganti Perry Warjiyo kelak dipilih melalui mekanisme yang transparan dan melibatkan masukan dari sektor riil. Hal ini penting karena kebijakan moneter dan sistem pembayaran memiliki dampak langsung terhadap likuiditas, suku bunga, dan biaya transaksi yang pada akhirnya memengaruhi daya saing industri.
Anindya mengajak semua pihak untuk menghargai kontribusi Perry Warjiyo dan memberikan dukungan penuh kepada pejabat baru BI nantinya. Dengan dukungan dari Kadin dan sektor swasta, diharapkan momentum yang telah tercapai tidak terhenti hanya karena pergantian pucuk pimpinan. Neraca digital Indonesia tidak boleh terhenti di QRIS saja, melainkan harus berlanjut ke pengembangan rupiah digital dan integrasi pembayaran lintas batas. “Kami menghormati independensi BI, namun sebagai mitra dunia usaha, kami berharap ada komunikasi yang baik agar pelaku bisnis bisa mengantisipasi perubahan,” tandas Anindya Bakrie.
Comments (0)