PWKS Gelar Doa Bersama untuk Lima Jurnalis Hilang di Selat Sunda
SERANG — Suasana haru menyelimuti Sekretariat Pokja Wartawan Kota Serang (PWKS) saat puluhan jurnalis dari berbagai media massa berkumpul untuk menggelar d
SERANG — Suasana haru menyelimuti Sekretariat Pokja Wartawan Kota Serang (PWKS) saat puluhan jurnalis dari berbagai media massa berkumpul untuk menggelar doa bersama, menyusul kabar hilangnya lima orang jurnalis di perairan Selat Sunda. Kelima insan pers tersebut dilaporkan hilang kontak saat menjalankan tugas peliputan aktivitas vulkanik dan erupsi Gunung Anak Krakatau.
Aksi solidaritas ini menjadi wujud empati mendalam sekaligus dukungan moril bagi keluarga korban serta tim pencarian dan pertolongan (SAR) gabungan yang tengah berjuang melawan cuaca ekstrem di kawasan perairan Banten dan Lampung.
Kronologi Hilangnya Rombongan Jurnalis
Berdasarkan informasi yang dihimpun, rombongan jurnalis bertolak menggunakan kapal motor nelayan sewaan untuk memantau peningkatan status Gunung Anak Krakatau secara visual dari jarak aman. Namun, kondisi cuaca di tengah laut memburuk secara tiba-tiba dengan gelombang tinggi dan kabut tebal.
- Pukul 06.30 WIB: Rombongan kapal pembawa jurnalis bertolak dari dermaga penyeberangan pesisir Banten menuju area pemantauan terluar Gunung Anak Krakatau.
- Pukul 09.15 WIB: Kontak komunikasi terakhir terjalin melalui radio maritim dan pesan singkat, di mana tim mengabarkan adanya peningkatan abu vulkanik serta gelombang tinggi mencapai 2,5 meter.
- Pukul 11.00 WIB: Seluruh akses komunikasi ponsel satelit maupun radio putus total, memicu penetapan status hilang kontak dan dimulainya koordinasi darurat SAR.
Solidaritas dan Doa dari Insan Pers Serang
Ketua Pokja Wartawan Kota Serang menyampaikan bahwa profesi jurnalisme di wilayah bencana memiliki risiko yang sangat tinggi, namun dedikasi untuk menyajikan informasi akurat kepada publik tetap menjadi panggilan utama para pewarta.
"Kami berkumpul di sini dengan harapan besar dan doa tulus agar rekan-rekan kami segera ditemukan dalam kondisi selamat dan sehat. Kami juga meminta seluruh pihak, khususnya aparat SAR gabungan, untuk memaksimalkan seluruh sumber daya dalam proses pencarian ini," ungkap perwakilan pengurus PWKS di sela-sela pembacaan doa.
Doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat tersebut berlangsung khidmat. Para jurnalis yang hadir mengenakan pita hitam di lengan kiri sebagai lambang keprihatinan dan solidaritas terhadap musibah yang menimpa rekan sejawat mereka.
Operasi Pencarian dan Penyelamatan Dikerahkan
Menanggapi insiden tersebut, Kantor SAR Banten bersama unsur Polairud Polda Banten, TNI Angkatan Laut, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) langsung mengerahkan armada pencarian ke titik koordinat terakhir komunikasi kapal korban.
- Pengerahan tiga unit kapal patroli berteknologi radar cuaca buruk untuk menyisir area radius 15 mil laut dari titik kontak terakhir.
- Kordinasi lintas wilayah dengan Basarnas Lampung guna memperluas pemantauan di sekitar gugusan pulau kecil di Selat Sunda.
- Penyiagaan posko darurat informasi di dermaga pelabuhan terdekat guna memfasilitasi kebutuhan keluarga korban dan rekan media.
Tantangan utama yang dihadapi tim penyelamat di lapangan adalah hembusan angin kencang serta jarak pandang terbatas akibat semburan abu vulkanik yang terbawa ke arah barat daya. Meski demikian, operasi pencarian tetap diupayakan secara maksimal dengan mengutamakan protokol keselamatan kerja.
Pentingnya Protokol Keselamatan Liputan Ekstrem
Peristiwa ini kembali menjadi peringatan keras bagi seluruh entitas media massa mengenai pentingnya standardisasi keselamatan (K3) dalam peliputan zona rawan bencana. PWKS mengimbau seluruh manajemen media agar senantiasa membekali jurnalis lapangan dengan alat pelindung diri memadai, asuransi kerja berisiko tinggi, serta alat komunikasi darurat independen sebelum menugaskan awak liputan ke lokasi berbahaya.




Comments (0)