Puluhan Mahasiswa dan Dosen Unesa Diduga Jadi Korban Pelecehan Grup Chat

Lingkungan akademik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendadak terusik oleh terungkapnya dugaan tindak pelecehan seksual yang dilakukan melalui platform percakapan daring. Informasi awal yang berkem...

Jul 19, 2026 - 11:23
0 0
Puluhan Mahasiswa dan Dosen Unesa Diduga Jadi Korban Pelecehan Grup Chat

Lingkungan akademik Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mendadak terusik oleh terungkapnya dugaan tindak pelecehan seksual yang dilakukan melalui platform percakapan daring. Informasi awal yang berkembang menyebutkan, tidak kurang dari 26 individu teridentifikasi sebagai pihak yang dirugikan. Mereka berasal dari kalangan mahasiswa aktif dan sejumlah tenaga pengajar, menciptakan skala kasus yang tergolong besar dalam konteks kekerasan seksual di perguruan tinggi.

Modus dalam Ruang Digital

Sumber yang dekat dengan proses investigasi mengungkapkan, aksi dugaan pelecehan tersebut terjadi di dalam sebuah grup chat yang dihuni oleh puluhan anggota. Grup itu diduga menjadi wadah penyebaran konten dan komentar tidak senonoh yang mengarah pada pelecehan verbal serta perendahan martabat berdasarkan gender. Para korban disebut-sebut tidak hanya menjadi sasaran pasif, tetapi juga dipaksa menyaksikan perbincangan penuh muatan seksual tanpa persetujuan. Beberapa pesan bahkan diyakini memuat unsur pemaksaan dan ancaman halus yang membuat anggota lain enggan melapor. Pelaku utama diduga merupakan seorang atau lebih pengguna dengan kendali penuh atas dinamika grup tersebut, namun pelibatan pihak lain masih terus didalami. Tim pemeriksa menemukan bahwa jejak digital dalam grup ini telah terhimpun cukup rapi, sehingga memudahkan proses identifikasi korban dan terduga pelaku. Karena sifatnya yang tertutup dan berbasis undangan, banyak korban awalnya merasa tidak memiliki celah untuk mengungkapkan tekanan yang mereka alami, sampai akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri membuka suara kepada lembaga internal kampus.

Respons Cepat Pihak Kampus

Pihak Unesa melalui juru bicara resmi menyampaikan keprihatinan mendalam atas kemunculan laporan ini. Dalam pernyataan tertulis yang dirilis tidak lama setelah kasus mencuat, kampus menegaskan komitmen nol toleransi terhadap segala bentuk kekerasan seksual. Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) Unesa langsung diaktifkan untuk mendampingi para korban. Pendampingan psikologis diberikan secara intensif, mengingat banyak di antara mereka yang mengalami guncangan emosional pasca-terkuaknya kasus. Kampus juga memastikan bahwa proses akademik para korban tidak akan terganggu selama investigasi berjalan. Di sisi lain, Rektorat memerintahkan audit menyeluruh terhadap semua grup komunikasi internal yang melibatkan sivitas akademika, sebagai langkah pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. Kebijakan sementara diberlakukan, yaitu penonaktifan semua grup tidak resmi yang tidak memiliki moderator jelas dan kode etik tertulis. Unesa juga membuka kanal pengaduan khusus melalui aplikasi internal yang menjamin kerahasiaan pelapor, berupaya memulihkan rasa aman bagi warganya.

Langkah Hukum dan Perlindungan Korban

Secara paralel, laporan resmi telah disampaikan kepada pihak kepolisian untuk mengusut dugaan tindak pidana yang mungkin terjadi. Penyidik dari unit perlindungan perempuan dan anak kini tengah mengumpulkan barang bukti digital, termasuk tangkapan layar dan rekaman percakapan. Proses ini memerlukan kehati-hatian tinggi karena melibatkan privasi banyak pihak dan potensi penghilangan jejak oleh pelaku. Beberapa korban telah dimintai keterangan dalam suasana yang ramah dan tertutup, didampingi oleh penasihat hukum dan psikolog. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dan Undang-Undang Tindak Pidana Kekerasan Seksual menjadi landasan utama dalam pengusutan ini. Ancaman hukuman yang dapat menjerat terduga pelaku cukup berat, terutama jika terbukti ada unsur penyebaran konten bermuatan seksual tanpa persetujuan dan perbuatan cabul secara elektronik. Lembaga bantuan hukum dan aktivis perempuan di Jawa Timur juga turut merespons dengan memberikan dukungan penuh kepada para korban, menekankan bahwa kekerasan seksual dalam ruang digital sama seriusnya dengan kekerasan fisik. Mereka mendorong agar kasus ini menjadi preseden penting dalam penegakan hukum kejahatan siber di lingkungan akademik.

Dampak Sosial dan Pemulihan Komunitas

Kasus ini tidak hanya meninggalkan luka psikis pada korban langsung, tetapi juga mengguncang kepercayaan masyarakat kampus. Sejumlah mahasiswa mengaku was-was terhadap keamanan berkomunikasi dalam grup-grup diskusi daring yang selama ini dianggap netral. Diskusi terbuka antarprogram studi mulai digelar untuk meningkatkan kesadaran akan batasan pergaulan di dunia maya. Unesa bekerja sama dengan pakar komunikasi digital dan psikolog untuk merancang modul pendidikan literasi digital yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa baru dan dosen. Program ini menyasar pemahaman tentang persetujuan, penghormatan privasi, dan mekanisme pelaporan dini. Di luar itu, muncul solidaritas dari berbagai organisasi mahasiswa yang menggelar kampanye anti-kekerasan seksual secara daring dan luring. Mereka menuntut transparansi penuh dari kampus serta sanksi tegas bagi siapapun yang terbukti terlibat. Pihak Unesa merespons tuntutan ini dengan berjanji merilis temuan investigasi internal secara berkala, tanpa mengorbankan hak privasi korban. Proses penyembuhan diperkirakan memakan waktu panjang, tetapi energi kolektif untuk melawan budaya permisif terhadap pelecehan mulai terbangun. Publik luas pun menanti kejelasan kasus ini sebagai tolok ukur keseriusan dunia pendidikan dalam menghadapi darurat kekerasan seksual di era digital.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User