Proyek Ambisius Data Center Inggris Ancam Ketahanan Air Nasional
London – Ambisi Inggris untuk menjadi pusat kecerdasan buatan global dengan mempercepat pembangunan puluhan pusat data raksasa justru menuai ancaman serius terhadap pasokan air bersih. Rencana yang ...
London – Ambisi Inggris untuk menjadi pusat kecerdasan buatan global dengan mempercepat pembangunan puluhan pusat data raksasa justru menuai ancaman serius terhadap pasokan air bersih. Rencana yang digadang-gadang sebagai lompatan ekonomi digital ini kini dihadapkan pada realitas lingkungan yang suram: setiap server yang mendinginkan dorongan AI akan menyedot jutaan liter air yang seharusnya mengalir ke rumah tangga dan lahan pertanian.
Konsumsi Air yang Masif
Di balik kilau inovasi digital, pusat data adalah pengonsumsi air yang tak kasat mata. Ribuan rak server yang bekerja tanpa henti menghasilkan panas luar biasa, dan pendinginan berbasis air—baik melalui menara evaporatif maupun sistem sirkulasi tertutup—tetap menjadi metode paling efisien. Sebuah fasilitas berukuran sedang dapat menghabiskan antara 1 hingga 5 juta liter air per hari, setara dengan kebutuhan air bersih puluhan ribu penduduk. Ketika London merencanakan koridor data center di sepanjang Thames Valley, angka konsumsi itu akan berlipat ganda dalam lima tahun ke depan, menciptakan kompetisi langsung dengan sumber daya air yang sudah tertekan.
Masalahnya bukan hanya volume, melainkan juga waktu. Pusat data menuntut pendinginan 24 jam, sementara wilayah seperti Inggris tenggara sudah berulang kali mengalami kekeringan musiman. Badan Lingkungan Hidup Inggris mencatat bahwa beberapa daerah aliran sungai telah mendekati batas ambang ekstraksi. Imbuhan dari pembangunan pusat data akan mendorong ekosistem air melampaui titik kritis, memicu degradasi habitat air tawar dan menipisnya cadangan air tanah.
Tarik Ulur Ekonomi dan Ekologi
Pemerintah Inggris memandang sektor data sebagai pilar pertumbuhan pasca-Brexit. Perdana Menteri bahkan menyebut pusat data sebagai “infrastruktur vital abad ke-21,” menjanjikan percepatan perizinan dan insentif pajak bagi investor. Namun, kelompok pegiat lingkungan dan beberapa anggota parlemen memperingatkan bahwa kebijakan ini dibuat tanpa analisis dampak air yang memadai. “Kami tidak anti-teknologi,” ujar seorang analis kebijakan dari lembaga riset urban, “tetapi Anda tidak bisa membangun puluhan fasilitas haus-air di kawasan yang sudah mengalami defisit presipitasi. Ini resep untuk krisis buatan.”
Kekhawatiran itu bukan tanpa preseden. Di Chile, pusat data di wilayah Santiago telah memicu protes warga karena mengurangi debit air permukiman. Di beberapa negara bagian Amerika Serikat, kota-kota kecil melawan ekspansi server farm setelah melihat tagihan air melonjak. Inggris, dengan iklim maritimnya yang lembap, sering dianggap aman dari masalah ini, padahal kenyataannya distribusi air tidak merata. Wilayah tenggara yang menjadi magnet data center justru menerima curah hujan tahunan lebih rendah daripada sebagian besar Eropa kontinental, dan perubahan iklim memperburuk ketidakpastian pasokan.
Teknologi Pendingin: Janji vs Realita
Para pengembang kerap mengklaim akan menggunakan pendingin adiabatik atau sistem sirkuit tertutup yang lebih hemat air. Namun pakar teknik termal mengingatkan bahwa klaim efisiensi seringkali tidak sesuai dengan kondisi operasional. Sistem adiabatik, misalnya, memang mengurangi penggunaan listrik, tetapi tetap menguapkan air dalam jumlah signifikan pada suhu tinggi—tepat ketika pasokan air paling langka. Sirkulasi tertutup dengan refrigeran menghadapi biaya energi yang jauh lebih besar, bertentangan dengan target emisi karbon Inggris. “Anda menghemat air tapi membakar lebih banyak gas, atau sebaliknya. Belum ada teknologi yang benar-benar menyelesaikan dilema air-energi ini,” ungkap seorang peneliti teknik dari universitas terkemuka Inggris.
Sementara itu, operator hiperskala global mulai mengumumkan target “positif-air” pada 2030, tetapi sebagian besar inisiatif tersebut masih mengandalkan proyek kompensasi seperti restorasi lahan basah di lokasi yang berbeda. Kritikus menilai pendekatan ini sebagai bentuk pencucian hijau yang tidak mengatasi ekstraksi langsung dari cekungan air setempat. Regulator Inggris, Ofwat, dikabarkan tengah menyusun pedoman penggunaan air untuk industri digital, namun pedoman itu belum bersifat mengikat dan tidak akan berlaku sebelum tiga tahun ke depan—semakin tertinggal dari laju konstruksi.
Seruan untuk Moratorium dan Perencanaan Terpadu
Di tengah tekanan publik, koalisi organisasi lingkungan dan masyarakat sipil mendesak penghentian sementara izin pusat data baru hingga audit air nasional selesai. “Ini soal akal sehat,” kata juru kampanye dari aliansi Air untuk Semua. “Kita tidak akan membangun kota baru tanpa memastikan pasokan airnya. Pusat data adalah kota digital, dengan kebutuhan air setara kota sungguhan.” Seruan serupa datang dari dewan daerah, yang menilai proyek-proyek ini kerap lolos karena klasifikasi sebagai “infrastruktur kepentingan nasional,” sehingga mengabaikan rencana tata ruang dan konsultasi lokal.
Para ahli hidro-informatika mengusulkan pendekatan yang lebih cermat: memetakan potensi air secara dinamis, mengintegrasikan peramalan iklim, dan mewajibkan pengembang untuk membangun infrastruktur daur ulang air hujan serta pengolahan air limbah di lokasi. “Teknologi reverse osmosis dan sirkulasi air abu-abu bisa memangkas kebutuhan air bersih hingga 40 persen, tetapi itu membutuhkan investasi awal yang signifikan,” jelas seorang konsultan keberlanjutan. “Pertanyaannya, apakah investor mau menanggung biaya itu, atau kita akan mengorbankan ketahanan air demi marjin keuntungan?”
Perdebatan ini menempatkan Inggris di persimpangan yang tidak nyaman. Di satu sisi, data center adalah tulang punggung ekonomi AI yang diprediksi bernilai triliunan dolar; di sisi lain, setiap liter air yang dialihkan ke server adalah liter yang tidak tersedia untuk mandi anak-anak, menyiram kebun, atau menjaga aliran sungai tetap hidup. Musim panas mendatang diproyeksikan lebih kering dari rata-rata, dan jika pembangunan tetap melaju tanpa kendali, para pengamat khawatir krisis air akan meletup lebih cepat dari perkiraan siapapun. Bagi warga biasa, ancaman ini bukanlah abstraksi digital, melainkan keran kering yang mungkin akan mereka hadapi beberapa tahun lagi.
Comments (0)