Application Name Application Name

Patokan

Kategori 9

Pringsewu — Bupati Riyanto Dorong BUMDes Kelola Lahan Bengkok Lewat Corporate Farming

Kawasan pedesaan di Kabupaten Pringsewu terus memoles potensi agrarisnya demi memperkuat pilar ekonomi lokal. Dalam upaya mentransformasi aset desa yang se

Pringsewu — Bupati Riyanto Dorong BUMDes Kelola Lahan Bengkok Lewat Corporate Farming

Kawasan pedesaan di Kabupaten Pringsewu terus memoles potensi agrarisnya demi memperkuat pilar ekonomi lokal. Dalam upaya mentransformasi aset desa yang selama ini kurang dimaksimalkan, Pemerintah Kabupaten Pringsewu menginstruksikan seluruh aparatur pekon (desa) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk mengalihkan orientasi pengelolaan aset ke arah industri pertanian modern yang terintegrasi.

Langkah strategis ini ditandai dengan pelaksanaan panen raya program Corporate Farming yang dipusatkan di atas lahan bengkok milik BUMDes Pekon Pujodadi, Kecamatan Pardasuka, pada Senin, 14 September 2026. Momentum tersebut menjadi bukti konkret bagaimana lahan kas desa yang dulunya pasif kini mampu diubah menjadi mesin penggerak ekonomi yang sangat produktif.

Bupati Pringsewu, Riyanto Pamungkas, yang hadir langsung di tengah hamparan sawah Pujodadi menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan benteng utama ketahanan ekonomi daerah. Oleh karena itu, keberadaan aset pekon tidak boleh lagi dibiarkan menganggur atau sekadar disewakan tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan bagi masyarakat luas.

"Pringsewu memiliki potensi besar di bidang pertanian. Oleh karena itu, aset pekon yang semestinya memberi nilai tambah jangan sampai tidak dikelola secara maksimal. Melalui konsep Corporate Farming, diharapkan pertanian dikelola lebih terencana, efisien, dan profesional," ujar Bupati Riyanto Pamungkas di hadapan puluhan petani dan jajaran aparatur pekon.

Transformasi Lahan Bengkok Jadi Pusat Pertumbuhan Ekonomi Pekon

Konsep Corporate Farming yang diusung Pemkab Pringsewu ini menggabungkan manajemen korporasi modern dengan pola kerja sama agraris berbasis kerakyatan. Lahan-lahan kas desa atau lahan bengkok yang tersebar di berbagai pekon diintegrasikan dalam satu tata kelola terpadu di bawah naungan BUMDes. Pola ini mengikis kebiasaan lama di mana aset tanah desa dikelola secara fragmentaris dan minim inovasi teknologi.

Menurut analisis Dinas Pertanian setempat, penerapan manajemen terkonsolidasi ini terbukti memangkas biaya operasional tanam dan meningkatkan posisi tawar petani saat memasuki musim panen. Berikut adalah komparasi efisiensi antara pola pengelolaan tradisional dan pendekatan Corporate Farming berbasis BUMDes:

Parameter Evaluasi Pengelolaan Tradisional (Individu) Model Corporate Farming BUMDes
Pengadaan Sarana Tanam Eceran dengan harga pasar tinggi Kolektif skala besar dengan harga grosir/subsidi
Manajemen Operasional Terpisah-pisah dan rentan gagal panen Terintegrasi dengan pengawasan teknis terstruktur
Akses Pemasaran Bergantung pada jaringan tengkulak lokal Kemitraan langsung dengan industri & pasar modern
Kontribusi ke Desa Minim (hanya uang sewa lahan) Meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) secara signifikan

Mengurai Potensi Pertanian Pringsewu Melalui Manajemen Modern

Sektor pertanian di Pringsewu selama ini berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) daerah. Namun, tantangan berupa alih fungsi lahan dan fluktuasi harga komoditas menuntut adanya terobosan nyata. Kehadiran BUMDes Pekon Pujodadi yang sukses mengorganisasi lahan bengkok menjadi percontohan nyata bahwa kedaulatan pangan desa dapat diraih jika aset dikelola secara profesional.

Melalui pola ini, BUMDes bertindak sebagai entitas bisnis yang memfasilitasi benih unggul, pupuk tepat waktu, hingga mekanisasi pertanian modern seperti penggunaan alat pemanen kombinasi (combine harvester). Dampaknya tidak hanya terlihat pada lonjakan tonase hasil panen, tetapi juga pada penciptaan lapangan kerja baru bagi buruh tani lokal yang dilibatkan dalam struktur kerja korporasi desa.

"Panen raya di Pujodadi ini bukan sekadar kegiatan memetik hasil pertanian tahunan. Program ini adalah cetak biru transformasi ekonomi desa. Kita ingin BUMDes di seluruh Pringsewu menjadi lembaga yang mandiri, inovatif, dan mampu mencetak keuntungan yang kembali lagi untuk kesejahteraan warga," tambah Riyanto dengan penuh optimistis.

Sinergi Aparatur dan Masyarakat Demi Kedaulatan Pangan

Keberhasilan pelaksanaan Corporate Farming di Pekon Pujodadi diharapkan memicu efek domino bagi ratusan pekon lainnya di Kabupaten Pringsewu. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan teknis melalui Dinas Pertanian serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pekon (DPMP).

Langkah ini juga sejalan dengan agenda nasional dalam memperkuat ketahanan pangan dari tingkat tapak. Dengan terkelolanya aset desa secara maksimal, pekon tidak lagi bergantung sepenuhnya pada dana transfer pusat, melainkan mampu menciptakan kemandirian fiskal melalui Pendapatan Asli Desa (PADes) yang kuat dan berkelanjutan. Sinergi antara aparatur pekon, BUMDes, dan kelompok tani menjadi kunci utama dalam mewujudkan ekosistem pertanian modern yang inklusif di bumi Pringsewu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer4
TENTANG PENULIS writer4

Bacaan Terkait

Comments (0)

User