Pramono Anung Kunjungi Teddy Indra Wijaya, Nostalgia Masa Jabat Seskab

Jakarta — Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Kantor Sekretariat Kabinet (Setkab) pada Senin (27/7/2026). Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyambangi gedung yang pernah menjadi rumah...

Jul 28, 2026 - 08:43
0 0
Pramono Anung Kunjungi Teddy Indra Wijaya, Nostalgia Masa Jabat Seskab

Jakarta — Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Kantor Sekretariat Kabinet (Setkab) pada Senin (27/7/2026). Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyambangi gedung yang pernah menjadi rumah keduanya selama bertahun-tahun itu. Kedatangannya disambut langsung oleh Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya, yang kini mengemban amanah memimpin lembaga penghubung kepentingan presiden dengan para menteri tersebut. Kunjungan ini bukan sekadar agenda formal pemerintahan, melainkan lebih dari itu: sebuah perjalanan nostalgia yang mengembalikan Pramono ke lorong-lorong kenangan masa pengabdiannya.

Sosok Pramono Anung memang tidak asing di lingkungan Setkab. Sebelum dilantik menjadi orang nomor satu di Ibu Kota, ia merupakan Seskab di era pemerintahan Presiden Joko Widodo periode pertama, tepatnya dari tahun 2015 hingga 2019. Selama empat tahun, Pramono menjadi salah satu figur sentral di Istana, mengelola agenda kabinet dan memastikan koordinasi lintas kementerian berjalan mulus. Tak heran jika langkah kakinya memasuki halaman Setkab pagi itu memicu gelombang antusiasme dari para pegawai yang dahulu menjadi rekan kerjanya sehari-hari. Banyak di antara mereka yang masih menyimpan ingatan tentang gaya kepemimpinan Pramono—tegas namun selalu membumi, serta hobi bercanda yang kerap mencairkan suasana rapat-rapat kabinet yang serius.

Seskab Teddy Indra Wijaya yang baru beberapa tahun menjabat, terlihat tulus menyambut seniornya itu. Mengenakan pakaian kerja rapi, Teddy dan Pramono berbincang santai di ruang kerjanya yang legendaris—ruangan yang dahulu pernah menjadi saksi berbagai keputusan penting Pramono saat menjabat. Keduanya tidak hanya membahas isu-isu terkini seputar kolaborasi pusat dan daerah, tetapi juga bertukar cerita tentang dinamika internal birokrasi yang tak banyak berubah. Teddy, dengan latar belakangnya sebagai perwira tinggi TNI, mendengarkan dengan khidmat setiap pengalaman yang dibagikan Pramono. Dalam beberapa momen, tawa lepas terdengar dari balik pintu, menandakan kedekatan personal yang telah terjalin meski keduanya berasal dari lintasan karier yang berbeda.

Selepas pertemuan tertutup, Pramono dan Teddy memutuskan untuk berkeliling ke beberapa sudut kantor. Langkah mereka menyusuri koridor-koridor yang dihiasi foto-foto sejarah kabinet Indonesia, berhenti sejenak di depan papan pengumuman, dan menyapa satu per satu pegawai yang sedang bekerja. Suasana sontak berubah seperti reuni keluarga besar. Para staf, mulai dari tenaga administrasi hingga pejabat eselon, berebut bersalaman dan mengobrol singkat dengan mantan atasan mereka. Seorang pegawai senior tak kuasa menahan haru ketika Pramono mengingat nama-nama staf yang dulu sering terlibat dalam proyek-proyek besar, seperti penyusunan Peraturan Presiden dan persiapan sidang kabinet. Momen ini menegaskan bahwa ikatan antara pemimpin dan timnya tidak luntur meski waktu dan jabatan telah berubah.

Kunjungan ini juga menjadi potret sinergi yang sehat antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Di tengah kompleksitas tantangan perkotaan yang dihadapi Jakarta—mulai dari banjir, kemacetan, hingga pengelolaan sampah—kehadiran mantan Seskab yang kini menjadi gubernur memberikan jembatan komunikasi yang unik. Pramono memahami seluk-beluk pengambilan kebijakan di tingkat pusat, sementara Teddy berkepentingan memastikan koordinasi antar kementerian turut mendukung program strategis DKI Jakarta. Dalam pertemuan itu, keduanya diyakini mengeksplorasi peluang percepatan proyek-proyek vital yang membutuhkan dukungan regulasi dari pemerintah pusat, termasuk revisi aturan yang selama ini menjadi hambatan di lapangan.

Profil Teddy Indra Wijaya sendiri telah menjadi sorotan publik sejak ia dipercaya menduduki posisi Seskab. Lulusan Akademi Militer yang malang melintang di dunia intelijen dan protokoler ini dikenal sebagai sosok pekerja keras dan setia. Ia kerap mendampingi Presiden dalam berbagai kunjungan kenegaraan dan menjadi simpul informasi yang menghubungkan Istana dengan jajaran menteri. Sementara Pramono Anung, sebagai kader senior PDIP, telah meniti karier politik yang panjang, mulai dari anggota DPR, Wakil Ketua DPR, hingga Seskab, dan kini Gubernur Jakarta. Perjumpaan dua tokoh dengan latar demikian berbeda menjadi simbol harmoni pemerintahan yang mengedepankan substansi di atas sekat-sekat politik.

Sore menjelang, Pramono mohon diri. Ia meninggalkan kompleks Setkab dengan senyum yang tak pudar, membawa serta harapan agar semangat kolaborasi yang pernah ia bangun di sana terus bertumbuh di bawah kepemimpinan Teddy. Bagi para pegawai, kunjungan itu bukan sekadar momen lewatnya mantan pejabat, melainkan suntikan semangat bahwa pengabdian mereka dilihat dan diingat. Seskab Teddy pun menyampaikan bahwa pintu Setkab akan selalu terbuka bagi para pendahulu untuk sekadar menyapa atau bertukar gagasan. “Setkab adalah rumah bersama untuk pengabdian,” begitu pesan singkat yang merefleksikan esensi pertemuan tersebut.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User