Pramono Anung Kembali ke Setkab, Silaturahmi dengan Teddy dan Kenangan Lama
Jakarta — Suasana hangat menyelimuti Gedung Sekretariat Kabinet pada awal pekan ini ketika Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melangkah masuk ke tempat yang pernah menjadi rumah kedinasannya selama ...
Jakarta — Suasana hangat menyelimuti Gedung Sekretariat Kabinet pada awal pekan ini ketika Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung melangkah masuk ke tempat yang pernah menjadi rumah kedinasannya selama bertahun-tahun. Kedatangannya bukan sekadar kunjungan resmi kepala daerah ke lembaga pusat, melainkan juga sebuah perjalanan emosional yang membawanya kembali ke masa-masa awal karier birokratiknya di lingkaran kekuasaan eksekutif. Pramono diterima langsung oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya di ruang kerjanya, sebelum kemudian mereka terlibat dalam percakapan santai yang diselingi tawa dan nostalgia bersama para pegawai Setkab.
Reuni Tak Terduga di Ruang Kerja Seskab
Pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam itu bermula dari agenda koordinasi pembangunan Ibu Kota. Namun, begitu Pramono tiba, sejumlah wajah lama langsung menyambutnya di lobi utama. Mantan Sekretaris Kabinet era Presiden Joko Widodo itu tidak kuasa menahan senyum ketika melihat beberapa staf senior yang dulu bekerja bersamanya masih setia mengabdi di institusi yang sama. “Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri,” ujarnya, seraya menyalami satu per satu pegawai yang dikenalnya dengan hangat.
Di ruang kerja Seskab, Teddy dan Pramono sempat berdiskusi secara tertutup. Meski isi pembicaraan mereka tidak diungkapkan secara mendetail kepada awak media, sejumlah sumber menyebutkan bahwa keduanya membahas sinkronisasi program strategis antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Pemerintah Pusat. Isu penanganan banjir, revitalisasi transportasi publik, serta pengembangan kawasan kota satelit menjadi topik utama yang mewarnai dialog tersebut. Teddy, yang dikenal sebagai perwira tinggi TNI dengan pendekatan birokratis yang lugas, terlihat mendengarkan dengan saksama pemaparan Pramono tentang tantangan pembangunan di Jakarta.
Yang membuat suasana berbeda adalah ketika diskusi resmi berakhir dan mereka beralih ke ruang tengah tempat puluhan pegawai Setkab berkumpul. Di sinilah momen nostalgia benar-benar terasa. Pramono tidak lagi berbicara sebagai gubernur yang sibuk mengurus ibu kota, melainkan sebagai mantan kolega yang memiliki kenangan panjang dengan sejumlah pegawai di sana. Kisah-kisah tentang rapat maraton, lembur menyiapkan dokumen sidang kabinet, hingga candaan di sela-sela jam kerja menjadi bahan obrolan yang mengundang tawa kecil dari mereka yang hadir.
Jembatan Pusat dan Daerah
Kehadiran Pramono di Setkab juga dimaknai sebagai langkah simbolis untuk memperkuat jalinan komunikasi antara pemerintah provinsi dan instansi pusat. Sebagai gubernur yang baru beberapa bulan menjabat, Pramono tampak berusaha membangun fondasi kooperasi yang solid dengan lembaga-lembaga kunci di tingkat nasional. Teddy Indra Wijaya sendiri dalam sambutan singkatnya menyebut bahwa pengalaman Pramono sebagai mantan Sekretaris Kabinet memberinya perspektif ganda yang langka: ia memahami seluk-beluk birokrasi pusat sekaligus hafal permasalahan lapangan di Jakarta.
“Beliau tahu persis bagaimana cara kerja kabinet, bagaimana alur koordinasi antar-kementerian, dan bagaimana eksekusi kebijakan dari atas sampai ke bawah. Jadi, pertemuan ini bukan hanya soal silaturahmi, tapi juga investasi untuk efisiensi pemerintahan ke depan,” kata Teddy di hadapan para stafnya. Pernyataan itu disambut tepuk tangan antusias dari pegawai yang hadir.
Pramono sendiri mengakui bahwa masa baktinya di Sekretariat Kabinet telah membentuk banyak kemampuannya dalam membaca dinamika pemerintahan. “Di sinilah saya belajar bahwa birokrasi yang baik adalah birokrasi yang tidak kaku. Butuh jejaring, butuh kepercayaan, dan yang paling penting, butuh sentuhan personal,” tuturnya. Ia pun menekankan bahwa pembangunan Jakarta tidak bisa berjalan optimal tanpa dukungan penuh dari pusat, terutama dalam hal perizinan lintas sektor dan pendanaan proyek-proyek besar.
Cerita di Balik Meja Lama
Menjelang siang, Pramono menyempatkan diri berkeliling ke beberapa lantai gedung. Dengan langkah lepas, ia menuju salah satu ruang rapat lantai empat yang dulu sering ia gunakan untuk memimpin persiapan sidang kabinet. Beberapa pegawai yang masih menyimpan foto-foto lama menunjukkan kenangan masa lalu, termasuk satu foto Pramono saat masih menjadi Seskab tengah memimpin pengarahan dengan latar belakang bendera merah putih. Momen itu sontak membuat suasana berubah menjadi penuh haru. “Waktu itu rambut saya masih hitam semua,” candanya sambil tertawa kecil.
Seorang staf tata usaha yang sudah mengabdi hampir dua dasawarsa mengaku terkesan dengan kerendahan hati mantan atasannya itu. “Beliau masih ingat nama saya, bahkan menanyakan kabar anak saya yang dulu sering sakit-sakitan. Padahal saya hanya staf biasa waktu itu,” ujarnya. Interaksi semacam inilah yang justru menjadi inti dari kunjungan Pramono di mata para pegawai Setkab: sebuah perjumpaan yang melampaui protokol formal dan mengembalikan ikatan personal yang pernah terjalin erat.
Tidak hanya berbicara tentang masa lalu, Pramono juga menyampaikan optimisme terhadap arah pemerintahan saat ini di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Ia menekankan bahwa stabilitas politik dan sinergi antar-lembaga adalah modal utama untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks. “Kita semua, di pusat maupun di daerah, berada di kapal yang sama. Kalau kita bisa saling mendengar dan saling membantu, tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan,” katanya sebelum akhirnya berpamitan.
Kunjungan yang berlangsung akrab itu pun ditutup dengan sesi foto bersama di tangga utama Gedung Setkab. Dengan latar belakang langit Jakarta yang cerah, Pramono berdiri di samping Teddy dikelilingi puluhan pegawai yang tersenyum lepas. Sore itu, Sekretariat Kabinet bukan hanya menjadi tempat rapat dan pengambilan keputusan, melainkan juga panggung kecil bagi sejarah yang hidup kembali lewat jejak seorang mantan penghuninya.
Comments (0)