Prabowo Uji Langsung Ketangguhan Genteng Inovasi BRIN di Istana Merdeka
Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan publik setelah aksinya menguji ketangguhan genteng hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (7/8/2026). Dalam kes...
Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan publik setelah aksinya menguji ketangguhan genteng hasil riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (7/8/2026). Dalam kesempatan tersebut, Kepala Negara tidak sekadar melihat produk inovasi itu dari dekat, tetapi juga melempar serta menginjak genteng untuk membuktikan kualitasnya secara langsung.
Momen tak biasa itu terjadi saat BRIN memamerkan salah satu hasil inovasi unggulannya kepada Presiden. Genteng yang diproduksi melalui penelitian para periset dalam negeri itu diklaim memiliki daya tahan jauh lebih kuat dibandingkan genteng konvensional yang banyak beredar di pasaran.
Aksi Lempar dan Injak Genteng
Prabowo tampak antusias ketika menjajal kekuatan genteng tersebut. Ia mengangkat genteng lalu melemparkannya ke lantai untuk melihat apakah material itu pecah atau tetap utuh. Tak berhenti di situ, Presiden juga menginjak-injak genteng dengan kakinya guna memastikan klaim ketahanan yang disampaikan para periset benar adanya.
Hasilnya, genteng tersebut tetap utuh meski mendapat perlakuan keras dari orang nomor satu di Indonesia itu. Kondisi ini membuktikan bahwa inovasi yang dikembangkan BRIN memang memiliki kualitas yang dapat diandalkan, terutama dari sisi kekuatan struktur materialnya.
Aksi spontan Presiden itu sekaligus menjadi bentuk kepercayaan dirinya terhadap produk riset dalam negeri. Dengan menguji langsung, Prabowo ingin memastikan masyarakat mendapatkan produk berkualitas jika genteng inovatif itu nantinya diproduksi massal dan dipasarkan secara luas.
Inovasi Genteng Karya Periset Indonesia
Genteng hasil pengembangan BRIN merupakan buah kerja keras para peneliti yang berupaya menciptakan material bangunan berkualitas tinggi dengan memanfaatkan sumber daya lokal. Inovasi semacam ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor sekaligus memperkuat industri material bangunan nasional.
Selama ini, genteng konvensional dari tanah liat kerap dikeluhkan karena mudah pecah, baik saat proses distribusi maupun ketika pemasangan. Kerapuhan material tersebut sering menimbulkan kerugian bagi konsumen maupun pelaku konstruksi. Kehadiran genteng yang lebih kokoh menjadi jawaban atas persoalan yang selama ini dihadapi masyarakat.
Para periset BRIN mengembangkan genteng tersebut melalui serangkaian penelitian panjang, mulai dari pemilihan bahan baku, formulasi campuran material, hingga teknik produksi yang tepat. Setiap tahapan dilakukan dengan standar pengujian ketat agar produk akhirnya memenuhi kriteria kekuatan dan daya tahan yang dibutuhkan konsumen.
Dorongan untuk Riset dan Inovasi Nasional
Kesediaan Prabowo menguji langsung produk riset menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Tanah Air. Dukungan dari level kepemimpinan tertinggi dinilai penting agar hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, melainkan benar-benar dimanfaatkan oleh masyarakat luas.
BRIN sendiri terus didorong menghasilkan inovasi yang menjawab kebutuhan nyata rakyat. Produk seperti genteng tahan banting ini menjadi contoh bagaimana riset dapat menyentuh kehidupan sehari-hari, mulai dari kebutuhan perumahan hingga pembangunan infrastruktur di berbagai daerah.
Apalagi, pemerintah tengah menggenjot program perumahan rakyat dalam skala besar. Ketersediaan material bangunan berkualitas dengan harga terjangkau menjadi salah satu kunci keberhasilan program tersebut. Genteng inovatif hasil riset BRIN berpotensi menjadi bagian dari rantai pasok pembangunan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Potensi Hilirisasi Hasil Riset
Agar manfaatnya benar-benar dirasakan, inovasi genteng ini membutuhkan dukungan hilirisasi dari berbagai pihak. Kolaborasi antara lembaga riset, dunia usaha, dan pemerintah daerah diperlukan supaya produk dapat diproduksi secara massal dengan biaya yang efisien.
Industri dalam negeri juga berkesempatan mengambil peran dalam komersialisasi produk riset tersebut. Dengan kemitraan yang tepat, genteng karya anak bangsa ini bisa menembus pasar nasional bahkan berpeluang diekspor ke negara lain yang membutuhkan material bangunan berkualitas.
Momen pengujian di Istana Merdeka itu menjadi simbol bahwa karya periset Indonesia layak mendapat panggung dan kepercayaan. Ketika seorang presiden bersedia melempar dan menginjak produk riset demi membuktikan kualitasnya, pesan yang tersampaikan jelas: inovasi lokal memiliki nilai dan masa depan yang menjanjikan.
Kini, publik menanti langkah lanjutan dari pengembangan genteng tersebut. Jika berhasil diproduksi massal dan dipasarkan dengan harga bersaing, masyarakat Indonesia akan memiliki pilihan material atap yang lebih kuat, tahan lama, dan tentunya buatan anak negeri sendiri.
Comments (0)