Prabowo Sungkem kepada Kiai Sepuh di Muktamar NU
Presiden Prabowo Subianto menunjukkan sikap hormat kepada ulama sepuh saat menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Dalam pertemuan tersebut, kepala negara menghampiri pengasuh Pondok Pesantren Al-F...
Presiden Prabowo Subianto menunjukkan sikap hormat kepada ulama sepuh saat menghadiri Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Dalam pertemuan tersebut, kepala negara menghampiri pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli.
Prabowo kemudian menundukkan badan dan sungkem kepada kiai tersebut. Gestur itu berlangsung dalam suasana penuh takzim dan menjadi salah satu momen yang menarik perhatian di tengah rangkaian agenda organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Sikap sungkem dikenal luas sebagai bentuk penghormatan dalam tradisi masyarakat Indonesia, khususnya ketika seseorang berhadapan dengan tokoh yang dituakan. Dalam konteks pertemuan itu, tindakan Prabowo mencerminkan penghargaan kepada KH Nurul Huda Djazuli sebagai ulama sepuh sekaligus pengasuh lembaga pendidikan pesantren.
Muktamar ke-35 NU mempertemukan para pengurus, ulama, serta perwakilan warga Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah. Forum tersebut menjadi ruang penting untuk membahas arah organisasi, memperkuat konsolidasi, dan merumuskan sejumlah agenda bagi perjalanan NU ke depan.
Tradisi penghormatan di lingkungan pesantren
Pesantren memiliki tradisi kuat dalam menempatkan kiai sebagai figur panutan. Hubungan antara santri, masyarakat, dan ulama tidak hanya dibangun melalui proses pendidikan keagamaan, tetapi juga melalui adab serta penghormatan terhadap orang yang lebih tua dan berilmu.
Karena itu, pertemuan antara pejabat negara dan kiai kerap menghadirkan simbol-simbol penghormatan yang lekat dengan budaya pesantren. Sungkem menjadi salah satu bentuk komunikasi nonverbal yang menyampaikan kerendahan hati sekaligus penghargaan kepada sosok yang dihormati.
Momen Prabowo bersama KH Nurul Huda Djazuli pun memperlihatkan perjumpaan antara kepemimpinan nasional dan otoritas keagamaan di lingkungan pesantren. Kehadiran presiden dalam forum muktamar turut menegaskan pentingnya komunikasi dengan para ulama dan elemen masyarakat yang memiliki basis sosial luas.
Pesan kebersamaan dalam muktamar
Selain menjadi forum pengambilan keputusan organisasi, muktamar juga berfungsi sebagai ajang silaturahmi. Para peserta dan tamu yang hadir berkesempatan mempererat hubungan, bertukar pandangan, serta menyaksikan berbagai dinamika yang berkembang di tubuh NU.
Interaksi Prabowo dengan kiai sepuh tersebut berlangsung singkat, tetapi memiliki makna simbolis yang kuat. Di tengah agenda kenegaraan dan pembahasan organisasi, peristiwa itu menghadirkan gambaran mengenai pentingnya etika, kesantunan, dan penghargaan terhadap tokoh agama.
Perhatian terhadap momen tersebut juga tidak terlepas dari posisi NU dalam kehidupan sosial dan kebangsaan Indonesia. Organisasi ini memiliki jaringan pesantren, lembaga pendidikan, serta komunitas yang tersebar di berbagai wilayah. Hubungan baik antara pemerintah dan ulama dipandang penting untuk menjaga suasana kebangsaan yang damai dan memperkuat kerja sama dalam menghadapi berbagai tantangan.
Dengan demikian, gestur sungkem Prabowo kepada KH Nurul Huda Djazuli bukan sekadar peristiwa seremonial. Momen itu menjadi cerminan penghormatan terhadap tradisi pesantren sekaligus simbol silaturahmi antara pemimpin negara dan ulama dalam perhelatan besar Nahdlatul Ulama.




Comments (0)