Prabowo Panggil Mendiktisaintek dan Waka BRIN, Ini Isi Pertemuannya
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan penting dengan dua tokoh kunci di bidang riset dan teknologi siang ini. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Bria...
Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan penting dengan dua tokoh kunci di bidang riset dan teknologi siang ini. Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto serta Wakil Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Amarulla Octavian tampak memasuki Istana Kepresidenan sekitar pukul 13.00 WIB.
Pertemuan yang berlangsung secara tertutup itu memicu spekulasi tentang arah kebijakan riset nasional di era pemerintahan baru. Kedatangan keduanya menandakan bahwa isu sains dan inovasi menjadi prioritas tinggi di mata kepala negara.
Pertemuan Tertutup di Istana
Berdasarkan pantauan, Brian Yuliarto dan Amarulla Octavian tiba secara terpisah namun dalam waktu yang hampir bersamaan. Keduanya tidak banyak memberikan keterangan kepada awak media yang sudah menunggu. “Mohon maaf, nanti saja ya,” ujar Brian singkat sambil melangkah masuk. Amarulla pun hanya melambaikan tangan dan tersenyum.
Sekretaris Kabinet yang dikonfirmasi terpisah membenarkan adanya pertemuan tersebut, namun enggan merinci agenda spesifik. “Presiden ingin mendengarkan langsung perkembangan terbaru di sektor riset, serta mendiskusikan langkah-langkah strategis ke depan,” katanya.
Fokus pada Kemandirian Teknologi
Sumber di lingkungan istana menyebutkan bahwa salah satu topik utama adalah percepatan kemandirian teknologi nasional. Prabowo diketahui kerap menekankan pentingnya Indonesia tidak terus-menerus bergantung pada produk impor di sektor strategis, seperti farmasi, pangan, dan pertahanan.
“Presiden ingin agar hasil riset dalam negeri benar-benar bisa dihilirisasi dan dimanfaatkan oleh industri,” ungkap sumber tersebut. Brian Yuliarto, yang sebelumnya dikenal sebagai akademisi dan peneliti di bidang energi, diharapkan mampu menerjemahkan visi itu ke dalam program konkret di lingkungan perguruan tinggi.
Sementara itu, Amarulla Octavian yang berlatar belakang maritim dan pertahanan, membawa perspektif riset lintas disiplin yang menjadi ciri khas BRIN. Dengan pengalaman panjang di dunia militer, ia dipandang mampu menjembatani riset dan kebutuhan industri strategis negara.
Sinergi BRIN dan Kemendiktisaintek
Salah satu poin krusial yang dibahas adalah sinergi antara BRIN dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Kedua lembaga ini sebenarnya memiliki irisan tugas yang besar, terutama dalam pengelolaan sumber daya manusia peneliti dan alokasi dana riset.
Sejak BRIN dibentuk pada era sebelumnya, tarik-menarik kewenangan dengan kementerian teknis sempat menimbulkan tumpang tindih. Prabowo diyakini ingin memastikan agar kedua institusi bergerak dalam harmoni, bukan saling berebut lahan.
“Pesan presiden adalah kolaborasi. Tidak boleh ada ego sektoral yang menghambat kemajuan riset nasional,” kata seorang pejabat yang enggan disebut namanya.
Target Hilirisasi dan Anggaran Riset
Selain isu kelembagaan, pembahasan juga menyentuh anggaran riset dan target hilirisasi. Pemerintah Prabowo berkomitmen meningkatkan porsi belanja riset terhadap produk domestik bruto (PDB) secara bertahap. Saat ini, rasio tersebut masih di kisaran 0,28 persen, jauh di bawah negara-negara maju yang rata-rata di atas 2 persen.
“Presiden menugaskan Mendiktisaintek dan BRIN untuk menyusun peta jalan riset nasional hingga 2045, dengan target-target yang terukur,” beber sumber tadi. Pendekatan berbasis luaran (output-based) menjadi penekanan, sehingga setiap rupiah yang dikeluarkan harus menghasilkan paten, produk, atau kebijakan yang berdampak luas.
Pengembangan Talenta dan Diaspora
Brian Yuliarto disebut membawa sejumlah usulan terkait pengembangan talenta riset, termasuk mempermudah jalur karier peneliti di kampus dan lembaga riset. Salah satunya adalah skema beasiswa doktoral terapan yang langsung terhubung dengan industri, sehingga lulusan tidak lagi terisolasi di laboratorium kampus.
Adapun Amarulla Octavian mendorong penguatan diaspora peneliti Indonesia di luar negeri. BRIN selama ini aktif menyerap para diaspora untuk terlibat dalam berbagai proyek, namun skema pendanaan dan insentif dinilai masih perlu perbaikan. “Presiden sangat tertarik dengan ide memanfaatkan jaringan global untuk mempercepat transfer teknologi,” urai sumber.
Respons Akademisi dan Pelaku Industri
Pertemuan di Istana ini disambut positif oleh kalangan perguruan tinggi dan industri. Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB), yang ditemui terpisah, menyatakan harapannya agar hasil pertemuan mampu menciptakan terobosan nyata. “Kami berharap lahir kebijakan yang memudahkan hilirisasi riset kampus ke dunia usaha,” ujarnya.
Dari sisi pelaku industri farmasi, perwakilan Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GP Farmasi) mengaku menanti arahan konkret. “Kami butuh kepastian regulasi dan insentif agar mau menyerap hasil riset dalam negeri, terutama bahan baku obat,” ujarnya. Ketergantungan pada impor bahan baku obat selama ini menjadi celah yang ingin ditutup pemerintah.
Secara keseluruhan, pertemuan siang ini dianggap sebagai sinyal kuat bahwa pemerintahan Prabowo serius menjadikan riset dan inovasi sebagai penggerak utama pembangunan. “Ini pertemuan awal, nanti akan ada rapat lanjutan dengan melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan,” pungkas pejabat istana.
Comments (0)