Prabowo Nilai Perbandingan PISA dengan Singapura Tak Adil

Jakarta, Patokan — Presiden Prabowo Subianto angkat bicara mengenai hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang menempatkan Indonesia di bawah Singapura. Dalam pernyataannya, Ke...

Aug 07, 2026 - 16:59
0 0
Prabowo Nilai Perbandingan PISA dengan Singapura Tak Adil

Jakarta, Patokan — Presiden Prabowo Subianto angkat bicara mengenai hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang menempatkan Indonesia di bawah Singapura. Dalam pernyataannya, Kepala Negara menegaskan bahwa membandingkan capaian pendidikan Indonesia dengan Singapura merupakan hal yang tidak proporsional. Ia menyebutkan bahwa kedua negara memiliki karakteristik sosial, ekonomi, dan geografis yang jauh berbeda, sehingga perbandingan langsung dianggap tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.

Fakta yang Diungkap Prabowo

Prabowo mengungkapkan sejumlah fakta yang jarang disorot publik. Pertama, luas wilayah Indonesia mencapai lebih dari 1,9 juta kilometer persegi dengan ribuan pulau yang tersebar. Kondisi ini menjadi tantangan besar dalam pemerataan akses pendidikan. Sementara Singapura, sebagai negara kota dengan luas hanya sekitar 734 kilometer persegi, memiliki konsentrasi penduduk dan infrastruktur yang jauh lebih mudah dikelola. "Kita tidak bisa membandingkan apel dengan jeruk. Singapura adalah negara kecil dengan sumber daya terpusat, sedangkan Indonesia harus melayani 17 ribu pulau," ujar Prabowo dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (4/2/2025).

Kedua, Prabowo menyoroti disparitas ekonomi. Pendapatan per kapita Singapura yang sangat tinggi memungkinkan pemerintahnya mengalokasikan anggaran pendidikan secara masif. Berbeda dengan Indonesia yang masih harus membagi anggaran untuk berbagai sektor prioritas, seperti infrastruktur, kesehatan, dan pertahanan. Meski demikian, Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya tetap berkomitmen untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional secara bertahap.

Respons Terhadap Kritik

Pernyataan Prabowo ini muncul setelah sejumlah pihak mengkritik rendahnya skor PISA Indonesia yang berada di bawah rata-rata negara OECD. Namun, Prabowo menilai bahwa kritik tersebut sering kali mengabaikan konteks kompleks yang dihadapi Indonesia. Ia mencontohkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah dan tingkat heterogenitas budaya yang sangat tinggi, yang memengaruhi proses pembelajaran di setiap daerah.

"Kami tidak lari dari evaluasi. Justru kami menggunakan data PISA sebagai pijakan untuk perbaikan. Namun, kami juga harus realistis bahwa perubahan tidak bisa instan," tambahnya. Prabowo juga mengungkapkan bahwa pemerintah sedang menggenjot program digitalisasi sekolah dan pelatihan guru secara massal. Hal ini diharapkan dapat mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah perkotaan dan terpencil.

Langkah Strategis Pemerintah

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo memaparkan beberapa langkah strategis yang tengah berjalan. Pertama, penguatan kurikulum yang berfokus pada literasi, numerasi, dan karakter. Kedua, peningkatan kesejahteraan guru melalui tunjangan dan sertifikasi. Ketiga, pembangunan sekolah-sekolah baru di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). "Kami menargetkan dalam lima tahun ke depan, setiap anak Indonesia, di mana pun mereka berada, mendapatkan akses pendidikan yang layak," tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga menjalin kerja sama dengan berbagai negara, termasuk Singapura, untuk pertukaran guru dan pengembangan kurikulum. Prabowo menilai bahwa kolaborasi internasional lebih produktif daripada sekadar perbandingan skor. Ia optimistis bahwa dengan pendekatan yang tepat, Indonesia akan mampu mengejar ketertinggalan dalam satu dekade mendatang.

Dukungan dan Kritik Publik

Pernyataan Prabowo mendapat beragam respons. Sebagian kalangan mendukung pandangan presiden, dengan alasan bahwa konteks lokal memang harus menjadi pertimbangan utama. Namun, tidak sedikit pula yang menilai bahwa perbandingan dengan Singapura justru penting sebagai tolok ukur ambisi. Pengamat pendidikan, seperti Prof. Aminudin dari Universitas Negeri Jakarta, menyebut bahwa data PISA tetap relevan sebagai alat evaluasi, tetapi harus diinterpretasikan secara bijak.

"Saya setuju bahwa perbandingan langsung tidak adil. Namun, kita juga harus berani bermimpi besar. Singapura pernah berada di posisi kita, tetapi mereka berhasil berubah dengan kebijakan yang konsisten," kata Aminudin. Ia menambahkan bahwa Indonesia perlu belajar dari keberhasilan Singapura dalam hal manajemen sekolah dan pelatihan guru, tanpa harus mengabaikan kearifan lokal.

Di sisi lain, sejumlah orang tua siswa mengaku lega dengan pernyataan Prabowo yang dianggap tidak menyalahkan guru atau siswa. Mereka berharap pemerintah segera merealisasikan janji-janji perbaikan pendidikan, terutama di daerah yang masih minim fasilitas. "Kami tidak ingin mendengar teori saja, tapi bukti nyata di lapangan," ujar Siti, seorang ibu dari Lombok Timur yang dihubungi Patokan.

Penutup

Prabowo menegaskan bahwa pemerintahannya tidak akan berhenti berbenah. Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama membangun pendidikan yang lebih inklusif dan berkualitas. "Kita tidak boleh pesimis. Dengan kerja keras dan gotong royong, saya yakin Indonesia bisa bersaing di kancah global tanpa kehilangan jati diri," pungkasnya. Pemerintah berjanji akan merilis peta jalan pendidikan nasional dalam waktu dekat, yang akan menjadi panduan bagi seluruh pemangku kepentingan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User