Polisi Rampungkan Olah TKP Klinik Mordent, Tiga Barbuk Dibawa ke Labfor
Jakarta, Patokan - Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Timur telah menuntaskan proses olah tempat kejadian perkara (TKP) di Klinik Mordent yang berlokasi di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Dari keg...
Jakarta, Patokan - Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Timur telah menuntaskan proses olah tempat kejadian perkara (TKP) di Klinik Mordent yang berlokasi di kawasan Cipayung, Jakarta Timur. Dari kegiatan yang digelar pada Senin (28/7) siang itu, tim Inafis berhasil membawa tiga paket barang bukti yang diduga berkaitan erat dengan kematian tragis seorang pria bernama Sutrimo. Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh petugas kebersihan klinik pada Minggu malam, dan langsung memicu respons cepat dari jajaran kepolisian setempat.
Setelah menerima laporan sekitar pukul 22.30 WIB, petugas piket Polsek Cipayung segera meluncur ke lokasi dan mengamankan area. Begitu pagi tiba, tim gabungan dari Satreskrim dan Unit Identifikasi langsung melakukan olah TKP yang berlangsung selama hampir lima jam. Garis polisi dipasang di seluruh bagian depan dan dalam klinik, sementara warga yang penasaran hanya bisa menyaksikan dari luar pagar.
Langkah Demi Langkah di Balik Olah TKP
Tim identifikasi yang dipimpin oleh AKP Rudi Hartono menyusuri setiap sudut ruangan tempat korban ditemukan. Dengan mengenakan pakaian hazmat, petugas menyemprotkan cairan khusus untuk mendeteksi sidik jari laten di gagang pintu, meja periksa, dan peralatan medis di sekitarnya. Mereka juga mengambil sampel bercak-bercak yang dicurigai sebagai cairan tubuh menggunakan teknik usap steril. Seluruh proses direkam secara detail sebagai bagian dari dokumentasi resmi penyidikan.
Menurut keterangan Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Adi Saputra, olah TKP kali ini sedikit lebih rumit karena lokasi merupakan fasilitas kesehatan yang masih beroperasi. "Kami harus sangat hati-hati agar tidak mengontaminasi alat-alat medis yang ada. Namun, kami yakin telah mengumpulkan semua petunjuk penting," ujarnya kepada wartawan di sela-sela pemeriksaan.
Tiga Barang Bukti yang Dikemas Rapi
Fokus utama penyelidikan tertuju pada tiga bungkusan kertas cokelat yang terlihat jelas di tangan petugas saat meninggalkan gedung menuju kendaraan laboratorium forensik. Bungkusan pertama berisi sebuah telepon genggam milik korban yang dalam keadaan terkunci, namun diduga menyimpan komunikasi terakhir sebelum kejadian naas. Bungkusan kedua, menurut sumber di kepolisian, berisi sebuah buku catatan kecil dengan sejumlah tulisan tangan yang mirip dengan coretan pesan pribadi—belum jelas apakah itu berkaitan dengan motif motif kriminal. Sementara bungkusan ketiga menyimpan sebuah alat suntik dan botol kecil berisi residu cairan bening yang kini akan diuji komposisinya di Puslabfor.
Kepala Puslabfor Mabes Polri, Brigadir Jenderal Budi Waseso, membenarkan bahwa pihaknya telah menerima barang bukti tersebut dan akan segera melakukan pemeriksaan kimia, biologi, dan balistik. "Prioritas kami adalah mengidentifikasi zat pada cairan dalam botol dan jarum suntik. Proses ini memakan waktu tiga hingga lima hari kerja, tergantung tingkat kerumitan," jelasnya.
Sutrimo: Profil Singkat dan Kronologi Penemuan
Sutrimo (48), warga Kelurahan Setu, Jakarta Timur, diketahui merupakan pasien rutin di Klinik Mordent yang tengah menjalani terapi pengobatan penyakit kronis. Berdasarkan keterangan perawat jaga, Siti Nurhayati (32), korban terakhir terlihat memasuki ruang periksa pukul 16.00 WIB pada hari Minggu. Ketika pintu tidak kunjung terbuka hingga malam, petugas kebersihan mencoba mengetuk dan akhirnya mendobrak pintu setelah tidak mendapat respons. Mereka dikejutkan oleh sosok Sutrimo yang terbujur kaku di atas brankar periksa dengan wajah membiru.
"Saya lihat mulut beliau berbusa sedikit. Saya langsung lari ke depan, teriak minta tolong," kata Siti dengan suara bergetar saat diwawancarai terpisah. Polisi yang tiba langsung memasang police line dan melakukan pemeriksaan pendahuluan, termasuk mengecek nadi dan pupil korban yang sudah melebar tetap.
Dugaan Sementara dan Arah Penyelidikan
Pihak kepolisian belum berani menetapkan tersangka maupun mengumumkan penyebab pasti kematian. Namun, dari hasil olah TKP dan pemeriksaan awal, dugaan mengarah pada kemungkinan keracunan zat tertentu yang masuk ke dalam tubuh korban. "Kami belum dapat memastikan apakah ini tindak pidana pembunuhan, bunuh diri, atau malapraktik medis. Semuanya bergantung pada hasil labfor dan autopsi," tegas Kabid Humas Polda Metro Jaya, Komisaris Besar M. Iqbal.
Untuk memperkuat bukti, tim dokter forensik dari Rumah Sakit Polri Kramat Jati telah melakukan autopsi terhadap jenazah Sutrimo pada Senin pagi. Sampel jaringan organ dalam, cairan lambung, dan darah telah diambil untuk dibandingkan dengan zat yang ditemukan di TKP. Hasil sementara baru akan dirilis dalam beberapa hari ke depan.
Pihak Klinik Bungkam, Pelayanan Ditutup Sementara
Sementara itu, manajemen Klinik Mordent memilih untuk tidak memberikan banyak komentar kepada media. Sebuah papan pengumuman bertuliskan "Tutup Sementara" dipasang di pintu utama, dan seluruh jadwal praktik dokter dipindahkan ke klinik cabang terdekat. Beberapa pasien yang hendak berkonsultasi tampak kebingungan dan terpaksa pulang. Seorang petugas keamanan hanya mengatakan, "Kami serahkan sepenuhnya pada proses hukum yang berlaku."
Harapan Keluarga dan Masyarakat
Keluarga korban yang diwakili oleh adik kandung Sutrimo, Sumiati (42), berharap polisi segera mengungkap tabir kematian sang kakak. "Kakak saya bukan orang yang suka cari masalah. Kami mau keadilan, siapa pun yang bertanggung jawab harus dihukum seberat-beratnya," ucapnya sembari menyeka air mata di Mapolres Jakarta Timur. Warga sekitar turut menyampaikan keprihatinan dan meminta agar klinik lebih diawasi oleh dinas kesehatan terkait.
Penyelidikan masih terus bergulir. Tim penyidik kini sedang menelisik rekaman CCTV dari tiga lokasi berbeda di sekitar klinik guna mencari keberadaan orang lain yang mungkin mendampingi atau bertemu korban pada jam-jam kritis. Masyarakat diminta bersabar dan memberikan kepercayaan penuh kepada proses hukum. Hingga berita ini diturunkan, kondisi di sekitar klinik sudah kembali normal, namun pita police line masih menyisakan tanda tanya besar yang menggantung di udara: siapa atau apa yang merenggut nyawa Sutrimo dalam balutan sunyi ruang perawatan itu?
Comments (0)