Polisi Identifikasi Wajah Anggota KKB Penembak Tiga ASN Jayawijaya
JAYAWIJAYA — Aparat kepolisian bersama Satuan Tugas (Satgas) Ops Damai Cartenz berhasil mengidentifikasi sosok anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) y
JAYAWIJAYA — Aparat kepolisian bersama Satuan Tugas (Satgas) Ops Damai Cartenz berhasil mengidentifikasi sosok anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang diduga kuat menjadi pelaku penembakan maut terhadap tiga Aparatur Sipil Negara (ASN) Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Identitas dan rekaman visual pelaku terungkap secara gamblang setelah kelompok separatis tersebut menggunakan telepon genggam milik salah satu korban tewas untuk menghubungi pihak keluarga.
Peristiwa keji yang menewaskan tiga staf pemerintah daerah tersebut terjadi saat para korban sedang menjalankan tugas kemanusiaan mengantarkan pasokan pangan bagi masyarakat setempat. Tak hanya merenggut nyawa secara brutal, para pelaku juga menjarah barang berharga milik korban, termasuk gawai kepunyaan mendiang Wili Mbuik (24).
Kronologi Aksi Penembakan dan Perampasan
Berdasarkan informasi yang dihimpun aparat keamanan, rombongan staf Dinas Pertanian Pemkab Jayawijaya disergap saat melintasi jalur distribusi logistik. Urutan insiden penyerangan tersebut meliputi:
- Rabu Pagi: Tiga orang ASN Dinas Pertanian Pemkab Jayawijaya berangkat menuju lokasi penugasan untuk menyalurkan bantuan pangan pokok kepada warga pedalaman.
- Penyergapan Bersenjata: Di tengah perjalanan wilayah Jayawijaya, kelompok bersenjata menghadang kendaraan operasional dan melepaskan tembakan beruntun tanpa peringatan hingga menewaskan seluruh korban di tempat.
- Penjarahan Harta Benda: Usai memastikan korban tidak berdaya, para pelaku menggeledah tubuh korban serta kendaraan, merampas barang-barang berharga dan telepon seluler milik almarhumah Wili Mbuik.
- Provokasi Melalui Video Call: Pelaku memanfaatkan gawai rampasan untuk menelepon keluarga korban secara daring guna melakukan intimidasi terbuka.
Aksi Provokasi Pelaku Melalui Panggilan Video
Setelah menguasai ponsel korban, anggota KKB tersebut secara sengaja melakukan panggilan video (video call) sebanyak dua kali kepada pihak keluarga duka yang berada di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam rekaman video yang kini telah beredar luas di media sosial, tampak jelas wajah pelaku yang tertawa mengejek sembari mengacungkan jari ke arah kamera.
Perwakilan pihak keluarga korban menuturkan kronologi kontak komunikasi yang dilakukan pelaku bersenjata tersebut:
"Dua kali mereka melakukan panggilan video. Panggilan pertama terhubung dengan keluarga di Kabupaten Rote Ndao dan panggilan kedua tersambung ke keluarga di Kota Kupang. Pelaku berdalih ingin mengembalikan telepon milik almarhumah Nona Wili, namun keluarga dengan tegas menolak dan meminta barang bukti tersebut diserahkan langsung kepada pihak TNI atau Polri. Panggilan tersebut sempat kami rekam untuk bukti," ungkap salah satu kerabat korban.
Konfirmasi Satgas Damai Cartenz dan Pengejaran
Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo, membenarkan bahwa pria yang muncul dalam rekaman video call bersama keluarga korban merupakan buronan utama penembakan. Wajah pelaku telah diverifikasi melalui sistem basis data intelijen kepolisian.
"Setelah tim penyidik dan intelijen melakukan proses identifikasi digital serta pencocokan visual, kami pastikan bahwa sosok yang ada di rekaman tersebut diduga kuat merupakan pelaku utama penyerangan terhadap para ASN," tegas Kombes Yusuf Sutejo.
Saat ini aparat gabungan TNI-Polri telah memperketat pengamanan di sejumlah titik rawan wilayah Jayawijaya dan terus melakukan pengejaran intensif terhadap kelompok bersenjata tersebut. Rekaman video kiriman pelaku dijadikan bukti petunjuk penting dalam memetakan posisi kelompok separatis yang terus mengacaukan situasi keamanan di Tanah Papua.
Satgas Ops Damai Cartenz mengantongi identitas anggota KKB penembak 3 staf Dinas Pertanian Jayawijaya. Pelaku sempat menelepon keluarga korban menggunakan gawai hasil rampasan. Baca laporan selengkapnya di Patokan.com.



Comments (0)