PGE Ungkap 89 Persen Potensi Panas Bumi Indonesia Belum Tergarap

Indonesia berdiri di atas salah satu kekayaan energi terbesar di dunia yang selama puluhan tahun hanya menjadi angka di atas kertas. Negeri yang membentang di Cincin Api Pasifik ini menyimpan potensi ...

Aug 21, 2026 - 12:49
0 1
PGE Ungkap 89 Persen Potensi Panas Bumi Indonesia Belum Tergarap

Indonesia berdiri di atas salah satu kekayaan energi terbesar di dunia yang selama puluhan tahun hanya menjadi angka di atas kertas. Negeri yang membentang di Cincin Api Pasifik ini menyimpan potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt, menjadikannya salah satu negara dengan cadangan terbesar secara global. Namun, kenyataan di lapangan berbicara lain: baru sekitar 11 persen dari seluruh potensi itu yang berhasil diubah menjadi energi listrik yang benar-benar dinikmati masyarakat.

Angka tersebut diungkapkan oleh Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Ahmad Yani. Menurutnya, celah antara potensi dan realisasi ini bukan persoalan kecil. Di balik selisih itu tersimpan peluang ekonomi yang sangat besar, sekaligus pekerjaan rumah panjang bagi industri energi nasional. Setiap gigawatt yang berhasil digarap berarti tambahan pasokan listrik bersih, lapangan kerja baru, dan pendapatan negara yang lebih sehat.

Potensi Besar, Tantangan yang Tidak Kecil

Panas bumi memang memiliki keunggulan yang sulit ditandingi sumber energi lain. Berbeda dengan tenaga surya atau angin yang bergantung pada cuaca, panas bumi mampu beroperasi sepanjang hari tanpa henti. Sifatnya yang stabil menjadikannya tulang punggung ideal untuk sistem kelistrikan modern. Sayangnya, membangun pembangkit listrik tenaga panas bumi bukan perkara murah atau cepat. Tahapan eksplorasi hingga pengeboran membutuhkan modal besar, teknologi tinggi, dan waktu bertahun-tahun sebelum satu watt pun mengalir.

Kondisi geologis Indonesia yang kompleks juga menjadi tantangan tersendiri. Setiap wilayah memiliki karakteristik lapisan bumi yang berbeda, sehingga pendekatan yang berhasil di satu titik belum tentu bisa diterapkan di titik lain. Risiko kegagalan pengeboran pun masih membayangi, dan itu semua tercermin pada biaya investasi yang harus ditanggung pengembang. Tak heran jika banyak proyek potensial berhenti di tahap studi kelayakan.

Target 1,8 Gigawatt pada 2034

Di tengah berbagai rintangan itu, PGE menetapkan target yang ambisius namun terukur. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1,8 gigawatt pada tahun 2034. Target tersebut bukan sekadar angka seremonial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat peran panas bumi dalam bauran energi nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pencapaian 1,8 gigawatt berarti hampir dua kali lipat dari kapasitas yang kini dikelola perusahaan. Untuk sampai ke sana, PGE tidak bisa bekerja sendiri. Dibutuhkan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga keuangan, hingga mitra internasional. Dukungan regulasi yang konsisten, insentif fiskal yang menarik, serta kepastian hukum menjadi prasyarat mutlak agar investor berani menanamkan modal dalam jumlah besar.

Panas Bumi dan Masa Depan Ekonomi

Urgensi pengembangan panas bumi tidak lagi hanya soal lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, energi bersih telah menjadi komoditas strategis yang ikut menentukan daya saing suatu negara. Industri manufaktur global semakin menuntut rantai pasok yang ramah lingkungan, dan negara yang mampu menyediakan listrik hijau dalam jumlah besar akan lebih menarik bagi investasi asing.

Dari sisi lain, pengembangan panas bumi membuka efek berantai yang luas. Kegiatan pengeboran membutuhkan tenaga ahli, peralatan berat, dan berbagai layanan penunjang yang semuanya bisa dipasok oleh industri dalam negeri. Wilayah-wilayah terpencil yang selama ini terisolasi juga berpotensi mendapat akses listrik yang lebih andal, mendorong tumbuhnya usaha kecil dan menengah di sekitarnya.

Namun, semua manfaat itu hanya akan menjadi wacana bila eksekusi di lapangan tidak berjalan. Dibutuhkan keberanian untuk mengambil keputusan, ketekunan dalam mengurus perizinan, dan komitmen lintas generasi untuk terus membangun. Sumber daya alam yang melimpah tidak otomatis menjadi kemakmuran tanpa pengelolaan yang serius dan berkelanjutan.

Menatap Langkah Berikutnya

Dengan potensi 24 gigawatt dan pemanfaatan baru sebesar 11 persen, Indonesia masih memiliki ruang tumbuh yang luar biasa besar. Setiap tahun yang terlewat berarti peluang yang tertunda. Sebaliknya, setiap proyek yang berhasil dirampungkan akan menambah kekuatan baru bagi ketahanan energi nasional.

Perjalanan menuju 1,8 gigawatt pada 2034 memang panjang dan penuh tantangan. Namun, arah yang dituju sudah jelas: menjadikan panas bumi bukan sekadar sumber listrik alternatif, melainkan salah satu pilar utama pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Yang dibutuhkan sekarang adalah konsistensi langkah, keberanian mengambil risiko, dan kolaborasi semua pihak agar kekayaan bawah tanah Indonesia benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User