Application Name Application Name

Patokan

Nasional

Pertamina Jajaki Pengolahan Minyak Jelantah Program MBG Menjadi Avtur Ramah Lingkungan

Dapur-dapur Satuan Pelayanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia kini menyimpan potensi besar yang melampaui urusan pe

Pertamina Jajaki Pengolahan Minyak Jelantah Program MBG Menjadi Avtur Ramah Lingkungan

Dapur-dapur Satuan Pelayanan Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia kini menyimpan potensi besar yang melampaui urusan pemenuhan gizi anak bangsa. Di balik kuali dan penggorengan yang sibuk setiap hari, limbah minyak goreng bekas atau minyak jelantah yang dihasilkan mulai dilirik sebagai komoditas strategis. PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya, PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit IV Cilacap, secara resmi menjajaki pemanfaatan minyak jelantah dari program MBG untuk diolah menjadi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Langkah inovatif ini menandai babak baru sinergi antara program kesejahteraan sosial nasional dan agenda transisi energi bersih di Tanah Air.

Gagasan pengolahan limbah ini tidak sekadar berfokus pada efisiensi industri, melainkan membawa misi ekologis serta kesehatan masyarakat yang mendalam. Minyak jelantah yang selama ini rawan didaur ulang secara ilegal untuk dikonsumsi kembali—yang berisiko buruk bagi kesehatan—kini menemukan jalur penyaluran yang aman dan bernilai tinggi. Dengan mengumpulkan limbah cair dapur dari ribuan titik pelayanan MBG, Pertamina berupaya mengamankan pasokan bahan baku bioenergi yang terbarukan tanpa mengganggu rantai pasok pangan nasional.

Inisiatif Hijau dari Dapur Program Nasional

Program Makan Bergizi Gratis yang digulirkan pemerintah diproyeksikan melibatkan puluhan ribu dapur pelayanan di seluruh Indonesia. Skala operasional yang sangat luas tersebut dipastikan memproduksi limbah minyak jelantah dalam volume yang signifikan setiap bulannya. Tanpa pengelolaan yang terintegrasi, minyak bekas tersebut berpotensi menjadi limbah rumah tangga yang mencemari tanah dan saluran air.

Manajemen Pertamina menilai bahwa pengumpulan Used Cooking Oil (UCO) langsung dari rantai pasok MBG menciptakan kepastian pasokan (*supply certainty*) bagi pengolahan bahan bakar terbarukan. Skema ini mengintegrasikan peran masyarakat lokal, pengelola dapur MBG, dan industri energi dalam satu ekosistem ekonomi sirkular yang terukur.

"Pemanfaatan minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis ini merupakan manifestasi nyata dari penerapan ekonomi sirkular. Kami tidak hanya mengamankan pasokan bahan baku energi hijau untuk industri aviasi, tetapi juga memastikan limbah dapur nasional terkelola dengan aman dan memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi masyarakat," ungkap pihak manajemen Kilang Pertamina Internasional.

Keunggulan Kilang Cilacap dan Kinerja SAF

Kilang Unit IV Cilacap memiliki rekam jejak panjang sebagai benteng ketahanan energi nasional sekaligus pionir teknologi Green Refinery di Indonesia. Fasilitas ini telah teruji mampu memproses bahan baku berbasis hayati menggunakan metode co-processing maupun pengolahan penuh (*full hydrogenation*) untuk menghasilkan bioavtur berkualitas tinggi yang memenuhi standar internasional.

Pengolahan minyak jelantah menjadi bioavtur atau SAF diyakini mampu mengurangi jejak emisi karbon secara drastis. Berdasarkan riset industri aviasi, penggunaan SAF berbasis minyak goreng bekas mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 80 persen sepanjang siklus hidupnya (*life-cycle emissions*) dibandingkan dengan penggunaan avtur fosil konvensional. Hal ini mendukung komitmen Indonesia dalam memenuhi target pengurangan karbon pada penerbangan internasional yang diatur oleh International Civil Aviation Organization (ICAO).

Parameter Perbandingan Avtur Fosil Konvensional Sustainable Aviation Fuel (SAF) Jelantah
Asal Bahan Baku Ekstraksi Minyak Bumi Fosil Limbah Minyak Goreng Bekas (UCO)
Reduksi Emisi Karbon 0% (Baseline Fosil) Hingga 80% Lebih Rendah
Dampak Lingkungan Limbah Meningkatkan Emisi Karbon Mencegah Pencemaran Air & Tanah
Prinsip Ekonomi Ekstraktif Konvensional Ekonomi Sirkular & Berkelanjutan

Tantangan Logistik dan Visi Energi Masa Depan

Meski memiliki potensi yang melimpah, pelaksanaan program pengumpulan minyak jelantah dari jaringan MBG diakui membutuhkan kesiapan logistik yang matang. Pertamina perlu merancang tata kelola pengumpulan, penyaringan awal, hingga jalur transportasi dari ribuan titik dapur menuju Kilang Unit IV Cilacap di Jawa Tengah. Selain itu, aspek sertifikasi keberlanjutan seperti International Sustainability and Carbon Certification (ISCC) menjadi syarat mutlak agar SAF hasil olahan jelantah ini diakui di pasar global.

Jika proyek penjajakan ini berhasil diimplementasikan secara penuh, Indonesia berpeluang menjadi salah satu pemain utama produsen bioavtur berbasis limbah di Asia Tenggara. Sinergi ini membuktikan bahwa program sosial seperti MBG dapat berjalan seiring dengan pencapaian target Net Zero Emission 2060, mengubah limbah penggorengan dapur menjadi bahan bakar yang menerbangkan armada pesawat di langit nusantara.

Kilang Pertamina Internasional Unit IV Cilacap menjajaki pengumpulan minyak jelantah dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diolah menjadi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Inisiatif ini memadukan program sosial nasional dengan transisi energi hijau untuk menekan emisi karbon penerbangan. Baca selengkapnya di Patokan.com. Pertamina Kilang Cilacap lagi jajaki kerja sama buat mengolah minyak goreng bekas dari dapur MBG jadi Sustainable Aviation Fuel (SAF). Solusi keren buat kurangi emisi karbon dan cegah bahaya jelantah ilegal. Gimana pendapat kalian? #Pertamina #MBG #EnergiTerbaru #SAF #PatokanNews

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer3
TENTANG PENULIS writer3

Bacaan Terkait

Comments (0)

User