Peringatan 30 Tahun Kudatuli Digelar dalam Teatrikal dan Ritual Adat

Jakarta — Tiga dekade berlalu sejak peristiwa kelam 27 Juli 1996, namun ingatan kolektif akan tragedi yang kemudian dikenal sebagai Kudatuli tetap dirawat. Kali ini, peringatan 30 tahun dihelat dala...

Jul 28, 2026 - 08:02
0 0
Peringatan 30 Tahun Kudatuli Digelar dalam Teatrikal dan Ritual Adat

Jakarta — Tiga dekade berlalu sejak peristiwa kelam 27 Juli 1996, namun ingatan kolektif akan tragedi yang kemudian dikenal sebagai Kudatuli tetap dirawat. Kali ini, peringatan 30 tahun dihelat dalam balutan seni pertunjukan dan ritual tradisional yang menggugah. Bukan sekadar nostalgia, panggung teatrikal dan lantunan doa adat menjadi medium untuk merenungkan kembali luka sejarah yang belum sepenuhnya sembuh.

Lokasi acara yang dipilih adalah sebuah ruang terbuka di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, tak jauh dari gedung yang pernah menjadi saksi bisu bentrokan berdarah antara massa pendukung kubu Soerjadi dan kubu Megawati Soekarnoputri. Sejak sore, ratusan orang mulai berdatangan. Sebagian besar adalah aktivis, seniman, dan generasi muda yang lahir setelah reformasi bergulir. Mereka datang bukan hanya untuk menonton, tetapi juga untuk belajar dari fragmen masa lalu yang dipentaskan dengan begitu hidup.

Panggung Dua Kubu yang Bertikai

Teatrikal dibuka dengan penggambaran suasana politik menjelang pecahnya konflik. Para aktor yang memerankan massa pendukung Soerjadi, dengan atribut serba tertib dan seragam khas PDI era Orde Baru, tampak bergerak secara militan. Di sisi lain, kelompok pendukung Megawati—yang kala itu didukung mayoritas akar rumput—digambarkan dengan gestur penuh emosi, membawa spanduk dan menyuarakan perlawanan terhadap upaya pengambilalihan kantor DPP PDI.

Adegan eskalasi ketegangan dibangun secara bertahap. Sorak-sorai dan teriakan massa direka ulang, diiringi tabuhan perkusi yang mengentak. Puncaknya, bentrokan fisik tak terhindarkan. Koreografi yang digarap selama berbulan-bulan itu berhasil menghadirkan kembali kengerian hari itu: suara pecahan kaca, asap dari bom molotov tiruan, serta jerit histeris para korban. Penonton tampak terpaku, sebagian menitikkan air mata.

“Kami ingin menghadirkan kembali Kudatuli bukan sebagai tontonan kekerasan, melainkan sebagai cermin agar tragedi serupa tidak terulang,” ujar sutradara pertunjukan, Andaru Wibisono, di sela-sela gladi resik. “Ini adalah terapi kolektif.”

Ritual Adat untuk Meruwat Luka

Setelah teatrikal berakhir, suasana berubah sakral. Para tetua adat dari sejumlah komunitas Nusantara memasuki arena. Mereka membawa sesaji, kembang setaman, dan dupa. Ritual diawali dengan pembacaan doa dalam bahasa Jawa Kuno dan Sunda Buhun, memohon keselamatan bagi arwah para korban sekaligus membersihkan ruang batin yang terluka akibat memori kelam.

Tarian penyucian ditampilkan oleh penari yang seluruh tubuhnya dilumuri lumpur, melambangkan dosa dan noda sejarah. Air suci dari tujuh sumber mata air kemudian dipercikkan ke arah penonton sambil melantunkan mantra perdamaian. Prosesi ini diyakini sebagai bentuk ruwatan, sebuah tradisi yang bertujuan melepaskan energi negatif dan memulihkan keseimbangan kosmis.

Menariknya, panitia sengaja mengundang perwakilan keluarga korban dari kedua kubu untuk turut serta dalam ritual. Seorang perempuan paruh baya yang kehilangan suaminya 30 tahun lalu tampak khidmat memejamkan mata saat doa dilafalkan. Ia menolak disebut sebagai korban politik, tetapi mengaku lega bahwa peristiwa itu akhirnya bisa dikenang dengan cara yang manusiawi.

Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan tahun ini sengaja didesain berbeda dari sekadar diskusi panel atau upacara resmi. Inisiator acara, Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) kontemporer dan Komunitas Historia, melihat perlunya pendekatan kebudayaan dalam mengelola ingatan traumatis. “Kalau hanya seminar, yang datang paling-paling segelintir intelektual. Tapi lewat seni dan ritual, pesannya bisa menyentuh kalbu siapa pun,” ujar Damar Sasongko, koordinator acara.

Pandangan itu diamini oleh sejumlah akademisi yang hadir. Prof. Dr. Ratna Kusumawardhani, Guru Besar Ilmu Sejarah dari Universitas Indonesia, menilai bahwa teater dan ritual adat adalah medium yang ampuh untuk mendekatkan sejarah ke publik. “Narasi tekstual sering kali kering dan elitis. Dengan cara ini, ingatan diwariskan antar-generasi secara lebih mengena,” katanya.

Di sudut lain area, dipamerkan pula instalasi foto-foto dokumenter pasca-kerusuhan: puing-puing kantor PDI, wajah-wajah lelah para aktivis, hingga coretan di tembok yang masih menyisakan amarah. Seorang mahasiswa Jurusan Ilmu Politik, Rizal, mengaku kaget melihat realitas sejarah yang selama ini hanya ia baca di buku. “Ternyata separah itu. Dan baru saya pahami kenapa banyak orang tetap trauma sampai sekarang,” ucapnya lirih.

Jejak yang Tak Boleh Hilang

Sore berganti malam, namun acara belum usai. Ribuan lilin kecil dinyalakan di sepanjang jalan menuju bekas gedung DPP PDI di Jalan Diponegoro. Arak-arakan obor dan lantunan lagu-lagu perjuangan menutup seluruh rangkaian. Bunyi gamelan dan beduk bersahutan, menyatu dengan suara azan magrib dari masjid terdekat.

Di penghujung acara, seorang penyintas membacakan puisi panjang berjudul “Luka yang Tak Kunjung Layu”. Setiap baitnya merangkum sakit, kehilangan, sekaligus harapan. Air muka penonton terlihat muram, namun ada secercah lega seolah beban masa lalu yang selama ini terpendam akhirnya menemukan kanal ekspresi yang aman.

Peringatan 30 tahun Kudatuli dalam wujud teatrikal dan ritual adat ini bukan sekadar acara rutin. Ia menjadi penanda bahwa masyarakat sipil terus berupaya menggali makna dari sejarah, mentransformasi trauma menjadi kekuatan, dan yang terpenting, menjaga agar ingatan tentang salah satu lembar tergelap demokrasi Indonesia itu tidak lenyap ditelan waktu. Sebab, sebagaimana luka yang dirawat bisa sembuh, ingatan yang dirawat bisa menjadi pelita bagi masa depan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User