Penghargaan Kepala Daerah Inspiratif Diraih Bupati Gresik Berkat Inovasi Perlindungan Anak PMI

GRESIK — Kabupaten Gresik kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional melalui sosok Bupati Fandi Akhmad Yani. Orang nomor satu di daerah berjuluk Kota Pudak itu dinobatkan sebagai Ke...

Jul 28, 2026 - 10:07
0 0
Penghargaan Kepala Daerah Inspiratif Diraih Bupati Gresik Berkat Inovasi Perlindungan Anak PMI

GRESIK — Kabupaten Gresik kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah nasional melalui sosok Bupati Fandi Akhmad Yani. Orang nomor satu di daerah berjuluk Kota Pudak itu dinobatkan sebagai Kepala Daerah Inspiratif berkat komitmen dan inovasinya dalam melindungi anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia (PMI). Penghargaan tersebut diserahkan dalam sebuah forum nasional yang digelar di Jakarta, sekaligus menandai pengakuan bahwa model perlindungan yang digagas Gresik layak direplikasi oleh pemerintah daerah lain di Tanah Air.

Gresik dan Potret Anak PMI yang Rentan

Sebagai salah satu daerah pengirim pekerja migran terbesar di Jawa Timur, Gresik menghadapi tantangan serius terkait kesejahteraan anak yang ditinggalkan. Data Dinas Tenaga Kerja setempat mencatat ribuan warga Gresik setiap tahun berangkat ke luar negeri untuk bekerja, terutama ke sektor domestik dan perkebunan. Di balik derasnya arus remitansi, muncul keprihatinan mendalam: banyak anak PMI yang harus tumbuh tanpa pendampingan orang tua secara langsung, bergantung pada kakek-nenek atau kerabat yang sering kali tidak memiliki kapasitas pengasuhan memadai. Kondisi ini memicu beragam persoalan, mulai dari putus sekolah, kekerasan dalam rumah tangga, hingga masalah kesehatan mental.

Melihat realitas itu, Bupati Fandi Akhmad Yani bergerak cepat sejak awal masa kepemimpinannya. Ia memahami bahwa melindungi anak PMI bukan sekadar tanggung jawab moral, melainkan juga investasi jangka panjang bagi sumber daya manusia Gresik. "Anak-anak pekerja migran adalah aset daerah yang tidak boleh terlantar. Mereka berhak mendapatkan masa depan yang setara dengan anak-anak lain," ujarnya dalam sambutan penyerahan penghargaan, disambut tepuk tangan hadirin.

Model Perlindungan Terintegrasi yang Jadi Unggulan

Pemerintah Kabupaten Gresik di bawah komando Fandi Akhmad Yani merancang sebuah model perlindungan anak PMI yang terintegrasi dan berbasis data. Program yang kemudian disebut Gerakan Peduli Anak Migran (Gempita) ini memadukan tiga pilar utama: pendataan akurat, pendampingan psikososial, dan pemberdayaan ekonomi keluarga.

Pilar pertama adalah pembangunan Pusat Data Anak PMI yang terhubung langsung dengan sistem informasi desa. Setiap anak yang orang tuanya bekerja di luar negeri tercatat dalam basis data tunggal, lengkap dengan kondisi tempat tinggal, status pendidikan, dan riwayat kesehatan. Data ini memungkinkan intervensi yang tepat sasaran dan mencegah adanya anak yang luput dari perhatian.

Pilar kedua menghadirkan Rumah Singgah dan Layanan Dukungan Psikososial di setiap kecamatan. Di sana, anak-anak PMI bisa mendapatkan bimbingan belajar, konseling, serta kegiatan rekreatif yang membangun kepercayaan diri. Relawan terlatih dan psikolog profesional disiagakan untuk mendeteksi dini tanda-tanda depresi atau gangguan perilaku akibat perpisahan berkepanjangan dengan orang tua.

Pilar ketiga adalah program Beasiswa Harapan Keluarga Migran yang menjamin akses pendidikan hingga jenjang menengah atas bagi anak-anak PMI dari keluarga prasejahtera. Selain beasiswa, pemerintah daerah juga memberikan pelatihan kewirausahaan kepada pengasuh pengganti—seperti nenek atau bibi—agar mereka memiliki penghasilan tambahan dan tidak sepenuhnya bergantung pada kiriman uang dari luar negeri.

Dampak Nyata dan Pengakuan Nasional

Sejak digulirkan dua tahun lalu, model perlindungan anak PMI ala Gresik telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Angka putus sekolah di kalangan anak pekerja migran menurun drastis hingga lebih dari 60 persen, sementara kasus kekerasan terhadap anak yang terlaporkan juga mengalami tren penurunan. Tim pemantau dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bahkan beberapa kali melakukan kunjungan lapangan untuk mempelajari langsung praktik baik tersebut.

Puncak apresiasi datang pada acara Anugerah Kepala Daerah Inspiratif 2026 yang digelar oleh sebuah lembaga independen bersama kementerian terkait. Bupati Fandi Akhmad Yani terpilih sebagai penerima penghargaan setelah melalui proses penilaian ketat yang melibatkan panel pakar dari berbagai bidang. Dewan juri menilai bahwa pendekatan Gresik berhasil menjawab kesenjangan perlindungan anak di daerah kantong migran dengan cara yang sistematis, partisipatif, dan berkelanjutan.

"Penghargaan ini saya persembahkan untuk seluruh masyarakat Gresik, terutama anak-anak hebat yang tetap tegar meski orang tuanya bekerja jauh di negeri orang. Ke depan, kami ingin model ini diadopsi oleh pemerintah pusat sebagai standar nasional perlindungan anak PMI," tegas Bupati yang akrab disapa Gus Yani itu.

Membawa Model ke Tingkat Nasional

Tidak berhenti pada seremoni penghargaan, Bupati Gresik langsung memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat advokasi di tingkat pusat. Dalam pertemuan terpisah dengan Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, ia memaparkan cetak biru Gempita dan mendorong agar Kementerian Desa maupun Kementerian Ketenagakerjaan menyusun kebijakan yang mewajibkan setiap daerah memiliki perangkat perlindungan anak PMI serupa.

Langkah ini mendapat sambutan positif dari sejumlah anggota Komisi VIII DPR RI yang hadir dalam forum. Mereka menyatakan siap mendorong penganggaran khusus untuk replikasi model Gresik melalui dana alokasi khusus nonfisik. Dengan demikian, apa yang dirintis di kota santri ini berpeluang menjadi gerakan nasional yang melindungi jutaan anak pekerja migran di seluruh Indonesia.

Bagi Fandi Akhmad Yani, penghargaan ini bukanlah garis finis. Ia justru merasa tanggung jawab semakin besar untuk memastikan setiap anak PMI di Gresik—dan kelak di Indonesia—tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan penuh harapan. "Tidak boleh ada satu pun anak yang kehilangan masa kecilnya hanya karena orang tuanya berjuang mencari nafkah di negeri asing," pungkasnya mengakhiri wawancara singkat seusai menerima piala.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User