Penelitian: Paparan Matahari di Negara Empat Musim Belum Tentu Cukupi Vitamin D

Selama ini, ada anggapan umum bahwa musim panas yang cerah di negara empat musim secara otomatis menjamin kadar vitamin D dalam tubuh melonjak. Namun, sebuah penelitian terbaru mematahkan asumsi terse...

Jul 28, 2026 - 03:01
0 0
Penelitian: Paparan Matahari di Negara Empat Musim Belum Tentu Cukupi Vitamin D

Selama ini, ada anggapan umum bahwa musim panas yang cerah di negara empat musim secara otomatis menjamin kadar vitamin D dalam tubuh melonjak. Namun, sebuah penelitian terbaru mematahkan asumsi tersebut. Meskipun matahari bersinar lebih lama dan intens, tak sedikit orang yang justru mengalami defisiensi vitamin D.

Studi yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Kopenhagen, Denmark, melibatkan lebih dari 1.200 partisipan dewasa yang tinggal di kawasan Skandinavia. Selama bulan Mei hingga Agustus—periode puncak paparan sinar matahari—sampel darah diambil secara berkala. Hasilnya mengejutkan: hampir 40 persen peserta tetap menunjukkan kadar vitamin D di bawah ambang normal, yaitu kurang dari 20 ng/mL, meskipun mereka mengaku sering beraktivitas di luar ruangan.

Mekanisme di Balik Temuan Ini

Vitamin D disintesis oleh kulit saat terkena sinar ultraviolet B (UVB). Di negara empat musim, meskipun musim panas tiba, sudut matahari di lintang tinggi sering kali tidak cukup rendah untuk menghasilkan UVB yang optimal. Bahkan di bulan Juni dan Juli, ketika matahari berada di titik tertinggi, intensitas UVB hanya mencapai puncak selama beberapa jam di tengah hari. Jika seseorang tidak terpapar pada waktu tersebut, produksi vitamin D sangat minim.

Lebih lanjut, faktor penggunaan tabir surya berperan besar. Kesadaran akan bahaya kanker kulit membuat banyak orang di negara maju rutin mengoleskan krim pelindung dengan SPF tinggi. SPF 30 saja dapat menghalangi lebih dari 95 persen produksi vitamin D di kulit. Jadi, meski berjemur di pantai sekalipun, tubuh belum tentu memproduksi vitamin D yang cukup. Bahkan, penggunaan tabir surya dengan SPF 15 saja sudah mampu menurunkan sintesis vitamin D hingga 99 persen, menurut penelitian terpisah.

Fenomena “Musim Panas yang Menipu”

Peneliti menyebut fenomena ini sebagai “musim panas yang menipu.” Orang merasa sudah mendapatkan cukup sinar matahari karena kulit terasa hangat dan sedikit kecokelatan, tetapi indikator biologis vitamin D tetap rendah. Faktor lain yang turut andil adalah gaya hidup dalam ruangan. Di era digital, banyak orang lebih memilih berdiam di dalam gedung berpendingin udara, meskipun di luar sedang cerah. Alhasil, akumulasi paparan matahari tidak sebesar yang dibayangkan.

Selain itu, pigmen kulit juga memengaruhi. Individu dengan kulit lebih gelap memerlukan paparan matahari yang lebih lama untuk menghasilkan vitamin D setara dengan individu berkulit terang. Di komunitas imigran di Eropa, misalnya, defisiensi vitamin D jauh lebih tinggi meski mereka tinggal di lingkungan yang sama dengan penduduk lokal berkulit putih.

Kaitan dengan Pola Makan dan Usia

Studi juga menyoroti asupan makanan. Ikan berlemak seperti salmon dan makarel, serta produk susu yang difortifikasi, merupakan sumber vitamin D alami. Namun, tidak semua orang mengonsumsinya secara teratur. Vegetarian dan vegan cenderung lebih rentan karena menghindari sumber hewani. Belum lagi faktor usia: kemampuan kulit memproduksi vitamin D menurun hingga 50 persen pada lansia dibandingkan dewasa muda. Sayangnya, tidak semua negara memiliki kebijakan fortifikasi vitamin D pada makanan pokok, sehingga ketergantungan pada sinar matahari semakin besar.

Dengan demikian, sekadar mengandalkan sinar matahari musim panas jelas tidak cukup. Para peneliti menekankan pentingnya pemeriksaan kadar vitamin D secara berkala, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan musim dingin panjang. Suplementasi harian sebanyak 800-1000 IU direkomendasikan untuk menjaga status vitamin D optimal.

Pelajaran untuk Semua Negara

Meskipun penelitian ini dilakukan di negara subtropis, pesannya relevan secara global. Bahkan di negara tropis seperti Indonesia, defisiensi vitamin D tetap menjadi masalah kesehatan yang sering diabaikan. Banyak orang bekerja di dalam ruangan seharian, minim paparan langsung matahari, atau menggunakan pakaian tertutup. Paradigma bahwa tinggal di negara tropis sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan vitamin D perlu diluruskan.

Temuan ini juga menjadi pengingat bagi otoritas kesehatan untuk lebih aktif mengedukasi masyarakat tentang sumber vitamin D alternatif. Kampanye kesehatan tidak bisa hanya fokus pada larangan berjemur tanpa perlindungan, tetapi juga harus menekankan pentingnya strategi seimbang antara menghindari risiko kanker kulit dan memastikan kecukupan vitamin D.

Kesimpulannya, paparan sinar matahari di negara empat musim, sekalipun melimpah selama beberapa bulan, bukan jaminan kadar vitamin D tinggi. Diperlukan kombinasi pendekatan: berjemur pada waktu yang tepat, mengatur penggunaan tabir surya, memperbaiki pola makan, dan mempertimbangkan suplemen. Mitos bahwa musim panas otomatis menyelesaikan masalah vitamin D kini telah terbantahkan oleh data ilmiah.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User