Pemukim Israel Bakar Dua Masjid, Tinggalkan Grafiti Provokatif di Tepi Barat

Aksi brutal yang dilakukan oleh sekelompok pemukim Israel kembali mengguncang kawasan Tepi Barat yang diduduki. Dua bangunan masjid di desa-desa Palestina dilaporkan menjadi sasaran pembakaran dan pen...

Jul 28, 2026 - 06:34
0 0
Pemukim Israel Bakar Dua Masjid, Tinggalkan Grafiti Provokatif di Tepi Barat

Aksi brutal yang dilakukan oleh sekelompok pemukim Israel kembali mengguncang kawasan Tepi Barat yang diduduki. Dua bangunan masjid di desa-desa Palestina dilaporkan menjadi sasaran pembakaran dan pencoretan grafiti bernada kebencian pada dini hari tadi. Insiden ini semakin mempertegas spiral kekerasan yang terus meningkat di wilayah tersebut, sekaligus memicu kemarahan warga Palestina serta kecaman dari berbagai pihak.

Berdasarkan keterangan saksi mata, sekelompok pemukim bersenjata mendatangi sebuah masjid di salah satu desa di sebelah utara Ramallah. Mereka menyiramkan cairan yang mudah terbakar ke bagian dalam bangunan sebelum menyulut api. Api dengan cepat membesar dan melalap sebagian ruang salat, termasuk mimbar dan tumpukan Al-Quran. Tidak ada korban jiwa karena saat kejadian masjid dalam keadaan kosong, namun kerusakan material tergolong parah. Hampir bersamaan, masjid kedua di desa lain yang berdekatan juga mengalami nasib serupa. Di dinding luar kedua masjid, para pelaku mencorat-coret grafiti dengan cat semprot berwarna hitam yang berisi pesan-pesan anti-Arab dan anti-Islam, lengkap dengan simbol bintang Daud.

Grafiti yang ditinggalkan itu antara lain bertuliskan "Balas dendam" dan "Kematian bagi orang Arab" dalam bahasa Ibrani. Aksi vandalisme ini mengingatkan pada taktik teror yang dikenal sebagai "price tag", di mana kelompok ekstremis Yahudi menyerang warga sipil dan properti Palestina sebagai bentuk pembalasan atas tindakan pemerintah Israel yang dianggap merugikan permukiman. Pola penyerangan serupa telah berulang kali terjadi, namun kali ini skalanya lebih besar karena menyasar dua tempat ibadah sekaligus.

Kronologi dan Lokasi Kejadian

Menurut laporan keamanan setempat, serangan pertama terjadi sekitar pukul 02.00 dini hari di Masjid Al-Huda yang terletak di Desa Qaryut, sebelah selatan Nablus. Tiga orang tak dikenal yang diduga pemukim dari permukiman ilegal terdekat menerobos masuk setelah memotong pagar kawat berduri. Api berkobar selama hampir satu jam sebelum akhirnya dipadamkan oleh warga yang terbangun. Tidak lama berselang, masjid kedua, Masjid Al-Aqsa di Desa Turmus Ayya, juga dibakar dengan metode yang serupa. Kedua lokasi hanya berjarak sekitar 20 kilometer. Aparat keamanan Palestina menemukan jejak sepatu dan botol bekas bensin di tempat kejadian.

Kecaman dan Duka Mendalam

Otoritas Palestina melalui juru bicara kepresidenan Nabil Abu Rudeineh mengutuk keras tindakan tersebut. Ia menyebutnya sebagai "kejahatan perang yang direstui oleh pendudukan" dan mendesak komunitas internasional untuk turun tangan. "Diamnya dunia atas agresi sistematis ini hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat kami," ujarnya dalam pernyataan resmi. Sementara itu, imam masjid yang menjadi korban menyerukan agar umat Islam tetap tenang dan tidak terprovokasi melakukan balas dendam.

Dari pihak Israel, militer mengeluarkan pernyataan bahwa mereka tengah memburu para pelaku. "Kami memandang serius insiden ini dan akan menindak tegas siapa pun yang terbukti melanggar hukum," demikian bunyi pernyataan juru bicara IDF. Namun, banyak pengamat meragukan keseriusan Israel dalam menangani kekerasan pemukim. Data dari organisasi hak asasi manusia Israel, Yesh Din, menunjukkan bahwa dari 1.700 kasus kekerasan pemukim yang dilaporkan antara tahun 2005 dan 2022, hanya sekitar tiga persen yang berujung pada dakwaan. Budaya impunitas dinilai telah memberi lampu hijau bagi para ekstremis untuk terus melancarkan aksinya.

Respons Internasional

Duta Besar Uni Eropa untuk Palestina menyampaikan kecaman keras dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku. "Tempat ibadah harus dilindungi, bukan diserang. Kami mendesak Israel untuk memenuhi kewajibannya sebagai kekuatan pendudukan dalam menjaga keamanan warga sipil," tulisnya di media sosial. Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat juga menyatakan keprihatinan mendalam, sambil menekankan pentingnya menahan diri dari kedua belah pihak. Namun, pernyataan semacam itu dinilai klise oleh para aktivis yang menginginkan sanksi konkret atas aksi-aksi teror pemukim.

Ketegangan yang Kian Memuncak

Insiden pembakaran dua masjid ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Sepanjang tahun 2024 hingga pertengahan 2025, Tepi Barat mencatat lonjakan kekerasan tertinggi dalam dua dekade terakhir. Operasi militer Israel di kota-kota seperti Jenin, Nablus, dan Tulkarem yang sering berujung pada korban warga sipil, dibalas dengan serangan-serangan bersenjata dari faksi-faksi Palestina. Di sisi lain, pemukim Yahudi yang tinggal di permukiman ilegal—yang menurut hukum internasional melanggar Konvensi Jenewa—semakin berani melakukan aksi main hakim sendiri, didukung oleh retorika keras dari sejumlah menteri sayap kanan jauh dalam koalisi pemerintahan Benjamin Netanyahu.

Kondisi ini diperparah dengan meluasnya permukiman ilegal yang secara sistematis menggerus lahan warga Palestina. Lebih dari 700 ribu pemukim kini tinggal di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Mereka dilindungi oleh tentara Israel dan sering kali bertindak bebas tanpa rasa takut akan hukuman. Aksi teror "price tag" tidak hanya menyasar masjid, tetapi juga gereja, kendaraan, dan ladang pertanian milik warga Palestina. Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat rata-rata tiga insiden kekerasan terkait pemukim terjadi setiap hari di Tepi Barat.

Para analis konflik Timur Tengah menilai bahwa pembakaran masjid kali ini berpotensi memicu gelombang protes yang lebih luas, tidak hanya di Tepi Barat tetapi juga di seluruh dunia Muslim. "Serangan terhadap tempat suci adalah garis merah yang jika dilewati akan menimbulkan reaksi berantai yang sulit dikendalikan," kata seorang peneliti dari International Crisis Group yang enggan disebutkan namanya. Ia menambahkan, kegagalan Israel dalam menegakkan hukum terhadap warganya sendiri di wilayah pendudukan akan terus menjadi ladang subur bagi siklus kekerasan.

Hingga berita ini diturunkan, situasi di sekitar lokasi kejadian masih mencekam. Ratusan warga Palestina menggelar salat gaib dan aksi solidaritas di depan masjid yang hangus terbakar, sementara puluhan pemuda melemparkan batu ke arah pos pemeriksaan tentara Israel terdekat. Belum ada laporan mengenai penangkapan signifikan oleh pihak berwenang Israel. Masyarakat internasional kembali dihadapkan pada ujian untuk bertindak nyata atau sekadar menjadi penonton atas tragedi kemanusiaan yang terus berulang di tanah yang diduduki itu.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User