Panas Bumi Indonesia: 24 GW Potensi, Baru 11 Persen Tergarap

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan energi panas bumi terbesar di dunia. Namun, di balik kekayaan alam tersebut, terdapat pekerjaan rumah yang belum tuntas: kapasitas terpasang...

Aug 21, 2026 - 02:04
0 0
Panas Bumi Indonesia: 24 GW Potensi, Baru 11 Persen Tergarap

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan cadangan energi panas bumi terbesar di dunia. Namun, di balik kekayaan alam tersebut, terdapat pekerjaan rumah yang belum tuntas: kapasitas terpasang pembangkit listrik tenaga panas bumi yang ada saat ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan potensi yang tersedia. Data menunjukkan potensi panas bumi nasional mencapai sekitar 24 gigawatt, sementara yang baru tergarap hanya sekitar 11 persen dari total tersebut.

Angka itu mengindikasikan bahwa sebagian besar potensi energi bersih yang ramah lingkungan masih tertidur di dalam perut bumi Indonesia. Padahal, pemanfaatan panas bumi secara lebih maksimal dinilai mampu menjadi salah satu kunci penguatan ketahanan energi nasional sekaligus pendorong pertumbuhan ekonomi hijau.

Pernyataan Pimpinan PGE

Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Ahmad Yani, menyampaikan bahwa masih banyak potensi panas bumi yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Ia menegaskan bahwa perusahaan terus berupaya memperluas pemanfaatan sumber energi tersebut agar kontribusinya terhadap pasokan listrik nasional semakin besar.

Sebagai anak usaha Pertamina yang fokus pada bisnis panas bumi, PGE memegang peran strategis dalam pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Perusahaan ini mengelola sejumlah Wilayah Kerja Panas Bumi yang tersebar di berbagai daerah, mulai dari Sumatra hingga Jawa, dan kini juga mulai merambah kawasan timur Indonesia.

Target 1,8 GW pada 2034

Menghadapi besarnya potensi yang masih tersisa, PGE telah menyiapkan peta jalan pengembangan yang ambisius. Perusahaan menargetkan kapasitas terpasang mencapai 1,8 gigawatt pada tahun 2034. Target tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional, baik melalui peningkatan pasokan listrik bersih maupun penciptaan lapangan kerja di sekitar wilayah kerja.

Pencapaian target itu ditempuh melalui berbagai strategi, antara lain optimalisasi lapangan yang sudah beroperasi, pengembangan lapangan baru, serta eksplorasi di daerah-daerah yang potensial. PGE juga membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak, baik perusahaan dalam negeri maupun mitra internasional, untuk mempercepat realisasi proyek.

Mendorong Ekonomi dan Transisi Energi

Panas bumi memiliki keunggulan sebagai sumber energi yang stabil karena tidak bergantung pada cuaca. Berbeda dengan energi surya atau angin yang bersifat intermiten, pembangkit listrik panas bumi mampu beroperasi terus-menerus sebagai beban dasar. Karakteristik inilah yang menjadikan panas bumi tulang punggung ideal bagi transisi energi Indonesia menuju energi bersih.

Dengan target 1,8 GW pada 2034, kontribusi PGE terhadap bauran energi nasional akan semakin signifikan. Pemanfaatan panas bumi juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk menurunkan emisi karbon dan mencapai target net zero emission pada 2060. Setiap tambahan kapasitas panas bumi berarti pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Selain soal lingkungan, pengembangan panas bumi juga berdampak langsung pada perekonomian. Proyek pembangunan pembangkit membutuhkan investasi besar yang menggerakkan sektor konstruksi, jasa, dan manufaktur dalam negeri. Begitu beroperasi, pembangkit juga menopang aktivitas industri dan masyarakat sekitar melalui pasokan listrik yang andal.

Tantangan yang Harus Diatasi

Meski potensinya besar, pengembangan panas bumi bukan tanpa hambatan. Biaya eksplorasi dan pengeboran yang tinggi menjadi salah satu tantangan utama, mengingat proses tersebut memerlukan teknologi canggih dan modal besar. Risiko kegagalan pengeboran juga membuat investor perlu melakukan kajian yang sangat hati-hati sebelum memutuskan berinvestasi.

Selain itu, waktu pengembangan proyek panas bumi tergolong panjang, bisa mencapai lima hingga tujuh tahun sejak tahap eksplorasi hingga komersial. Namun, berbagai insentif dari pemerintah, termasuk kemudahan perizinan dan dukungan pendanaan, diharapkan mampu menekan risiko dan mempercepat proses tersebut.

Harapan ke Depan

Dengan potensi 24 GW dan pemanfaatan baru 11 persen, Indonesia masih memiliki lahan yang luas untuk mengembangkan energi panas bumi. Komitmen PGE untuk mengejar kapasitas 1,8 GW pada 2034 menjadi sinyal positif bahwa industri ini bergerak ke arah yang lebih serius.

Jika seluruh pemangku kepentingan mampu bersinergi, bukan tidak mungkin panas bumi kelak menjadi salah satu sumber energi utama yang menggerakkan roda ekonomi Indonesia. Energi yang berasal dari perut bumi ini bukan hanya soal listrik, melainkan juga soal masa depan energi nasional yang lebih hijau, mandiri, dan berkelanjutan.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User