Application Name Application Name

Patokan

Sumatera Barat

PADANG — Akademisi Unand Kembangkan Sensor Akustik Pendeteksi Kualitas Kedelai

PADANG — Tim peneliti dan akademisi dari Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat, resmi meluncurkan inovasi teknologi terbaru berupa alat pendeteksi ku

PADANG — Akademisi Unand Kembangkan Sensor Akustik Pendeteksi Kualitas Kedelai

PADANG — Tim peneliti dan akademisi dari Universitas Andalas (Unand), Sumatera Barat, resmi meluncurkan inovasi teknologi terbaru berupa alat pendeteksi kualitas biji kedelai berbasis sensor akustik. Inovasi ini hadir sebagai solusi atas permasalahan klasik industri pertanian nasional yang selama ini bergantung pada pemilahan manual atau pengujian destruktif yang memakan waktu lama. Melalui penerapan gelombang suara dan analisis frekuensi digital, teknologi ini mampu memindai mutu internal biji kedelai secara presisi tanpa merusak sampel yang diuji.

Penemuan inovatif yang digagas oleh akademisi Unand ini dirancang untuk menjawab kebutuhan mendesak para petani, pengepul pascapanen, serta industri pengolahan pangan turunan kedelai seperti produsen tahu dan tempe. Pengujian mutu biji-bijian segar selama ini menjadi tantangan tersendiri karena cacat internal, keretakan mikro, hingga kebusukan bagian dalam sering kali tidak terdeteksi dari kenampakan fisik luar. Dengan hadirnya sensor akustik, proses sortir dapat dilakukan secara otomatis dalam hitungan detik.

Transformasi Pengujian Mutu Pangan Berbasis Sensor

Penggunaan sensor akustik dalam dunia pertanian modern mewakili lompatan teknologi yang signifikan di Indonesia. Prinsip kerja alat ini memanfaatkan pantulan gelombang suara atau respons frekuensi akustik saat biji kedelai diberi stimulasi mekanis atau getaran halus. Struktur fisik biji kedelai yang padat dan sehat akan menghasilkan resonansi frekuensi yang berbeda secara signifikan dibanding biji yang keropos, terserang hama, atau memiliki kadar air berlebih di luar standar mutu nasional.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium awal, teknologi ini mampu mencatatkan tingkat akurasi pemilahan mutu hingga 94,5 persen. Angka efisiensi ini jauh mengungguli metode pemilahan visual manual yang selama ini hanya memiliki tingkat presisi sekitar 60 hingga 70 persen, serta sangat rentan terhadap faktor kelelahan manusia (human error).

Parameter Pembanding Metode Visual Manual Teknologi Sensor Akustik Unand
Tingkat Akurasi Pemilahan 60% - 70% 94,5%
Waktu Analisis per Sampel 3 - 5 Menit < 2 Detik
Kondisi Sampel Uji Destruktif (Sebagian biji dipecah) Non-Destruktif (Biji tetap utuh)
Potensi Kesalahan Pemilahan Tinggi (Kelelahan fisik/subjektif) Sangat Rendah (Digital terintegrasi)

Tahapan Pengembangan dan Urutan Implementasi Teknis

Proses terciptanya alat pendeteksi berbasis sensor akustik ini melewati beberapa tahap pengembangan ketat untuk memastikan keandalan fungsi di lapangan. Peneliti membagi proses riset dan komersialisasi ini ke dalam empat fase utama:

  1. Identifikasi Karakteristik Akustik: Pemetaan respons frekuensi gelombang suara pada ribuan sampel varietas biji kedelai lokal maupun impor.
  2. Rancang Bangun Kompartemen Sensor: Integrasi mikrofon sensorik berkepekaan tinggi dengan tabung pengujian yang dirancang kedap terhadap interferensi suara dari luar.
  3. Pengembangan Algoritma Pemrosesan Sinyal: Pembuatan perangkat lunak cerdas untuk memisahkan sinyal suara biji berkualitas tinggi dan biji cacat secara real-time.
  4. Uji Coba Lapangan dan Validasi Komersial: Penerapan alat secara langsung pada jaringan mitra petani dan sentra pengolahan kedelai di wilayah Sumatera Barat.

Potensi Dampak Ekonomi dan Analisis Pakar

Tingginya ketergantungan Indonesia terhadap pasokan komoditas kedelai menuntut efisiensi maksimal pada rantai pasok pascapanen. Inovasi dari Universitas Andalas ini dinilai berpotensi mengurangi kerugian material hingga miliaran rupiah akibat kerusakan biji kedelai selama proses penyimpanan dan distribusi yang tidak terdeteksi secara dini.

"Penerapan teknologi pengujian non-destruktif seperti sensor akustik ini adalah kunci modernisasi sektor pascapanen pertanian kita. Ketelitian dalam menentukan mutu biji sejak awal akan meningkatkan nilai tawar petani sekaligus menjamin kepastian kualitas bagi industri pengolahan pangan," ujar pakar teknologi pertanian dalam evaluasi riset tersebut.

Ke depan, tim riset Unand menargetkan pemodelan alat yang lebih ringkas dan portabel agar mudah dibawa oleh petugas penyuluh lapangan maupun pengepul di tingkat pedesaan. Langkah hilirisasi riset ini diharapkan mendapat dukungan dari Kementerian Pertanian serta industri nasional guna mempercepat kemandirian teknologi pangan dalam negeri.
Peneliti Universitas Andalas (Unand) menghadirkan inovasi pemindai mutu kedelai berbasis gelombang akustik. Alat ini sanggup memilah kedelai berkualitas baik dan cacat hanya dalam waktu kurang dari 2 detik dengan tingkat akurasi hingga 94,5%. Simak ulasan mendalam dan dampaknya bagi industri pangan di Patokan.com

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0
writer6
TENTANG PENULIS writer6

Bacaan Terkait

Comments (0)

User