Olahraga dan Gaya Hidup Katalis Baru Pacu Ekonomi Kreatif Nasional
JAKARTA — Pemerintah kian serius menjadikan olahraga sebagai pengungkit utama bagi pertumbuhan ekonomi kreatif. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut perp...
JAKARTA — Pemerintah kian serius menjadikan olahraga sebagai pengungkit utama bagi pertumbuhan ekonomi kreatif. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyebut perpaduan antara aktivitas fisik, gaya hidup, dan partisipasi masyarakat mampu melahirkan gelombang baru di sektor kreatif.
Pergeseran Paradigma dari Sekadar Kompetisi
Dalam sebuah diskusi strategis di Jakarta, Riefky menjelaskan bahwa olahraga tidak lagi bisa dipandang hanya sebagai adu keterampilan atau pencetakan prestasi. ”Saat ini, lari pagi di car free day, bersepeda bersama, atau mengikuti kelas yoga di taman bukan semata-mata soal kesehatan. Di balik itu, ada ekosistem bisnis yang melibatkan produk fesyen, kuliner, pernak-pernik digital, hingga jasa pelatih pribadi,” ujarnya. Perubahan perilaku ini menuntut keterlibatan lintas sektor agar nilai tambahnya tidak tercecer.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan subsektor fesyen menyumbang sekitar 17 persen dari Produk Domestik Bruto Ekonomi Kreatif pada dua tahun terakhir, sementara kuliner mencapai lebih dari 40 persen. Kedua subsektor tersebut sangat terkait dengan tren gaya hidup aktif. Makanan sehat untuk pelaku olahraga, pakaian khusus lari dengan desain lokal, hingga aplikasi penghitung kalori kini menjadi lahan subur bagi para kreator.
Membangun Habituasi dan Ekosistem Partisipatoris
Riefky menekankan kunci sukses pendekatan ini adalah membangun habituasi. ”Kalau masyarakat merasa olahraga adalah bagian dari keseharian yang menyenangkan, bukan beban, mereka akan terus mengkonsumsi produk dan layanan kreatif yang mendukungnya,” kata dia. Pemerintah pun mendorong penyelenggaraan acara seperti festival lari, turnamen e-sport, hingga sport tourism di berbagai daerah yang dirangkai dengan pasar kuliner dan produk UMKM.
Lebih jauh, partisipasi publik menjadi elemen krusial. Dengan makin banyaknya komunitas sepeda, klub hobi basket, atau grup zumba, rantai permintaan terhadap jasa penyelenggara acara, pembuatan konten media sosial, hingga desain kaos komunitas ikut melesat. Kementerian mencatat setidaknya terdapat 3.000 komunitas olahraga rekreasi aktif yang bisa menjadi simpul distribusi produk kreatif.
Sinergi Event dan Digitalisasi
Sebagai contoh konkret, Riefky menyoroti gelaran maraton di Mandalika yang berhasil menggerakkan lebih dari 700 pelaku usaha kreatif lokal. Mereka memasarkan makanan tradisional, cindera mata, hingga paket wisata. ”Transaksi yang terjadi dalam satu pekan event itu bisa mencapai belasan miliar rupiah. Ini menunjukkan betapa olahraga bisa menjadi magnet ekonomi yang luar biasa jika dikemas dengan baik,” ungkapnya.
Digitalisasi juga menjadi akselerator. Platform daring kini tidak hanya menjual tiket event, tetapi juga menyediakan program latihan, konsultasi nutrisi, dan forum diskusi yang mempertemukan atlet amatir dengan para ahli. Dari sinilah muncul pekerjaan baru seperti pelatih virtual, desainer menu sehat, dan pengembang aplikasi kebugaran yang semuanya masuk dalam cakupan ekonomi kreatif.
Tantangan dan Langkah Strategis
Meski prospeknya cerah, sejumlah tantangan masih menghadang. Pertama, belum meratanya infrastruktur olahraga di daerah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Kedua, rendahnya literasi finansial pelaku usaha kecil sehingga kesulitan mengakses pembiayaan. Ketiga, perlu standardisasi agar produk kreatif berbasis olahraga memiliki daya saing global.
Untuk itu, Kementerian akan memperkuat Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dalam membangun tempat olahraga yang juga berfungsi sebagai ruang kreatif. ”Kami akan memastikan setiap stadion atau sport center baru dilengkapi dengan area komersial bagi produk-produk buatan anak bangsa,” tambah Riefky. Di sisi lain, inkubasi wirausaha berbasis sport lifestyle terus diperluas agar para kreator bisa naik kelas.
Proyeksi Kontribusi dan Penutup
Berdasarkan pemodelan Kementerian, apabila sinergi antara olahraga dan ekonomi kreatif berjalan optimal, kontribusi sektor ini terhadap PDB nasional bisa bertambah 1,2 persen dalam lima tahun mendatang. Angka itu setara dengan lebih dari 200 triliun rupiah tambahan nilai ekonomi. ”Ini bukan mimpi. Kita sudah melihat benih-benihnya. Tinggal bagaimana kita merawat dan mempercepat pertumbuhannya,” tegas Riefky.
Dengan menjadikan gaya hidup aktif sebagai gerakan kolektif, Indonesia diyakini dapat mereplikasi sukses beberapa negara yang menggabungkan sport tourism dan budaya lokal. Lebih dari sekadar angka, pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan jutaan lapangan kerja baru dan memperkuat identitas bangsa di panggung global.
Comments (0)