Oknum Polisi Polda Aceh Terseret Penangkapan Kasat Narkoba Tangsel

Lingkaran penegakan hukum di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali dihadapkan pada ujian integritas yang serius. Bareskrim Polri mengonfirmasi bahwa operasi penindakan internal yang merek...

Jul 28, 2026 - 07:36
0 0
Oknum Polisi Polda Aceh Terseret Penangkapan Kasat Narkoba Tangsel

Lingkaran penegakan hukum di tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali dihadapkan pada ujian integritas yang serius. Bareskrim Polri mengonfirmasi bahwa operasi penindakan internal yang mereka lakukan tidak hanya berujung pada diamankannya Kepala Satuan Reserse Narkoba Polres Tangerang Selatan, melainkan juga menjerat seorang personel dari Kepolisian Daerah Aceh. Dua penangkapan yang terjadi dalam rentang waktu berdekatan ini memperlihatkan adanya benang merah yang sedang ditelusuri oleh penyidik tingkat pusat.

Kronologi Penindakan Internal

Penangkapan terhadap AKP Pardiman, yang menjabat sebagai Kasat Resmarkoba Polres Tangerang Selatan, menjadi pemicu awal terbukanya rangkaian investigasi yang lebih luas. Pardiman diduga terlibat dalam pelanggaran serius yang berkaitan langsung dengan tugas pokoknya dalam memberantas peredaran gelap narkotika. Tidak berselang lama setelah pengamanan tersebut, tim penyidik Bareskrim kembali melakukan penangkapan terhadap seorang anggota aktif yang bertugas di wilayah hukum Polda Aceh. Langkah cepat ini menandakan bahwa kasus yang menjerat keduanya memiliki keterkaitan operasional yang tidak dapat dipisahkan.

Sumber internal kepolisian mengungkapkan bahwa operasi penangkapan dilakukan secara terpisah namun terkoordinasi. Pardiman diamankan di wilayah hukum Polda Metro Jaya, sementara personel Polda Aceh tersebut dijemput oleh tim khusus yang diterjunkan langsung ke Banda Aceh. Pengamanan lintas provinsi ini memerlukan perencanaan matang agar tidak terjadi kebocoran informasi yang dapat menggagalkan proses hukum.

Pola Keterlibatan yang Sedang Didalami

Fokus penyelidikan Bareskrim saat ini tertuju pada dugaan keterlibatan kedua oknum dalam jaringan yang memanfaatkan kewenangan jabatan untuk kepentingan yang bertentangan dengan hukum. Sebagai pemimpin satuan narkoba di tingkat resor, Pardiman memiliki akses terhadap informasi strategis mengenai operasi pemberantasan, data target, serta pola distribusi narkotika di wilayah Tangerang Selatan yang merupakan salah satu kawasan dengan tingkat peredaran gelap yang tinggi.

Adapun keterlibatan personel Polda Aceh membuka dimensi baru dalam penyelidikan ini. Aceh, dengan posisi geografisnya yang strategis di jalur Selat Malaka, selama ini dikenal sebagai salah satu pintu masuk peredaran narkotika dari luar negeri. Dugaan awal mengarah pada kemungkinan adanya koordinasi lintas wilayah yang melibatkan kedua oknum tersebut dalam memfasilitasi atau melindungi aktivitas ilegal yang seharusnya mereka berantas.

Pernyataan Resmi dan Langkah Propam

Divisi Profesi dan Pengamanan Polri bersama Bareskrim menyatakan komitmennya untuk menuntaskan kasus ini secara transparan. Pemeriksaan intensif terhadap kedua tersangka terus berlangsung untuk mengungkap apakah tindakan mereka merupakan inisiatif individual atau bagian dari jaringan yang lebih terstruktur. Polda Metro Jaya dan Polda Aceh telah diminta untuk memberikan akses penuh kepada tim penyidik pusat, termasuk penyerahan dokumen operasional dan data komunikasi yang relevan.

Kedua oknum polisi tersebut kini ditahan di fasilitas khusus milik Bareskrim untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Mereka dijerat dengan pasal berlapis yang mencakup pelanggaran Undang-Undang Narkotika serta Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi apabila terbukti adanya unsur penerimaan imbalan dalam menjalankan aksinya. Ancaman hukuman maksimal yang dapat dijatuhkan mencapai pidana penjara seumur hidup atau bahkan pidana mati.

Reaksi dan Implikasi Kelembagaan

Penangkapan ganda ini menimbulkan gelombang keterkejutan di kalangan internal Polri, terutama mengingat salah satu tersangka merupakan pejabat inti di satuan narkoba yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam memerangi kejahatan luar biasa tersebut. Sejumlah pihak menilai bahwa peristiwa ini harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan mekanisme penempatan personel di posisi-posisi strategis.

Komisi Kepolisian Nasional melalui juru bicaranya menyatakan akan memantau perkembangan kasus ini secara ketat. Mereka mendesak agar Bareskrim tidak berhenti pada penindakan terhadap dua orang ini saja, melainkan terus mengembangkan penyelidikan hingga ke akar permasalahan. Publik pun menaruh harapan besar agar kasus ini menjadi bukti nyata bahwa Polri mampu membersihkan tubuhnya sendiri dari oknum-oknum yang menodai marwah institusi.

Lanskap Pemberantasan Narkoba Pasca Penangkapan

Dengan ditangkapnya Pardiman, Polres Tangerang Selatan untuk sementara waktu harus merotasi kepemimpinan di satuan narkobanya. Polda Metro Jaya telah menunjuk seorang pejabat sementara untuk memastikan bahwa kegiatan operasional pemberantasan narkoba di lapangan tidak mengalami kekosongan. Sementara itu, personel Polda Aceh yang turut diamankan juga akan segera digantikan posisinya setelah melalui proses administrasi internal.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kejahatan narkotika telah merasuk hingga ke level penegak hukum yang seharusnya menjadi benteng pertahanan terakhir. Kolaborasi antara oknum dari dua wilayah yang berbeda menunjukkan bahwa jaringan ini beroperasi dengan perhitungan matang dan memanfaatkan celah-celah koordinasi antarwilayah hukum.

Bareskrim Polri menegaskan bahwa proses hukum akan berjalan tanpa kompromi. Identitas lengkap personel Polda Aceh yang ditangkap akan segera diumumkan setelah seluruh prosedur administrasi dan pemberitahuan kepada keluarga rampung dilakukan. Publik diimbau untuk tetap mempercayakan penanganan kasus ini kepada jalur hukum yang berlaku dan tidak terpancing pada spekulasi-spekulasi yang dapat mengganggu proses penyelidikan yang tengah berlangsung secara intensif.

Perkembangan kasus dalam beberapa hari ke depan akan sangat menentukan sejauh mana benang kusut ini dapat terurai. Transparansi menjadi kunci utama bagi Polri untuk mempertahankan kepercayaan masyarakat yang sempat terusik oleh deretan kasus yang melibatkan aparat penegak hukum dalam pusaran kejahatan yang seharusnya mereka perangi.

What's Your Reaction?

Like Like 0
Dislike Dislike 0
Love Love 0
Funny Funny 0
Wow Wow 0
Sad Sad 0
Angry Angry 0

Comments (0)

User