NTT — Basarnas Konfirmasi 70 Meninggal dan 132 Luka Gempa

Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) secara resmi memperbarui data korban akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Hing

Aug 18, 2026 - 19:58
0 0
NTT — Basarnas Konfirmasi 70 Meninggal dan 132 Luka Gempa

Badan Search and Rescue Nasional (Basarnas) secara resmi memperbarui data korban akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Hingga laporan terakhir, jumlah korban meninggal dunia mencapai 70 orang, sementara korban luka-luka bertambah menjadi 132 orang. Angka tersebut terus mengalami perubahan seiring dengan proses identifikasi dan pencarian yang masih dilakukan di sejumlah titik terdampak, terutama di wilayah Manggarai dan sekitarnya.

Korban Jiwa Bertambah, Tim SAR Percepat Evakuasi

Gempa bumi dengan kekuatan signifikan tersebut terjadi pada kedalaman dangkal yang memperkuat guncangan di permukaan. Pusat gempa dideteksi berada di daratan wilayah Manggarai, sehingga dampaknya terasa sangat kuat di permukiman padat penduduk. Akibatnya, tidak hanya menelan korban jiwa dan luka, gempa ini juga menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur vital dan ribuan unit rumah warga.

Tim SAR gabungan yang terdiri dari personel Basarnas, TNI, Polri, serta relawan terus berupaya melakukan evakuasi dan pencarian di lokasi-lokasi yang terisolir. Beberapa desa di wilayah pegunungan dilaporkan sulit dijangkau karena longsor yang menutupi akses jalan utama. Kondisi tersebut memaksa tim evakuasi untuk menggunakan jalur alternatif bahkan berjalan kaki guna mencapai kawasan yang membutuhkan bantuan medis dan logistik segera.

"Kami mendapatkan laporan terkonfirmasi bahwa hingga saat ini ada 70 korban meninggal dunia dan 132 orang mengalami luka-luka. Tim SAR masih berada di lapangan untuk memastikan tidak ada korban yang tertinggal di reruntuhan bangunan," ujar Kepala Pusat Data dan Informasi Basarnas dalam keterangan resmi.

Kerusakan Infrastruktur dan Gangguan Aktivitas Masyarakat

Dampak gempa tidak terbatas pada korban jiwa saja. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan berat, mulai dari rumah tinggal sederhana hingga fasilitas umum seperti sekolah dan balai desa. Jaringan listrik di beberapa kecamatan mengalami pemadaman total akibat tower distribusi yang roboh, sementara akses jalan provinsi dan jalan desa terputus di beberapa titik akibat longsor dan retakan tanah yang cukup besar.

Aktivitas masyarakat di wilayah terdampak secara signifikan terhenti. Banyak warga yang memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti halaman gereja, lapangan terbuka, dan tenda pengungsian darurat yang didirikan oleh tim tanggap bencana. Kementerian Sosial bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah mendistribusikan bantuan logistik pertama berupa makanan siap saji, air bersih, selimut, dan tenda darurat, meskipun kondisi medan yang sulit memperlambat distribusi ke daerah terpencil.

Rumah sakit umum daerah dan puskesmas di wilayah terdekat dengan episentrum gempa dilaporkan kewalahan menangani pasien. Dari 132 korban luka, sebagian mengalami trauma berat dan patah tulang akibat tertimpa bangunan, sementara yang lain menderita luka ringan dan sesak napas karena debu reruntuhan. Tim medis dari daerah tetangga telah dikerahkan untuk memperkuat layanan kesehatan di posko-posko medis darurat yang didirikan di sepanjang jalur evakuasi.

Respons Pemerintah dan Upaya Penanganan Darurat

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur segera menetapkan status tanggap darurat bencana untuk mempercepat koordinasi penanganan. Gubernur NTT menginstruksikan seluruh jajaran pemerintahan daerah di wilayah terdampak untuk membuka posko pengungsian, menyediakan kebutuhan dasar, serta memonitor kondisi geologi yang masih dinamis. Peringatan dini untuk gempa susulan juga disampaikan kepada masyarakat agar tetap waspada dan tidak menginap di dalam bangunan yang retak atau rapuh.

Basarnas menerjunkan personel khusus dengan peralatan berteknologi tinggi, termasuk rescue dog atau anjing pelacak, untuk membantu mencari korban yang mungkin masih terjebak di bawah puing-puing. Helikopter juga dikerahkan untuk menjangkau daerah-daerah terisolir yang tidak bisa dicapai melalui jalur darat. Upaya ini dilakukan mengingat waktu emas dalam pencarian dan pertolongan korban bencana sangat menentukan tingkat kelangsungan hidup korban yang tertimbun.

  • 70 korban meninggal dunia telah dikonfirmasi oleh Basarnas hingga laporan terakhir.
  • 132 orang mengalami luka-luka, dengan sebagian besar dirawat di RSUD dan posko medis darurat.
  • Kerusakan infrastruktur meliputi rumah warga, jalan, jaringan listrik, dan fasilitas umum.
  • Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian di daerah terisolir.
  • Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat distribusi bantuan.

Meskipun data sementara sudah dirilis, pihak berwenang menyadari bahwa angka korban masih berpotensi bertambah mengingat komunikasi dengan beberapa wilayah pedalaman terputus dan belum seluruhnya pulih. Masyarakat dihimbau untuk tidak menyebarkan informasi yang tidak terverifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan yang berlebihan di tengah upaya penanganan darurat yang sedang berlangsung.

Kejadian gempa di NTT kali ini menjadi peringatan keras tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah-wilayah rawan gempa. Para ahli geologi menekankan perlunya evaluasi kembali standar bangunan tahan gempa, terutama di daerah-daerah dengan aktivitas sesar aktif. Sementara itu, proses rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan akan membutuhkan waktu dan anggaran yang tidak sedikit mengingat luasnya area yang mengalami kerusakan dan jumlah korban yang signifikan.

Dalam kondisi darurat ini, solidaritas dari berbagai pihak menjadi sangat penting. Banyak pihak swasta, organisasi nonpemerintah, dan masyarakat umum telah mulai menggalang bantuan untuk korban gempa NTT. Namun, koordinasi yang ketat dengan pemerintah dan tim SAR tetap diperlukan agar distribusi bantuan dapat tepat sasaran dan tidak mengganggu mobilitas tim evakuasi di lapangan.