NEW DELHI — Putin dan Xi Jinping Hadiri KTT BRICS di India
Ibu kota India, New Delhi, berubah menjadi benteng keamanan tingkat tinggi seiring dibukanya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS tahunan yang berlangsung
Ibu kota India, New Delhi, berubah menjadi benteng keamanan tingkat tinggi seiring dibukanya Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS tahunan yang berlangsung selama dua hari. Baliho raksasa yang menampilkan Perdana Menteri Narendra Modi menghiasi setiap sudut jalan utama kota, menyambut kehadiran para pemimpin dunia. Namun, di balik kemegahan penyambutan tersebut, perhelatan geopolitik terbesar tahun ini dibayangi oleh krisis global yang kian memanas, mulai dari kecamuk perang di Timur Tengah dan Ukraina, gejolak perdagangan internasional, hingga fluktuasi harga minyak dunia.
KTT ini menjadi panggung penting bagi kehadiran Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Kehadiran Xi Jinping tercatat sebagai kunjungan perdana sang Presiden Tiongkok ke India sejak tahun 2019, menandai langkah paling signifikan dalam proses pencairan hubungan bilateral kedua negara setelah insiden bentrokan militer mematikan di perbatasan perbatasan Himalaya enam tahun silam.
Babak Baru Hubungan Tiongkok dan India
Hubungan antara dua raksasa nuklir Asia ini perlahan mulai menghangat kembali setelah mengalami masa-masa paling dingin dalam sejarah modern. Pemulihan penerbangan komersial, pembukaan kembali jalur visa, serta peningkatan kontak diplomatik tingkat tinggi secara bertahap terus dilakukan oleh New Delhi dan Beijing. Langkah diplomasi ini diambil guna meredakan ketegangan yang sempat melumpuhkan kerja sama ekonomi kedua negara.
Meski demikian, rasa saling curiga yang mendalam masih membayangi. Sengketa wilayah perbatasan yang belum terselesaikan, defisit perdagangan India yang kian melebar terhadap Tiongkok, serta persaingan strategis di kawasan Indo-Pasifik tetap menjadi kerikil tajam yang menyulitkan normalisasi penuh. Menyambut kedatangan para pemimpin, PM Narendra Modi menyampaikan pesan tersirat melalui kutipan bahasa Sanskerta di media sosialnya.
"Seseorang seharusnya hanya berdebat dan bersahabat dengan mereka yang berbudi luhur, dan tidak sama sekali dengan mereka yang tidak berbudi luhur," tulis Perdana Menteri Narendra Modi.
Pesan tegas namun diplomatis tersebut menggarisbawahi komitmen India dalam menjaga prinsip kedaulatan serta kehati-hatian dalam menjalin aliansi strategis di tengah dinamika dunia multipolar.
Poros Energi Rusia-India dan Isu Geopolitik Timur Tengah
Di samping Tiongkok, sorotan utama juga tertuju pada dialog bilateral antara PM Modi dan Presiden Vladimir Putin. Moskow tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu mitra strategis terpenting bagi New Delhi, terutama dalam sektor pertahanan dan energi. India berhasil mengatasi dampak krisis energi global—yang dipicu oleh ketegangan di Timur Tengah—dengan mengamankan pasokan minyak mentah berdiskon dari Rusia, yang menjadikannya sebagai salah satu pemasok bahan bakar paling krusial sekaligus kontroversial dalam beberapa tahun terakhir.
Kehadiran Presiden Iran Masoud Pezeshkian di New Delhi semakin menambah bobot geopolitik perhelatan ini. Dalam pertemuan terpisah dengan Modi, agenda pembicaraan difokuskan pada stabilitas kawasan serta keamanan jalur perdagangan maritim.
| Negara & Pemimpin | Fokus Utama & Agenda Strategis |
|---|---|
| India (Narendra Modi) | Ketahanan energi, perimbangan kekuatan regional, dan efisiensi perdagangan perbatasan. |
| Rusia (Vladimir Putin) | Penguatan jalur ekspor energi dan konsolidasi aliansi non-Barat. |
| Tiongkok (Xi Jinping) | Normalisasi hubungan diplomatik dengan India dan penguatan pengaruh ekonomi global. |
| Iran (Masoud Pezeshkian) | Diplomasi ketahanan energi serta penanganan dampak konflik Timur Tengah. |
Ketegangan geopolitik di kawasan Teluk menjadi tantangan berat bagi konsistensi aliansi ini. Pengamat geopolitik ternama, Harsh V. Pant, memberikan pandangannya terkait potensi gesekan internal di tubuh BRICS.
"Konflik Teluk akan menjadi garis retakan utama kali ini selama KTT BRICS," tegas Harsh V. Pant saat menganalisis arah diplomasi para anggota kelompok tersebut.
Perluasan Blok dan Tantangan Solidaritas BRICS
Didirikan pada tahun 2009, BRICS awalnya dibentuk sebagai forum bagi negara-negara berkembang utama guna menuntut pengaruh yang lebih besar dalam lembaga-lembaga keuangan serta politik yang selama ini didominasi oleh kekuatan Barat. Seiring berjalannya waktu, kelompok ini mengalami perluasan keanggotaan secara agresif.
Masuknya anggota baru seperti Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab membawa warna baru sekaligus kompleksitas diplomatik yang tinggi. Ketiga negara tersebut memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda secara tajam terkait eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah sejak Februari lalu. Keanekaragaman sudut pandang ini menguji sejauh mana BRICS dapat merumuskan resolusi bersama tanpa terjebak dalam perpecahan internal.
Dengan penjagaan ketat aparat keamanan di seluruh penjuru New Delhi dan pembatasan lalu lintas yang meluas, KTT BRICS ini menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan diplomasi India. New Delhi dituntut untuk piawai menavigasi kepentingan ekonomi dan keamanan nasionalnya di antara kekuatan-kekuatan besar dunia yang saling berseberangan.




Comments (0)